DINAMIKAKEPRI.COM: Kapushidrosal
Tampilkan postingan dengan label Kapushidrosal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kapushidrosal. Tampilkan semua postingan

Dukung Implementasi Selat Sunda dan Lombok, 1 Juli 2020 Pushidrosal Terbitkan Peta Laut Edisi Terbaru

 
Dukung Implementasi Selat Sunda dan Lombok, 1 Juli 2020 Pushidrosal Terbitkan Peta Laut Edisi Terbaru
TSS Selat Sunda.

Dinamika Kepri, Jakarta, 30 Juni 2020 - Pemerintah Indonesia telah mencatat sejarah sebagai negara kepulauan pertama yang menetapkan Traffic Separation Scheme (TSS) di Selat Sunda dan Selat Lombok, sebagai bagian dari Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI). Hal itu sesuai dengan Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS 1982) yang telah diadopsi oleh IMO dan akan mulai berlaku pada 1 Juli 2020 dalam publikasi IMO COLREG.2/Circular.74 dan SN.1/Circular tanggal 14 Juni 2019.

Kepala Pusat Hidrografi dan Oseanografi TNI AL, Laksamana Muda TNI Dr. Ir. Harjo Susmoro di Mako Pushidrosal, Ancol Timur Jakarta, Senin (29/06/2020) menyampaikan bahwa penetapan TSS di perairan Selat Sunda dan Selat Lombok akan meningkatkan jaminan keamanan dan keselamatan navigasi pelayaran serta perlindungan lingkungan laut disekitarnya.

“Selat Sunda dan Selat Lombok adalah bagian dari empat choke-point yang terletak di Indonesia selain Selat Malaka dan Selat Makassar sebagai jalur pelayaran internasional dari sembilan choke-point yang ada dunia. Selain itu, keberadaan TSS akan mempermudah pemantauan lalu lintas pelayaran yang melewatidua dari sembilan choke-point dunia tersebut,” kata Kapushidrosal.

Terkait dengan implementasi TSS tersebut, Pushidrosal telah menerbitkan Berita Pelaut Indonesia(Notices to Mariners) ID NM Week 40 Oktober 2019 dan juga Peta Laut Indonesia edisi baru baik peta kertas maupun elektronik (Electronic Navigational Charts ) nomor 170 dan 291.

Dari data distribusi peta laut yang ada di Pushidrosal sampai dengan bulan Mei 2020, telah tercatat lebih dari 1500 kapal-kapal di seluruh dunia telah menggunakan peta laut edisi baru tersebut.

Hal ini menunjukan bahwa dunia telah menyadari bahwa TSS Selat Sunda dan Selat Lombok akan segera di implementasikan dalam waktu dekat. Selain itu, Pushidrosal juga telah membantu Ditjen Perhubungan Laut dalam rangka kesiapan operasional VTS dengan memberikan bantuan instalasi peta elektronik serta mentoring pengetahuan nautika khususnya membaca peta laut kepada operator VTS di Selat Sunda dan Selat Lombok.

Kapushidrosal menjelaskan bahwa sebelum diadopsinyaTSS oleh IMO pada Sidang sesi ke-101 Maritime Safety Committeepada tanggal 10 Juni 2019, Pushidrosal telah mempersiapkan rencana penetapan TSS tersebut dengan melaksanakan surveihidrografipada tahun 2016 hingga2017di Selat Sunda dan Selat Lombok.

“Survei tersebut untuk mendapatkan cakupan penuh batimetri dan data hidro-oseanografi lainnya yang diperlukan menggunakan metode dan peralatan modern dari KRI RIGEL 933 dan KRI SPICA 934,tidak hanya untuk bahan studi dan desain TSStetapi juga untuk memberikan tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap navigasi internasional di kedua Selat tersebut,” ujarnya.

Kapushidrosal menambahkan bahwa, cakupan 100% dari survei hidrografi dilakukan untuk memberikan kategori ketelitian tinggi yang dibutuhkan untuk navigasi yaitu Category Zone of Confidence (CATZOC) serta mendukung kebutuhan data guna proses pengkajian dan desain TSS.

