Tampilkan postingan dengan label Sabu. Tampilkan semua postingan

Dinamika Kepri, Medan - Kapolda Sumut Irjen Pol. Drs. Martuani Sormin M.Si memimpin press release tentang pengungkapan Narkotika dengan Barang Bukti (BB) sebanyak 35 Kilogram (Kg) jenis sabu oleh Polrestabes Medan dengan satu tersangka ditindak tegas dan terukur.

Saat press release, Kapolda di dampingi Dir Narkoba Polda Sumut, Kabid Humas, Kabid Labfor, Karumkit TK II Medan, Kapolrestabes Medan dan dihadiri oleh para awak media di Depan Ruang Jenazah Rumkit Bhayangkara TK ll Medan, Selasa (2/6/2020) siang pukul 13.00 Wib.

Dalam pelaksanaan press release ini Kapolda Sumut mengapresiasi kinerja Kapolrestabes Medan beserta jajarannya yang sudah bekerja keras mengungkap peredaran Narkotika di Sumut.

“Ada dua tersangka dalam kasus ini, namun satu di antaranya berinisial DS, kita berikan tindak tegas dan terukur akibat melawan petugas saat akan ditangkap,” jelas Kapolda Sumut.

"Sementara untuk tersangka inisial IL telah kita amankan beserta dengan barang bukti yaitu 35 Kg Sabu yang dikemas dengan bungkus teh cina berwarna hijau," lanjutnya.

Selain itu, Kapolda Sumut juga berharap  kepada para awak media dan masyarakat khususnya agar mau membantu pemerintah dalam memberantas peredaran Narkotika di Sumut dengan turut ambil andil yakni memberikan informasi kepada polisi atau segera melaporkannya ke kantor polisi terdekat.

Kapolda Sumut juga mengatakan bahwa dari keseluruhan barang bukti yang diamankan tersebut, telah menyelamatkan sebanyak 350 ribu orang generasi muda. (Ril/FB: PS)

Ilustrasi foto sabu. (F/hellosehat.com)

Dinamika Kepri, Batam - Kedapatan bawa sabu 0,52 gram, Khairul dan Azwani disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Batam, Selasa (30/4/2019).

Pada sidang kedua ini, Jaksa Penunut Umum (JPU) Kadek Agus AW menghadirkan saksi penangkap (polisi=red) dan 1 orang saksi pemilik sepeda motor yang merupakan kenalan dari salah satu terdakwa.

Saksi penangkap mengatakan, kedua terdakwa asebelumnya ditangkap saat berada di Lorong Samping Hotel Hana, Nagoya, Lubuk Baja, Batam.

Penangkapan itu dilakukan kata saksi yakni berdasarkan laporan dari masyarakat. Dari hasil pemeriksaan setelah diamankan, dari Khairul Yasin polisi menemukan satu bungkus Narkotika jenis sabu seberat 0,52 gram.

"Kedua terdakwa kami amankan di Lorong Samping Hotel Hana, Nagoya, Lubuk Baja, Batam pada bulan Januari 2019 lalu. Saat diperiksa, dari Khairul Yasin kami menemukan 0,52 gram sabu. Sedangkan dari  Azwani, kami tidak menemukan bukti apapun. Namun uang untuk pembelian sabu itu adalah milik Azwani," kata saksi. 

"Menurut pengakuannya, sabu itu dibeli dari seseorang yang bernama Zidan (DPO) seharga Rp 200 ribu. Rencananya sabu itu akan diantarkan kepada pemesan yang bernama Cina (DPO) dengan harga Rp.500 ribu, lalu untungnya sebesar Rp 300 ribu akan mereka bagi dua," sambung saksi penangkap.

Sedangkan saksi pemilik sepeda motor dalam sidang ini, ia hadir hanya memastikan kepada hakim bahwa sepeda motor yang sebelumnya dipakai kedua terdakwa saat membeli sabu itu dan dijadikan barang bukti dalam perkara itu, adalah miliknya.

Setelah memastikan bukti kepemilikan dengan menujukan STNK dan BPKB ke hakim, majelis lalu hakim memerintahkan jaksa agar segera memberikan barang bukti sepeda motor yang dimaksud itu kepada saksi.     

Atas keterangan polisi dan pemilik sepeda motor tersebut, kedua terdakwa membenarkannya. Setelah usai melakukan pemeriksaan saksi, majelis hakim diketuai hakim Jasael Manulang lalu melanjutkan sidang pada pemeriksaan terdakwa.

Saat ditanya hakim, apa yang membuat terdakwa terlibat dalam peredaran Narkotika, kepada hakim, kedua terdakwa menjawab karena mereka tidak memiliki pekerjaan.

"Karena tidak ada pekerjaan yang mulia, Jika pesanan itu sampai ke pemesan, maka untungnya akan kami bagi dua," jawab terdakwa.

"Jadi kalau tidak bekerja, lantas jadi melawan hukum? Kan masih banyak pekerjaan lain yang halal bisa dilakukan, contohnya bekerja di toko untuk angkat-angkat barang, kan bisa?," kata hakim Jasael.

Setelah usai mendengarkan pengakuan kedua terdakwa, majelis hakim lalu menunda sidang satu minggu ke depan dengan melanjutkan agenda sidang untuk mendengarkan tuntutan JPU terhadap kedua terdakwa.

