Rohingya Etnis Minoritas yang Terpinggirkan di Myanmar

Rohingya Etnis Minoritas yang Terpinggirkan di Myanmar

Rohingya Etnis Minoritas yang Terpinggirkan di Myanmar
Pengungsi Rohingya saat meminta makanan di kamp pengungsian Ukhiya dekat perbatasan Bangladesh-Myanmar. Dalam sepekan konflik kekerasan, PBB memperkirakan sudah ada 87.000 pengungsi Rohingya yang masuk ke Bangladesh. (Foto : bbc.com)


Dinamika Kepri | Internasional - Etnis Rohingya adalah kelompok etnis Muslim yang tinggal di negara bagian Rakhine di Myanmar sebelumnya dikenal sebagai Burma.

Mereka diakui sebagai salah satu dari etnis minoritas terpinggirkan di Myanmar dan dianggap sebagai penduduk asli negara tersebut. Namun, pemerintah Myanmar menganggap mereka sebagai imigran ilegal dari Bangladesh dan tidak mengakui keberadaan mereka sebagai suku bangsa yang sah.

Kondisi etnis Rohingya sangat buruk, mereka dikenakan diskriminasi dan pembatasan hak asasi manusia oleh pemerintah Myanmar.

Mereka dilarang menikah tanpa izin, dilarang bekerja di sektor publik dan dibatasi dalam akses pendidikan dan kesehatan.

Pada tahun 2017, ribuan Rohingya meninggalkan Myanmar karena pemukiman yang diduduki dan kekerasan yang dilakukan oleh militer Myanmar, yang diakui sebagai pembersihan etnis oleh banyak negara.

Kondisi mereka saat ini masih sangat buruk, banyak dari mereka masih hidup dalam kondisi yang sangat sengsara di kamp-kamp pengungsian di Bangladesh, tanpa akses yang memadai terhadap pendidikan, kesehatan, dan pekerjaan yang layak.

Sementara itu di Myanmar, diskriminasi terhadap Rohingya masih terus berlanjut dan kondisi mereka belum juga membaik.

Sejak tahun 1970-an, ribuan Rohingya telah melarikan diri dari Myanmar karena diskriminasi dan persekusi yang dihadapi di negara itu.

Pada tahun 2017, sekitar 700.000 Rohingya melarikan diri ke Bangladesh setelah serangan militer Myanmar yang brutal.

Pemerintah Myanmar telah dituduh melakukan pelanggaran hak asasi manusia terhadap Rohingya, termasuk pembersihan etnis dan pendudukan.

Namun, pemerintah Myanmar menolak tuduhan tersebut dan menyatakan bahwa mereka melakukan operasi keamanan melawan kelompok-kelompok yang diduga terlibat dalam aksi terorisme.

Sejak saat itu, kondisi mereka di Myanmar tetap buruk dan mereka masih dianggap sebagai warga negara yang tidak sah.

Sejarah Rohingya di Myanmar telah dipenuhi dengan ketegangan etnis dan diskriminasi. Pemerintah Myanmar menganggap mereka sebagai pendatang ilegal dari Bangladesh, meskipun sebagian besar telah tinggal di Myanmar selama berabad-abad.

Pemerintah Myanmar juga melarang mereka dari mengakses pendidikan, pekerjaan, dan layanan kesehatan yang baik, serta mengekang kebebasan bergerak mereka.

Etnis Rohingya telah mengungsi ke berbagai negara tetangga, terutama Bangladesh. Sejak perang pembersihan etnis pada tahun 2017, ribuan orang Rohingya telah meninggalkan Myanmar dan mencari perlindungan di negara-negara seperti Bangladesh, Indonesia, Malaysia, India dan Thailand.

Bangladesh adalah negara yang paling banyak dihuni oleh pengungsi Rohingya dengan lebih dari 1 juta orang yang tinggal di kamp-kamp pengungsian di wilayah Cox's Bazar. Ini menyebabkan masalah lingkungan dan sosial yang serius di wilayah tersebut.

Beberapa orang Rohingya juga telah mencari perlindungan di negara-negara lain di Asia Tenggara, seperti Malaysia, Indonesia dan Thailand.

Beberapa juga telah mencari perlindungan di India dan Pakistan. Di luar Asia, beberapa orang Rohingya telah mengungsi ke negara-negara seperti Australia, Kanada, dan Inggris.

Namun, banyak pengungsi Rohingya di negara-negara ini tidak mendapat status resmi sebagai pengungsi dan sering mengalami kesulitan dalam mendapatkan akses layanan dasar seperti pendidikan dan kesehatan. Beberapa juga mengalami diskriminasi dan perlakuan buruk dari masyarakat setempat.


Dikutip dari berbagai sumber.
Halaman :

Lebih baru Lebih lama