Salah satu kajian yang disiapkan sebagai pra-syarat proposal ke IMO dibuat dalam bentukanalisis risiko TSS menggunakan IWRAP (IALA Water Risk Assessment Program) yang dilaksanakan oleh tim teknis delegasi Indonesia yang terdiri dari K/L terkait khususnya Ditjen Perhubungan Laut dan telah disetujui oleh IMO dhi Sub-Committee Navigation, Communication, Search and Rescue pada bulan Januari 2019.

Dukung Implementasi Selat Sunda dan Lombok, 1 Juli 2020 Pushidrosal Terbitkan Peta Laut Edisi Terbaru-2
TSS Selat Lombok.

Selain itu, Pushidrosal juga menyiapkan information paper tentang status referensi datum geodetik Peta Laut Indonesia sebagai materi pendukung proposal tersebut.

Berkaitan dengan meletusnya Gunung Anak Krakatau, Pushidrosal juga telah melaksanakan survei hidrografi lanjutan di Anak Krakatau setelah terjadinya bencana tsunami pada tahun 2018 untuk meyakinkan adanyaperubahan kedalaman yang terkait dengan keselamatan navigasi di sekitar TSS dan ALKI.

“Namun, dari hasil survei hidrografi tersebut tidak ditemukanperubahan kedalaman di sekitar TSS Selat. Perbedaan kedalaman yang ditemukan hanya sampai radius 2 km dari Anak Krakatau yangdisebabkan oleh reruntuhan sebagian dari letusan Anak Krakatau. Selanjutnya, merujuk pada arsip data hidrografi dari beberapa dekade, menunjukkan tidak ada perbedaan kedalaman yang signifikan di sekitar Selat Sunda yang terkait dengan keselamatan navigasi,” jelas Chief Hydrographer Indonesia tersebut.

TSS Selat Sunda dan Selat Lombokyang tergambar secara detail dalam peta lautberfungsi sebagai panduan untuk membantu kapal bernavigasi aman dengan menyediakan batasan alurnavigasi yang jelas dan agar kapalmenghindari perairan dangkal.

Garis pemisah yang terletak di antara dua rute ini juga diharapkan untuk menghindari peristiwa tubrukan antara kapal-kapal yang berlayar dari arah Merak ke Bakaheuni di Selat Sunda dan dari arah Bali ke Lombok di Selat Lombok. Pencegahan tubrukan di area persimpangan tersebut dilaksanakan dengan melalui Daerah Kewaspadaan (Precautionary Area)agar kapal untuk memiliki kesadaran lebih sehingga risiko tubrukan dapat diminimalkan.

“Pushidrosal sebagai lembaga hidrografi nasional selalu siap membantu dan mendukung suksesnya implementasi TSS pada 1 Juli 2020 dengan tersedianya peta laut Peta Laut Indonesia baik format kertas maupun elektronik (ENC) sesuai standar yang telah ditetapkan IMO dalam konvensi SOLAS V 1974, dimana produk tersebut telah tersedia dan terdistribusi di seluruh dunia dan siap digunakan oleh kapal-kapal di seluruh dunia yang akan melewati Selat Sunda dan Selat Lombok sebagai panduan bagi pelaut dalam bernavigasi serta operator VTS dalam melaksanakan tugas monitoring,” tutupnya. (Ril)

Pushidrosal Minta Masyarakat Waspadai Cuaca Ekstrem dan Gelombang Tinggi Serta Rob di Perairan Pantai Samudera Hindia

 
Gambar Grafik pasang surut Benoa 1 sd 27 Mei 2020 (air tinggi 24-25 Mei 2020 saat Bulan mati/Bulan baru) , tinggi air dalam Cm.

