DINAMIKAKEPRI.COM: Opini
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Bisnis Abu-abu Antara Legal dan Ilegal

 

Ilustrasi warna abu-abu.

Dinamika Kepri, Batam - Kita sering mendengar kata Bisnis Abu-abu. Kata bisnis berasal dari kata business (bahasa inggris=red).


Kata tersebut di indonesia merupakan kata merujuk pada pengembangan di bidang usaha. Sedangkan kata abu-abu adalah merupakan kata dari suatu warna.


Abu-abu adalah warna pencampuran antara hitam dan putih. Dilansir Wikipedia bahasa indonesia, abu-abu sebenarnya bukanlah warna, seperti juga hitam dan putih. Abu-abu hanyalah tingkat itensitas warna jika diterjemahkan dalam komposisi hitam-putih.


Kata bisnis dan abu-abu, bila dipisahkan kata perkata, akan memiliki pengertian masing-masing, namun jika kedua kata tersebut digabungkan, maka pengertiannya akan merujuk kepada arti ketidakpastian.


Lalu apa artinya bisnis abu-abu?


Bisnis abu-abu adalah suatu usaha atau bisnis yang dilakukan orang atau perorangan dengan cara antara legal maupun ilegal. 


Bisnis abu-abu adalah usaha yang memiliki legalitas, namun pada yang prakteknya dijalankan tidak sesuai aturan legalitas usaha. (Ag)

Saat Pengutang Ditagih Marah, Itu Tanda Dia Tak Berniat Mengembalikannya

 
Ilustrasi pinjam uang. (F/koinworks.com).

Dinamika Kepri, Batam - Berurusan soal uang memang sangat sensitif. Bukan rahasia umum bahwa saat ini banyak orang yang marah ketika hutangnya ditagih. Ya, pengutang lebih galak dari penagih. Bahkan yang menagih dibuat seperti pengemis. Terkesan aneh, sepertinya hukum alam telah terbalik.

Harusnya, jika pengutang belum dapat mengembalikan pinjamanya, pengutang mestinya meminta maaf ke penagih agar diberikan kelonggaran. Tetapi saat ini tidak, yang mengutang malah lebih galak ditambah lagi sumpah serapahnya. Ingatlah, orang yang marah ketika ditagih utangnya itu karena memang tidak niatnya ada untuk mengembalikannya.

Berbagai alasan akan dikatakan si pengutang supaya hutangnya tidak dibayar. Sadis memang, padahal waktu datang meminjam, begitu sedih dan dramatisnya sekan hari esok akan kiamat

Si pengutang akan memohon sedih supaya diberikan pinjaman, bahkan tak jarang sampai keluar air mata. Namun giliran saat ditagih, si pengutang malah berlagak seperti juragan empang, marah-marah tak tentu arah. Penagih dibuat seperti pengemis, padahal yang menagih datang untuk meminta haknya.

Tapi itu masih mendingan, walaupun galaknya melebihi dari penaggih, tapi yang ngutang bisa ditemui. Bagaimana kalau si pengutang kabur meninggalkan hutangnya? Nah ini yang lebih para, itu namanya sudah masuk kategori si raja tega dan tidak layak ditiru.

Kendatipun si pemberi hutang ada yang mengiklaskannya, namun ingatlah, si pengutang yang kabur  akan mengingat kesalahannya sepanjang hidupnya. Hidupnya tidak akan pernah tenang. Ia akan selalu merasa bersalah dan dikejar bayangan sampai umur hayatnya.

Ngutang ke tetangga, teman atau kekerabat mungkin bisa saja tidak mengembalikan atau kabur karena tidak ada jaminannya. Namun harus diingat, Tuhan tidak pernah tidur, karena karma tetap berjalan sesuai perbuatan. Tanam jagung pasti panen jagung tak mungkin panen padi.

Zaman berubah maka ahklat dan sifat kemanusiaan pun terasa ikut berubah. Zaman ini zaman now . Semuanya berubah. Menghalakan segela cara tanpa memikirkan orang lain.

Jangankan untuk mengembalikan yang dipinjam, kabur meninggalkan hutang, mencuri hak orang lain dan korupsi pun dilakukan sebagian orang.

