Selundupkan Biota Laut ke Singapura, Nelayan Belakang Padang Ditangkap Polairud Terancam 5 Tahun Penjara


Selundupkan Biota Laut ke Singapura, Nelayan Belakang Padang Ditangkap Polairud Terancam 5 Tahun Penjara

Selundupkan Biota Laut ke Singapura, Nelayan Ditangkap Polairud Terancam 5 Tahun Penjara
Kasat Polairud Polresta Barelang Kompol R. Moch. Dwi Ramadhanto (tengah) saat menggelar konferensi pers di Mako Satpolairud Polresta Barelang, Jumat (26/8/2022).

Dinamika Kepri | Batam - Dampingi Kasi Humas AKP Tigor Sidabariba dan Kanit Gakkum Polairud Polresta Barelang AKP Suko Wibowo, sekitar pukul 09.30 Wib Kasat Polairud Polresta Barelang Kompol R. Moch. Dwi Ramadhanto menggelar konferensi pers pengungkapan tindak pidana penyeludupan biota laut yang dilindungi tujuan ke Singapura, di Mako Satpolairud Polresta Barelang, Jumat (26/8/2022).

Dalam kasus ini, seorang pelaku berinisial D (44) diamankan. D merupakan seorang nelayan dengan tempat kejadian perkara (TKP) di Perairan Pulau Pemping, Belakang Padang, Batam.

Kapolresta Barelang Kombes Pol Nugroho Tri N melalui Kasat Polairud Polresta Barelang Kompol R. Moch. Dwi Ramadhanto mengatakan, pengungkapan dilakukan setelah menerima informasi bahwa sering ada kegiatan pengiriman bunga karang dan sumber daya ikan yang akan dikirim ke Negara Singapura secara illegal di perairan Belakang Padang.

Dijelaskan kronologisnya, berawal pada hari selasa tanggal 28 Juni tahun 2022 sekira pukul 06. 00 Wib saat Unit Gakkum Satpolairud Polresta Barelang yang dipimpin oleh Kanit Gakkum AKP Suko Wibowo menerima informasi bahwa sering adanya kegiatan pengiriman bunga karang dan sumber daya ikan yang akan dikirim ke Negara Singapura secara illegal di perairan Belakang Padang

Lanjut Kompol R. Moch. Dwi Ramadhanto, setelah itu tim melakukan penyelidikan dengan cara patroli dengan menggunakan boat di sekitaran perairan Belakang Padang, kemudian pada sekitar pukul 08.30 Wib, tim melihat 1 buah boat yang melintas dengan muatan yang mencurigakan dan dilakukan pemeriksaan.

"Saat pemeriksaan, benar di dalam boat tersebut berisi berbagai jenis bunga karang dan sumber daya ikan yang rencananya akan dikirim ke singapura. Selanjutnya Speed Boat dan pelaku dibawa ke kantor Satpolairud Polresta Barelang untuk pemeriksaan lebih lanjut," ungkap Kasat Polairud.

Kemudian dari pelaku diamankan barang bukti berupa 1 unit Speed Boat Fiber, 2 Unit Mesin dengan Kapasitas 40 PK, 1 buah Handphone dengan Merek Nokia, 1 buah Passpor milik Pelaku, 1 buah AIS (Autometic Identification System), alat ini digunakan agar bisa masuk secara resmi ke singapura.
Adapun jenis Biota Laut yang akan diseludupkan berupa Bintang Laut 117 picis, Kepiting Karang 11 ekor, Kelinci Laut 4 picis, Siput Mata Sapi 600 ekor, Gonggong 50 ekor, Siput Macan 9 ekor, Bulu Babi 51 picis, Kaktus Laut Kina 70 picis, Soft Coral 264 picis, Hard Coral 209 picis, Ikan Nemo 815 picis, Balogan Fish 3 ekor, Kaci 10 ekor, Samba 10 ekor, Butterfly Fish 45 ekor, Ikan Goat Fish Yellow Clown Goby 107 ekor, Ketam Bawang 12 ekor, Angel Fish 1 ekor, Lepu – Lepu 3 ekor, Lencing 35 ekor, Blontot Hitam 55 ekor, Blontot Loreng 108 ekor, Keong 34 ekor, Sembilang 69 ekor dan Blankas 39 ekor.

"Total sumber daya perikanan 2.258 dan jenis bunga karang/coral dengan jumlah 473 yang akan di seludupkan ke Singapura," ujar Kompol R. Moch. Dwi Ramadhanto.

Kasat Polairud juga mengatakan bahwa terhadap perkara tersebut sudah sudah P21 oleh Kejaksaan.

"Alhamdulilah perkara ini dinyatakan sudah P21 oleh Kejaksaan, dan akan dilakukan dengan tahap 2 yaitu penyerahan tersangka dan barang bukti. Menurut keterangan pelaku, penyeludupan biota laut ini sudah sering dilakukan dan sudah ada hubungan antara pelaku dan penampung yang ada Singapura. Akibat perbuatan pelaku tersebut, negara dirugikan," ucapnya.

Katanya mengakhiri, atas perbuatanya pelaku dijerat dengan Pasal 40 ayat (2) UU No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, dengan ancaman pidana penjara 5 tahun dan denda Rp. 100 juta. Dan Pasal 87 UU No. 21/2019 tentang Karantina Ikan, Hewan dan Tumbuhan dengan ancaman hukuman pidana penjara 3 tahun dan denda 3 milyar rupiah. (Ril)
Halaman :

Lebih baru Lebih lama