Dinamika Kepri, Jakarta, 29 Mei 2020 - Pusat Hidrografi dan Oseanografi TNI AL (Pushidrosal) meminta masyarakat untuk mewaspadai cuaca ekstrem dan gelombang tinggi serta rob di perairan Pantai Samudera Hindia pada akhir mei 2020.

Cuaca ekstrem dan gelombang tinggi tersebut  kemungkinan bisa terjadi lagi di pesisir pulau-pulau Indonesia yang berbatasan dengan Samudera Hindia. Namun demikian, masyarakat diharap tenang dan tetap waspada terhadap kemungkinan dampak yang timbul karena ini merupakan fenomena alam.

Demikian dikatakan Kepala Pusat Hidrografi dan Oseanografi TNI AL (Kapushidrosal) Laksamana Muda TNI Dr. Ir. Harjo Susmoro, S.Sos., S.H., M.H  di Mako Pushidrosal, Ancol Timur, Jakarta Utara, Jumat (29/05/2020), menanggapi fenomena banjir di pesisir dan  gelombang tinggi yang terjadi di Bali dan Lombok siang kemarin.

Menurut Kapushidrosal, gelombang tinggi yang menghantam pantai selatan Bali dan Lombok dan puncaknya pada Kamis, 28 Mei 2020 merupakan fenomena alam yang sumbernya dari dua kejadian berbeda yang secara sekuen terjadi dalam waktu bersamaan, yaitu kejadian angin kencang akibat Topan Amphan di Samudera Hindia Timur Laut yang menimbulkan gelombang tinggi dan tinggi muka air laut di Bali dan Ampenan yang pada saat itu masuk ke periode Spring Tide dimana tunggang air besar (Benoa tercatat 1,5 m dan Lembar 1,2 m).

“Pada saat kejadian gelombang tinggi (28 Mei 2020), bertepatan dengan awal bulan atau kira-kira tanggal 1-5 kalender Hijriah. Kondisi muka laut pada periode ini dikenali dengan beda muka laut yang tinggi yang dikenal dengan Spring Tide. Tercatat beda muka laut pasang dan surut saat kejadian adalah 1,5 m di Benoa dan 1,2 m di Lembar,” kata Kapushidrosal.

Penggunaan tide gauge dengan kebutuhan pengolahan data pasang surut per jam,  tidak selalu dapat merekam kejadian gelombang tinggi yang durasi periode antara 3 sampai dengan 9 detik. Alat perekam yang cocok untuk gelombang adalah wave recorder.

Pushidrosal sebagai Lembaga Hidrografi Nasional yang berkewajiban menyediakan data dan informasi hidro-oseanografi untuk menjamin keselamatan pelayaran, senantiasa menggelar survey hidro-oseanografi di seluruh perairan Indonesia.

“Pushidrosal juga melaksanakan perekaman data gelombang, namun demikian hanya pada saat pelaksanaan survei hidro-oseanografi berlangsung, tidak seperti pasang surut yang diamati dalam periode panjang,” Pungkas Kapushidrosal. (Ril)

Dukung Strategi Pengembangan Pangkalan TNI AL, Pushidrosal Survei Perairan Pacitan

 
Survei hidro-oseanografi di perairan Pacitan Jawa Timur.

Dinamika Kepri, Jakarta - 22 Maret 2002. Kepala Pusat Hidrografi dan Oseanografi TNI AL Laksamana Muda TNI Dr. Ir. Harjo Susmoro menegaskan bahwa hidrografi bukan hanya sekedar peta laut, Hidrografi adalah Kunci Gerbang Perekonomian dan Ujung Tombak Pertahanan Laut Suatu Negara.

Komitmen tersebut diwujudkan antara lain melalui penyelenggaraan operasi Survei dan Pemetaan (Opssurta) Hidros oleh Unit Survei 5 Satsurvei di perairan Pacitan Jawa Timur yang secara geografis menghadap Samudera Hindia dan memiliki potensi sumber daya alam kelautan melimpah untuk menunjang pembangunan nasional.