Perlu diketahui, orang memberikan pinjaman bukan karena banyak uang, akan tetapi karena ada rasa kemanusiannya untuk menolong dan merasa bagaimana jika posisi itu di posisinya. Namun kebaikan banyak disalah artikan.

Saat menerima pinjaman uang dari tetangga, teman atau kekerabat, tentu si pengutang tidak tahu itu uang apa. Karena mungkin saja uang itu persedian si pemberi satu bulan ke depan untuk keperluan beli susu anak, bayar listrik atau beli berasnya.

Nah, bagaimana jika tidak dikembalikan? Apakah pernah berpikir ke arah itu? Sungguh sadislah orang yang tidak membayar hutangnya dan orang itu akan menerima upah dari dosanya.

Lalu bagaiamana memberikan pinjaman dengan aman? Kendatipun memberi atas rasa kemanusiaan tanpa riba, dan seberapapun yang dipinjamkan bahkan siapapun orangnya, baiknya dibuat sifat mengikat dengan pernjanjian tertulis hitam di atas putih bermaterai Rp 6.000 sebagai bukti tujuan untuk antisipasi kalau-kalau sipengutang tidak mau mengembalikan hutangnya agar bisa dipidanakan.

Nah, mengapa waktu meminjam si pengutang memohon dan saat ditagih galak marah-marah? Itu karena tidak ada perjanjian tetulis antara kedua belah pihak. Si pengutang tahu, jika pun ia akan dilaporkan, tentunya tidak cukup bukti untuk menjebloskannya ke penjara.

Pertanyaannya, lantas bagaimana dengan orang yang kabur meninggalkan hutangnya? Jawabnya singkat, walau berat rasanya, pasrah saja, biarlah Tuhan yang berurusan dengannya.

[Surat dari pembaca].

Suhu Politik Jelang Pilkada di Batam Makin Memanas

 
Ilustrasi (F/suaramuslim.net)

Meski Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) masih lama yakni akan digelar pada 23 September 2020 mendatang, namun suhu politik di Kota Batam saat ini begitu sangat terasa panas, seakan pemilihan akan dilakukan minggu depan.

“KPU provinsi, kabupaten/kota akan menyelenggarakan pemilihan gubernur, bupati, dan walikota tahun 2020 sebanyak 270 daerah, dengan rincian sembilan pemlihan gubernur, 224 pemilihan bupati, dan 37 pemilihan walikota,” kata Ketua KPU Arief Budiman dalam rapat di ruang Komisi II, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (8/7/2019) lalu, dikutip dari laman otda.kemendagri.go.id.

Adapun kandidat potensial yang akan maju menuju Batam satu sebagaimana dilansir dilaman wikipedia.org diantaranya, Ketua DPD Partai NasDem Kota Batam Amsakar Achmad yang juga Wakil Wali Kota Batam periode 2016-2021, Mantan Kepala BP Batam periode 2011-2019 dan Mantan Wakil Menteri PPN Indonesia periode 2011-2014 Lukita Dinarsyah Tuwo, Direktur Utama Batam Pos dan Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Kepulauan Riau Candra Ibrahim, Politisi Partai Solidaritas Indonesia Rian Ernest, Politisi Partai Demokrat yang juga Anggota DPRD Kota Batam periode 2009-2019 Helmy Hemilton, dan Tokoh Melayu Zukriansyah Zulkarnain.

Di id.wikipedia.org juga dicantumkan, Walikota petahana, Muhammad Rudi tidak dapat mencalonkan kembali dalam pemilihan kali ini dikarenakan telah menjabat selama dua periode.

Harus diakui, di mana setiap menjelang Pilkada atau Pemilukada maupun Pilpres, suhu politik di indonesia memang selalu memanas. Berbagai upaya diduga akan dilakukan tim lawan politik untuk menjatuhkan rivalnya untuk mendulang suara, dan itu bukan lagi rahasia umum saat ini.

Dalam moment jelang Pilkada biasanya prestasi kinerja maupun kesalahan petahana yang mungkin ada di saat menjabat, akan menjadi trending topik pembahasan baik di media pemberitaan maupun di media sosial, sama halnya seperti di Kota Batam.