Sebelumnya, JPU mendakwa kedua terdakwa dengan menggunakan pasal 114 ayat (1) jo pasal 132 Ayat (1) Undang-undang Republik Indonesia Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika, subsidair  pasal 112 ayat (1) jo pasal 132 ayat (1) Undang-undang Republik Indonesia Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika.(Ag)

Terdakwa Budhi, Enda dan Yessi Intan saat sidang di PN Batam.

Dinamika Kepri, Batam - Tiga terdakwa Yulistiani alias Enda, Yessi Intan dan Budhi Hariawan jaringan narkotika Batam-Kendari dengan  yang merupakan jaringan Heri Laonardy alias Cobra dan Hendry alias Apen dengan Barang Bukti (BB) Narkotika jenis sabu 11 Kg, divonis bersalah oleh hakim Pengadilan negeri (PN) Batam, Kamis (25/4/2019).

Terdakwa Yulistiani alias Enda dijatuhi hukuman 14 tahun penjara denda Rp 1 miliar subsidair 6 bulan penjara. Terdakwa Yessi Intan divonis 14 tahun penjara denda Rp 1 miliar subsidair 3 bulan penjara. Sedangkan temannya terdakwa Budhi Hariawan divonis 15 tahun penjara denda Rp 1 miliar subsidair 6 bulan krumgan penjara.

Oleh majelis hakim diketuai majelis hakim yang diketuai hakim Marta disdampingi dua hakim anggota Renni Pitua Ambarita dan Egi Novita, menyatakan ketiga terdakwa terbukti bersalah dan meyakinkan melakukan tindak pidana“Permufakatan jahat tanpa hak melawan hukum menawarkan untuk dijual, menjual, membeli, menerima, menjadi perantara dalam jual beli, menukar atau menyerahkan narkotika golongan I dalam bentuk bukan tanaman yang beratnya melebihi 5 (lima) melanggar Pasal 114 ayat (2) Jo Pasal 132 ayat (1) UU RI No.35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

Baca juga: Miliki BB 11 Kilo Sabu, Dua Terdakwa ini Divonis Ringan di Bawah Tuntutan Jaksa 

Sebelumnya para terdakwa tersebut dituntut Jaksa Karya So Immanuel, Frihesti Putri Gina dan Yan Elhas Zeboea, 20 tahun penjara denda Rp 1 miliar subsider 6 kurungan penjara.

Kendati pemerintah Republik Indonesia saat ini sedang gencar melakukan memerangi peredaran Narkotika di  Indonesia, namun vonis yang dijatuhkan majelis hakim terhadap para terdakwa ini, jauh lebih ringan di bawah tuntutan jaksa.

Terdakwa Heri dan Hendry bersama 2 polisi saksi penangkap saat bersaksi di PN Batam, Rabu (23/1) lalu.
Sebelumnya ketiga terdakwa ditangkap polisi dari Mabes Polri di Batam saat hendak mengirimkan paket 1 kilo sabu melalui TIKI di Nagoya tujuan ke Kendari.

Waktu itu, saat sidang pemeriksaan,  kepada majelis hakim terdakwa Yulistiani alias Enda mengakui dirinya disuruh oleh seorang narapidana di Lapas Perempuan Batam yang bernama Yuyun.

Enda mengatakan ia dipandu Yuyun dengan menggunakan video call. Sedangkan teman satu kamarnya Yessi waktu itu kepada majelis hakim  mengaku tidak tahu menahu soal sabu itu. Bahkan Enda juga mengatakan itu kepada hakim kalau Yessi tidak bersalah dan tidak mengetahui kalau ia sedang bergelut dengan narkoba tersebut.

Baca juga: Pengiriman Sabu Dikendalikan dari Lapas Perempuan Batam? Enda: Saya Dipandu Yuyun Pakai Video Call

" Dia (Yessi=red) tidak tahu soal ini, dia hanya mengantarkan saya ke Tiki, dia mengantar saya naik sepeda motornya," kata Enda.

Namun dengan gencarnya pertanyaan yang dicecar hakim terhadap Yessi, Yessi pun akhirnya mengakui kalau ia mengetahui apa yang dilakukan oleh Enda saat itu.

Sedangkan terdakwa Budhi Hariawan adalah suruhan dari seseorang bernama Sofian yang juga masih bersatus narapidana di Lapas Tanjungpinang.

Dalam hal ini, tugas Budhi waktu itu ialah mamemantau Enda dari jarak jauh saat hendak melakukan pengiriman sabu melalui di Tiki di Nagoya, Batam.

Ketiga terdakwa ini ditangkap dari hasil pengembangan di mana setelah sebelumnya dua terdakwa Heri Laonardy alias Cobra dan Hendry alias Apen ditangkap di Kendari. Dari jaringan ini, polisi mengamankan barang bukti seberat 11 Kilogram sabu.

Terdakwa Heri Laonardy alias Cobra dan Hendry alias Apen sebelumnya pada pada Selasa (23/04/2019) telah divonis bersalah dengan hukuman yang berbeda.

Heri Laonardy alias Cobra divonis 17 tahun penjara, sedangkan Hendry alias Apen 15 tahun penjara dengan masing-masing denda Rp 1 miliar subsidair 6 bulan kurungan penjara.

Kelima terdakwa ini semuanya divonis lebih ringan di bawah dari tuntutan jaksa. Terhadap putusan terhadap Heri Laonardy dan  Hendry, Jaksa Rumondang Manurung kepada majelis hakim diketuai hakim Afrida Yanti, waktu itu menyatakan pikir-pikir. (Ag)

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.