Menurut Kapushidrosal, Peta Laut Indonesia Perairan Pacitan saat ini merupakan hasil survei Belanda tahun 1831, sehingga sangat urgen dilakukan updating data hidro-oseanografi untuk menjamin keselamatan navigasi pelayaran, pembangunan pelabuhan dan infrastuktur pendukung lainnya.

Disamping itu, pada aspek pertahanan laut membawa konsekuensi pentingnya pembangunan fasilitas pangkalan TNI AL sesuai kebijakan Pimpinan TNI AL yaitu pengembangan Posal Pacitan menjadi Lanal Pacitan.


Surta Hidros yang telah berlangsung separuh waktu dari rencana pelaksanaan 50 hari, telah dilakukan Inspeksi oleh Inspektur Pushidrosal Kolonel Laut (P) Dr. Syahbudi di daerah operasi, dengan tujuan untuk menjamin kesesuaian time line pelaksanaan operasi, ketepatan implementasi metode survei dan akurasi kompilasi data hasil survei Hidros yang meliputi data hidrografi, oseanografi, meteorologi dan geografi maritim.

Rangkaian kegiatan inspeksi meliputi pengecekan langsung di lokasi lahan pembangunan Lanal Tipe D Pacitan yang berdekatan dengan posisi pembangunan titik Hidro Pilar (geodetik).

Selanjutnya kunjungan ke Posko Survei di Pelabuhan Temperan untuk menerima paparan dan evaluasi pelaksanaan survei, pengecekan data hasil survei dan penggambaran Lembar Lukis Lapangan, pengecekan langsung stasiun pasang surut dan wahana survei boat sounding, pengecekan stasiun meteorologi, sarana Bantu Navigasi Pelayaran (SBNP), float tracking dan kunjungan ke Poskamladu.

Irpushidrosal yang didampingi oleh Sahli Jemen Pushidrosal Letkol Laut (P) Iswantono, S.Si, Komandan Unit Survei 5 Letkol Laut (P) Yulianto, MT serta Komandan Posal Pacitan Pelda Totok berkesempatan melakukan kunjungan ke Pemda Kabupaten Pacitan yang diterima langsung oleh Wakil Bupati Pacitan Bapak Drs. H. Yudi Sumbogo, MM.

Secara khusus Wakil Bupati menyampaikan terimakasih atas terlaksananya survei hidros yang diinisiasi oleh Pushidrosal sehingga data hidrografi dan oseanografi  yang diperoleh diharapkan dapat mendukung rencana pembangunan infrastruktur kelautan di Pacitan khususnya Pembangunan Pelabuhan Umum di sisi timur Teluk Pacitan serta berharap kehadiran Lanal Pacitan dapat segera direalisasikan.

Pada kesempatan tersebut sekaligus disampaikan buku dan referensi produk Pushidrosal untuk menambah koleksi sumber ilmu dan pengetahuan di Perpustakaan Daerah Kabupaten Pacitan.

Lebih lanjut Irpushidrosal menyampaikan ungkapan syukur Alhamdulillah dan apresiasi kepada Komandan Unit Survei 5 dan personel pendukung sehingga kegiatan survei dapat terlaksana sesuai dengan Rencana Operasi (RO) Niscala 02-2020.

Dalam arahan santiaji kepada personel Unit Survei 5, disampaikan penekanan agar tetap semangat, bersinergi dan menciptakan tim work yang solid, senantiasa berdoa sesuai agama masing-masing, menjaga kesehatan, memperhatikan faktor keamanan personel dan materiil (zero accident) dalam menuntaskan tugas operasi sampai dengan awal April 2020. (Ril)

Pushidrosal Kerahkan KRI Spica-934 Survei Hidro-Oseanografi di Lintas Laut Strategis Nasional

 
Personel KRI Spica-934.

Dinamika Kepri,  Jakarta, 16 Maret 2020 - Pusat Hidrografi dan Oseanografi TNI AL (Pushidrosal) mengerahkan KRI Spica-934 untuk melaksanakan survei hidro-oseanografi di  area lintas laut strategis nasional yang menghubungkan Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) I dan ALKI II, yaitu di sebelah timur laut Pulau Bawean.