Tim pengusung Paslon harusnya menjabarkan apa saja prestasi yang telah dilakukan Paslon yang diusungnya ke masyarakat ketimbang harus mempersoalkan kinerja dari petahana.

Kita tahu sebagai manusia, tentu tidak luput dari kesalahaan, baik itu kesalahan yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Artinya jika pun ada kesalahan, janganlah itu dibuat menjadi senjata untuk menjatuhkan lawan politiknya.

Agar hasilnya baik, berpolitiklah dengan santun, baik dan tidak menyakiti hati siapapun, karena Pilkada adalah merupakan pesta rakyat memilih pemimpin. Bukan memilih karena ada kepentingan maupun tekanan (intervensi) dari siapapun, karena ending dari pemimpin yang terpilih bertujuan untuk mengayomi seluruh rakyat bukan untuk memimpin suatu kelompok atau golongan tertentu.

Maka dari itu, siapapun itu, tim yang mengusung suatu Paslon harus memberikan edukasi kepada masyarakat agar hasilnya baik. Dan yang menjadi catatan penting yang perlu diingatkan, baiknya tidak mencampurkan hal-hal yang menyangkut sara, rasis maupun etnis suku bangsa dalam berpolitik, tujuannya agar kondisi Batam tetap aman, damai dan tentram untuk menuju Batam yang lebih baik.

Penulis: Agus Budi Tambunan.

Setelah Beberapa hari Tutup Total Kini Gelper Buka Lagi, Batam Kembali Bersemi

 
Foto saat polisi melakukan penggerebekan Gelper di bilangan Nagoya, Batam beberapa waktu lalu.

Dinamika Kepri, Batam - Setelah beberapa hari tutup total, kini terpantau arena Gelanggang Permainan (Gelper) Ketangkasan Elektronik di Kota Batam buka lagi khususnya di sekitaran Nagoya, Rabu (6/11/2019).

Sebelumnya pada hari Sabtu malam tanggal 2 November 2019 lalu, terlihat seluruh Gelper di Kota Batam tutup total.

Hal itu terjadi diduga lantaran adanya seseorang yang bernama Herman telah menjadi korban penusukan terkait Gelper hingga korban menjalani perawatan di RS Budi Kemuliaan, Batam.

Pantuan awak media ini pada Rabu malam tanggal 6 November 2019 di sekitaran Nagoya, Batam, Kepri, terlihat lokasi parkiran di setiap lokasi Gelper tampak penuh sesak dengan kendaraan yang terparkir.

Banyaknya kendaraan motor tersebut menunjukan bahwa suasana malam di Batam kembali bergairah dan bersemi dengan bukanya arena Gelper.

Lampu warni-warni  di pintu masuk Gelper terlihat kelap-kelip bak mirip lampu di warung remang-remang dengan pintu kaca dihiasi gambar Pokemon, Naruto dan gambar tokoh gambar kartun lainnya

Padatnya pengunjung tentunya membuat sipengelola Gelper akan meraup keuntungan yang besar tanpa memikirkan dampaknya terhadap masyarakat.

Saat ini, akibat bukanya Gelper, terdekteksi banyak kaum bapak yang lupa pulang karena asyiknya bermain Gelper, dan tak sadar karena asyiknya, uang dalam dompetnya habis tidak terasa, kesannya seakan tak perduli keluarga yang setia menunggunya di rumah. Bagaimana tidak, Gelper buka sampai pagi.

Saat main mengharap peruntungannya, para pemain Gelper terlihat mengeluarkan uangnya dari dompet seperti tak berseri. Isi! begitu teriaknya ke wasit, namun setelah uangnya habis, wajahnya terlihat seperti minta dikasihani.

Sebelumnya pada 8 Oktober 2019 yang lalu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Batam pernah meminta kepada Pemerintah Kota (Pemko) Batam untuk menutup Gelper, namun sampai saat ini tidak ada realisasinya.