Survei ini dilakukan guna memutakhirkan data di perairan tersebut untuk menjamin keselamatan bernavigasi di sepanjang area lintas laut strategis nasional tersebut  sebagai salah satu wujud tanggung jawab Indonesia sebagai negara kepulauan.

Kepala Pusat Hidrografi dan Oseanografi TNI AL (Kapushidrosal) Laksamana Muda TNI Dr. Ir. Harjo Susmoro menyampaikan bahwa survei hidro-oseanografi yang dilakukan Pushidrosal di sebelah timur laut Pulau Bawean ini bertujuan untuk pemutakhiran dan pengumpulan data Hidro Oseanografi perairan tersebut, Sabtu (16/03/2020).

 “Area tersebut  terpetakan pada Peta Laut Indonesia No. 66 masih merupakan data survei jaman Belanda tahun 1925 yang wajib diperbarui sebagaimana tindak lanjut tuntutan International Maritime Organization (IMO),” Kata Kapushidrosal.

Pushidrosal sebagai pelaksana pemerintah dalam penyediaan peta navigasi pelayaran dan data serta informasi pendukung, secara terstruktur baik secara ruang dan waktu, secara berlanjut melakukan pemutakhiran data dan informas di seluruh perairan Indonesia.

“Salah satu alur pelayaran tersebut yaitu di sebelah timur laut Pulau Bawean yang merupakan area lintas laut strategis Nasional yang menghubungkan ALKI I DAN ALKI II,” jelas Kapushidrosal.

KRI Spica-934.
KRI Spica-934, kapal jenis Multi Purpose Research Vessel (MPRV) dengan komandan Letkol Laut (P) Hengky Iriawan ini, melaksanakan pengukuran kedalamanan laut dengan peralatan MultiBeam Echosounder  EM2040, investigasi bahaya pelayaran, verifikasi SBNP (Sarana Bantu Navigasi Pelayaran), Pengukuran pasang surut, pengukuran pergerakan arus laut dengan menggunakan ADCP, pengukuran parameter Meteorologi dengan menggunakan AWS, pengambilan data CTD (Conductivity Temperature Depth), pengambilan contoh air laut dan dasar laut (Grab Sampling) serta memverifikasi penamaan Geografi (Toponimi).

Agar metode pelaksanaan survei yang dilaksanakan yang sesuai dengan standar IHO (International Hydrographic Organization), Survei ini telah diinspeksi tim Inspeksi Pushidrosal yang di pimpin oleh Koorsahli Pushidrosal Kolonel Laut (P) Amril, ST yang didampingi oleh Wadan Satsurvei Pushidrosal, Letkol Laut (P) Priyo Dwi Saputro, ST untuk mengetahui perkembangan pelaksanaan kegiatan survei dan capaiannya serta berbagai kendala yang dialami selama berlangsungnya Opssurta tersebut. (Ril)

Di Selat Gelasa, Pushidrosal TNI AL Temukan Kabel Bawah Laut Tak Bertuan

 
Kabel bawah laut tak bertuan ditemukan dengan Multibeam Echosounder.

Dinamika Kepri, Jakarta - Pusat Hidrografi dan Oseanografi TNI AL (Pushidrosal) menemukan kabel bawah laut tidak bertuan yang tergelar di perairan Selat Gelasa, Pulau Belitung.

Kabel bawah laut tersebut ditemukan Tim Survei Pushidrosal saat melaksanakan operasi survei dan pemetaan di Perairan Selat Gelasa guna mendukung Multilateral Naval Exercise Komodo 2020 di Pulau Belitung, Rabu (04/03/2020)

Kabel tersebut ditemukan saat tim melakukan pemeruman untuk memperoleh gambaran topografi dasar laut dengan menggunakan Multibeam Echosounder Reson Teledyn T50-P dengan penentu posisi WADGPS POS M/W dan sebagai kontrol vertikal, kedalaman hasil pemeruman dikoreksi terhadap Lowest Low Water Spring (LLWS).

Hasil analisa data pemeruman dengan Multibeam Echosounder, terverifikasi keberadaan kabel laut yang tercantum pada Peta Laut Indonesia nomor 64 edisi Juni 2019 dan terregistrasi di Pushidrosal.

 Selain data kabel laut yang ter-registrasi di Pushidrosal, ditemukan tiga  kabel laut  yang  membujur dari Tenggara ke Barat laut. Penampakan yang konsisten Ketiga kabel laut  tersebut diduga merupakan kabel laut tidak bertuan yang belum disampaikan kepada Pushidrosal dan belum diketahui siapa pemiliknya.

Adanya temuan ini,  Pushidrosal kemudian melakukan penelusuran Database kabel laut yang terdapat di Disnautika Pushidrosal dan tidak diketahui pemilik dari dugaan kabel laut tersebut.

Menurut Kapushidrosal. Laksamana Muda TNI Dr. Ir. Harjo Susmoro dengan adanya temuan kabel laut yang tidak teridentifikasi di data base Pushidrosal tersebut sangat membahayakan untuk aktivitas bernavigasi di laut, karena keberadaannya tidak tercantum dalam Peta Laut Indonesia. Selain itu, keamanan dan keselamatan instalasi kabel bawah laut tersebut juga tidak terjamin.

Gambar skala dekat. Kabel bawah laut tak bertuan ditemukan dengan Multibeam Echosounder.
"Tentang temuan itu Pushidrosal akan berkoordinasi dengan ASKALSI (Asosiasi Sistem Komunikasi Kabel Laut Seluruh Indonesia) mengenai pemilik kabel bawah laut tersebut. Dan selanjutnya agar  kabel laut tersebut dapat terregister di Pushidrosal, dan keberadaanya tercantum dalam peta laut Indonesia, sehingga tidak membahayakan keselamatan pelayaran maupun instalasi kabel bawah laut itu sendiri," kata Kapushidrosal.

Kapushidrosal yang juga merupakan Chief Hydrographer Indonesia ini juga menambahkan bahwa posisi keberadaan kabel bawah laut yang berada di perairan Indonesia belum tertata dengan baik, karena masih banyak yang belum dilaporkan ke Pushidrosal sehingga belum dimasukan ke peta Laut Indonesia.

Lanjut Kapushidrosal, jika kabel tertata dengan baik dan dimasukan di peta laut yang diterbitkan oleh Pushidrosal, maka akan terjaga  dan terhindar dari aktifitas lego jangkar yang dapat menyebabkan dari kemungkinan putus atau patah.

Sebelum mengakhiri, Kapushidrosal mengatakan, bahwa sesuai aturan, setiap bangunan dan instalasi di Laut wajib mengacu pada Peta Laut Indonesia (PLI).

"Hal tersebut sesuai dengan Peraturan Pemerintah No 6 tahun 2020 tentang Bangunan dan Instalasi di Laut, bahwa setiap kegiatan di laut pemrakarsa selain wajib mengacu PLI juga berkewajiban melaporkan kepada Pushidrosal," tutup Kapushidrosal. (Ril)

Negara Kawasan Pasifik Barat Apresiasi Keberhasilan Indonesia di Bidang Hidrografi

 

Konferensi SWPHC di Wollongong Australia

Dinamika Kepri, Wollongong - Negara-negara kawasan Pasifik Barat yang tergabung dalam South West Pacific Hydrographic Commission (SWPHC) mengapresiasi keberhasilan dan kemajuan Indonesia dalam bidang hidrografi.

Apresiasi itu disampaikan dalam Konferensi Hidrografi Regional Pasifik Barat Daya ke -17 atau17th South West Pacific Hydrographic Commission Conference (SWPHC) 12-14 Februari 2020 di Hotel Wollongong North Beach, Wollongong Australia dengan Australian Hydrographic Office (AHO) berlaku sebagai tuan rumah.