Selain itu, anggota DPRD Kota Batam juga sepakat dan mendukung Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Batam tentang permintaannya kepada Pemerintah Kota (Pemko) Batam untuk menutup Gelanggang Permainan (Gelper) secara permanen di Batam. Ya, sepakat dan mendukung, namun tidak terlihat ada langkah upaya untuk menutupnya. (Ag)

Menilik Geliat Gelanggang Permainan di Batam, Tips: Bermainlah di Lokasi Berizin

 
Foto: Lokasi Gelper berizin di salah satu Mall di Batam.

Dinamika Kepri, Batam  – Gelanggang Permainan (Gelper) Elektonik kini kian marak di Batam. Ada yang melakukannya di kawasan pertokoan, Mall, Hotel maupun di kawasan pemukiman warga. Bisnis usaha Gelper saat ini di Batam sepertinya memberikan prospek baik untuk berinvestasi.

Dari penelusuran awak media ini, kini arena Gelper di Batam menjamur bak cendawan di hujan. Dari Kota hingga ke pemukiman warga, arena Gelper bisa dengan mudah ditemukan.

Izin Gelper ini sendiri dikeluarkan oleh pemerintah Kota Batam melalui BPM-PTSP. Meski izin untuk permainan anak, namun walau pada prateknya sebagian tidaklah demikian.

Jam operasi Gelper juga berbeda-beda. Meski aturannya sudah jelas, pada kenyataannya tidak semua pengusaha Gelper yang menaatinya, sebab ada sebagian juga lokasi Gelper yang buka sampai 24 jam.

Di sekitaran Nagoya Batam, saat ini terhitung ada puluhan lokasi Gelper yang beroperasi. Tak hanya di sekitar pertokoan dan mall-mall saja, arena Gelper juga dapat ditemukan di sebagian hotel-hotel.

Dalam artikel ini kita tidak membahas indikasi unsur judinya, yang kita jabarkan adalah bagaimana supaya Gelper tersebut supaya benar-benar dapat memberikan kontribusi besar dalam hal peningkatan pajak kepada pemerintah Kota Batam.

Ya, usaha Gelper harusnya ditata dengan baik agar tidak buka tutup, dan persaingan dalam berusaha antar sesama pengusahanya tetap sehat agar tidak menimbulkan dampak sosial di tengah masyarakat maupun mempengaruhi kepariwisataan Kota Batam.

Dalam pengawasannya, harusnya jika ada lokasi Gelper yang buka tanpa izin harus ditutup segera, karena jika tetap dibiarkan, itu akan berdampak merugikan bagi pengusaha Gelper yang memiliki izin usaha.

Satu yang paling soroti awak media ini ialah mengenai mesin-mensin game yang beroperasi setiap di arena Gelper.

Tidak tahu apakah mesin-mesin Gelper itu terdaftar di BPM-PTSP Kota Batam, sebab di salah satu lokasi Gelper di sekitaran Nagoya, terlihat pengelolanya kerap mengonta-ganti jenis mesin game seenak perutnya. Mesin game selalu diganti sesuai permainan yang diminati para pemain.

Selain itu, dalam sistem pembelian koin di setiap lokasi Gelper juga berbeda-beda alias tidak seragam meski izinnya dikeluarkan dari intansi yang sama, di mana ada yang menjual Rp 1000 hingga Rp 2000 perkoinnya, bahkan ada yang juga tidak memakai koin sama sekali.

Selain itu, terpantau bahwa sekarang ini sistem penukaran hadiah di setiap Gelper juga sudah sangat safety. Artinya delik judinya tidak lagi terlihat menyolok seperti dari sebelumnya. Penukaran hadiah sudah jauh dari lokasi Gelper.

Mengenai soal ramainya pengunjung Gelper, itu ditentukan oleh sistem dari pengelolanya itu sendiri. Artinya mesin makin dikunci, maka pengunjung akan makin sepi.

Bagi pemain Gelper juga ada istilah dengan menyebutkan, “ meja makan atau meja puja sera,” yang artinya di Gelper itu tidak ada balancenya, berapapun koin yang dimasukan para pemain ke mesin permainan, semua ditelannya mesin tampa ada ampun. Biasanya lokasi Geper yang seperti itu, sepi pengunjung.