Dalam konferensi itu, delegasi Indonesia dipimpin Wakapushidrosal sekaligus sebagai Deputy Chief Hydrographer Laksma TNI Dr. Ir. Trismadi yang hadir mewakili Kapushidrosal Laksamana Muda TNI Dr. Ir. Harjo Susmoro selaku Chief Hydrographer Indonesia yang didampingi oleh Kasubdit Kerja sama Pushidrosal, Letkol Laut (P) Franciscus Asisi Mahendra.

Apresiasi itu diberikan kepada Indonesia dalam hal bahwa Pusat Hidrografi dan Oseanografi TNI AL (Pushidrosal) terkait terlaksananya survei Danau Toba (inland waterways), keberhasilan pembuatan Trafic separation Scheme di selat Sunda dan Selat Lombok, keberhasilan dalam menemukan Cockpit Voice Recorder (CVR) pesawat Lion Air JT-610 di perairan Karawang, pelaksanaan Maritime Safety Information (MSI) Training dan MSI Database Workshop yang merupakan kegiatan capacity Building lintas regional serta bersandarnya kapal Cruise Sun Princess Cruise  milik Carnival Cruise Company baik di pelabuhan gili mas Lombok serta Splendor Cruise di Pelabuhan Benoa Bali karena adanya jaminan Peta Laut yang Akurat.

Konferensi  SWPHC yang diadakan di Wollongong ini merupakan rapat tahunan yang dilaksanakan sebagai bentuk Evaluasi Negara Pasifik barat daya terkait dengan kegiatan survei dan pemetaan di Tahun 2019, sekaligus penyampaian agenda serta rencana kegiatan masing-masing Kantor Hidrografi di Tahun 2020, terutama kegiatan yang berkaitan baik dengan organisasi Hidrografi Internasional (IHO) maupun dengan regional SWPHC sendiri.

Selain itu, juga dilaksanakan sharing experience antara Negara anggota SWPHC dan beberapa pelaku bisnis di Bidang Survey dan pemetaan seperti Fugro, Eomap, Teledyne CARIS, IIC Technologies dan Carnival Cruise yang mana salah satu tujuannya yakni sebagai upaya untuk dapat meningkatkan kemampuan teknis hidrografi dan kartografi dengan mengedepankan teknologi yang disesuaikan dengan tema hari hidrografi Dunia 2020 "Hydrography Enabling Autonomous Technologies".

Dalam salah satu sesi disebutkan adanya peluang serta permintaan untuk dapat menjadikan Labuhan Bajo sebagai salah satu tujuan Wisata yang bias disinggahi oleh kapal Cruise, hal ini cukup sejalan dengan program pemerintah yang menjadikan Labuan Bajo sebagai salah satu destinasi Wisata super prioritas yang nantinya akan dijadikan salah satu Objek Wisata Premium di Indonesia

Untuk peningkatan capacity di Kawasan, Pushidrosal memenawarkan suatu kegiatan Workshop dan Seminar terkait dengan Marine Spatial data Infrastructure (MSDI) yang mana direncanakan akan diselenggarakan pada triwulan ke tiga tahun 2020 oleh Pushidrosal kepada negara anggota SWPHC diharapkan untuk bisa hadir dan berpartisipasi dalam program tersebut.

Selain itu, Pushidrosal juga menawarkan kepada negara anggota SWPHC untuk dapat mengirimkan perwira Angkatan Laut sebagai siswa pada pendidikan kursus hidrografi Cat B dengan sertifikasi IHO dan secara rutin dilaksanakan setiap tahunnya.

Untuk rapat tahunan SWPHC tahun 2021 mendatang, itu akan dilaksanakan di Tonga, sekaligus untuk pemilihan Chairman  terpilih New Zealand dengan Vice Chairman Tonga. (Ril)
Scroll to top