Selain itu, saat ini juga sering terhendus isu jika setiap mesin Gelper bisa diremot oleh pengelolannya bagaimana supaya pemainnya kalah. Ya, begitulah isunya, namun sampai saat ini belum dapat dipastikan soal kebenarannya.

Di Bulan suci ramadhan ini, terpantau Gelper di Batam tutup jam 2 pagi, kecuali di hotel-hotel informasinya masih tetap buka 24 jam.

Nah, jika anda ingin bermain Gelper atau sekedar menghabiskan waktu senggang di Batam, tips amannya ialah bermainlah di lokasi Gelper yang memiliki izin, sebab jika anda bermain game di tempat tidak berizin, kemunkinanya saat asyik bermain bisa saja terkena razia dan mengganggu kenyamanan anda.

Sedangkan ciri untuk mengenali lokasi Gelper yang berizin sangatlah mudah. Cukup melihat lokasinya. Jika lokasinya di tengah kota, bisa dipastikan lokasi gelper itu ada izinnya, bila perlu tanyakan langsung kepada pengelolanya.

Mengakhiri, mengenai soal kalah menang, itu adalah konsekwensi permainan, dan jangan berharap untuk menang, sebab mesinnya dinyalakan pakai listrik dan bayar pajak. Selain itu wasitnya juga cantik-cantik yang pastinya bisa membuat anda betah. (Ag)

Setelah Menyimak, Judi Gelper di Batam Ternyata Mesin Unggul Buat Orang Masuk Penjara

 
Suasana penggerebekan saat dilakukan polisi di salah satu lokasi Gelper di bilangan Nagoya, Batam beberapa waktu lalu.

Dinamika Kepri, Batam - Judi di Gelangang Permainan (Gelper) Elektronik/mikanik, ternyata juga salah satu mesin terunggul untuk menciptakan orang menjadi tahanan, terdakwa ataupun terpidana masuk penjara di Kota Batam.

Tak tanggung, sekali sidang terdakwanya paling sedikit 8 orang. Jadi tak heran, jika saat sidang Gelper digelar di Pengadilan Negeri (PN) Batam, ramainya terdakwa membuat suasana sidang seperti di suasana pasar.

Yang paling parahnya lagi, semua yang diadili hanya pekerja dan pemain Gelper saja. Tak pernah sekalipun bos pemilik Gelper yang diadili.

Mungkin di saat penggerebekan, bosnya lagi di luar kota atau mungkin juga sedang diluar negeri. Walau demikian, para cukong Gelper itu, tetap dijadikan petugas sebagai Daftar Pencarian Orang (DPO).

Melihat banyaknya para terdakwa judi Gelper di setiap sidang, hakim PN Batam juga pernah menyampaikan pesan kepada saksi penangkap agar Gelper di Batam segera ditutup.

"Kepada saudara saksi penangkap, mohon sampaikan pesan saya kepada pimpinan anda, saya mewakili dari PN Batam, meminta agar Gelper di Batam ditutup saja. Malu kita, tolong ya disampaikan kepada pimpinannya, terima kasih," kata hakim Taufik Abdulah waktu itu.

Kembali ke para terdakwa, meski telah banyak yang diadili karena ketahuan melakukan praktek judi di lokasi Gelper, namun tidak ada pihak manapun yang memperhatikan dari sisi dampak sosial yang ditimbulkan bagi para terdakwanya.

Menilik dari sisi sudut pandang yang berbeda, para terdakwa yang diadili itu hanyalah korban dari ketidak adanya tanggung jawab dari sang pengusahanya.

Mereka hanya pekerja yang digaji demi sesuap nasi untuk menghidupi dirinya maupun untuk menghidupi keluargannya, namun apalah daya, diduga karena ketidaktahuannya, berakhir ke dalam penjara.

Para pekerja Gelper seperti kasir dan wasit biasanya adalah para wanita muda, bahkan dari antara mereka juga kebanyakan ibu rumah tangga yang turut serta membantu perekonomian keluarga, begitu katanya.

Dalam pengakuannya saat sidang mengatakan, mereka mengatakan sama sekali tidak mengetahui, jika di tempatnya bekerja itu ada praktek judinya. Tahunya mereka kerja, dapat upah dan memastikan anak-anaknya di rumah bisa makan.

Apalagi mereka yang bekerja sebagai kasir dan wasit itu adalah wanita, dari penelusuran awak media ini, para kasir dan wasit Gelper itu mengaku kebanyakan para kaum janda.

Ya, katanya mereka rela kerja sampai subuh demi untuk menghidupi anak-anaknya, dan tak bisa dibayangkan bagaimana kehidupan anak-anaknya di rumah jika ibunya dijebloskan ke penjara.

Ilustrasinya, ibarat suatu kapal di tengah laut, kasir dan wasit itu bekerja tekun, displin sesuai aturan sang dari kapten. Mereka bekerja giat, namun tidak tahu kalau kapal yang mereka naiki itu adalah kapal perompak (bajak laut) yang sesewaktu bisa saja ditangkap oleh petugas penjaga laut.

Pantuan awak media ini pada sidang-sidang Gelper di PN Batam, saat pemeriksaan terdakwa, hakim kerap menanyakan izin usaha Gelper. Biasanya yang bisa menjawab itu manager Gelper yang jadi terdakwa.

Menurut pengakuan manager Gelper, ada izinnya, tapi izin yang dikeluarkan pemerintah Kota Batam itu katanya adalah untuk permainan anak dan keluarga, bukan izin untuk perjudian.

Dan mirisnya lagi, saat sidang Gelper Hokki Bear Game, hakim juga mempertanyakan tentang izin judi ke terdakwa. Kesannya, pertanyaan yang dilontarkan hakim ke terdakwa, menggiring seakan-akan izin judi bisa diurus.

Kembali ke pantuan, Gelper yang buka di Batam, sama-sama mengakui mengatongi izin permainan anak dan keluarga, hanya saja prakteknya diduga disalahgunakan.

Katanya punya izin permainan anak dan keluarga, tapi hadiahnya rokok. Ya, hadiah rokok ditukar ke uang, begitu prakteknya. Dan itu juga dibenarkan salah seorang terdakwa manager Gelper yang beroperasi di bilangan Mall Lytech, Bengkong sebelumnya, di mana saat sidangnya, kepada hakim ia mengakui bahwa hadiah rokok yang berikan ke pemain itu, hanyalah modus untuk mengalubui petugas.

Selama Gelper marak buka sejak tahun 2018 di Batam, terhitung sudah banyak orang masuk ke penjara, sementara Big bosnya tak pernah disidangkan.

Para pekerja jadi korban, untungnya buat pengusaha dan tak pernah memikirkan dampaknya, karena si pengusaha Gelper tahu, orang-orang yang di penjara karena usahanya itu, nantinya juga akan diberi makan oleh negara. 

Dari begitu banyak sidang Gelper di PN Batam, tak pernah ada bosnya yang disidangkan, dan itu juga pernah dipertanyakan hakim saat sidang.

Selain itu, bukanya Gelper di Batam saat ini, juga tengah menjadi polemik di tengah masyarakat. Ada yang mendukung dan ada yang menolak (prokontra=red).

Yang mendukung mengatakan, tidak ada salahnya Gelper tetap buka asalkan sesuai dengan izinnya. Katanya, dengan adanya Gelper, setidaknya bisa mengurangi pengangguran serta juga dapat meningkatkan perekonomian Batam.

Begitu juga sebaliknya, yang menolak mengatakan, Gelper harus ditutup karena telah banyak membuat orang korban jatuh miskin dan masuk penjara.

Artinya dengan adanya prokontra itu ditengah masyarakat Batam, tinggal bagaimana pemerintah Kota Batam untuk menyikapinya, karena izin untuk permainan anak dan keluarga itu, dikeluarkan oleh pemerintah Kota Batam.

Apakah menunggu sampai banyak korban jatuh, atau menunggu sampai Lapas Tembesi Batam over load menampung tahanan dari kasus Gelper? tidak tahu juga, karena itu adalah kewenangan dan kebijakan daripada Pemko Batam, baik untuk mengizinkan maupun untuk menutupnya. Kita sebagai masyarakat, tentunya hanya bisa menyuarakan, melihat dan menyimak saja.(Ag)
Scroll to top