Header Ads Widget

Hati-hati, Hoaks Bisa Menghancurkan

Hati-hati, Hoaks Bisa Menghancurkan
Dinamika Kepri, Batam - Kondisi indonesia saat ini terlihat semakin parah saja dalam hal soal hoaks. Informasi hoaks sangat mudah ditemukan diberbagai media sosial.

Tidak tahu juga, apakah yang membuat itu iseng atau memang sengaja untuk membuat kebingungan informasi kepada yang membaca atau melihatnya?.

Padahal berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk menghentikan dan memerangi kabar-kabar atau informasi hoaks dengan membuat UU ITE.

Tak hanya itu, Kementerian Kominfo juga terus aktif memantau setiap ada berita-berita hoaks yang bergentayangan di media sosial. 

Akan tetapi, meski demikian upaya yang dilakukan pemerintah, tetap saja, selalu ada saja orang yang memproduksi hoaks baik itu melalui konten tertulis maupun dari konten video.

Sedikit mengisahkan tentang bahayanya hoaks. Di zaman masa perang dunia kedua di Eropa dulu, Presiden Nazi Jerman, Adolf Hitler telah membuktikan bahwa hoaks itu mampu bisa menghancurkan suatu kaum (Yahudi=red).

Dalam hoaksnya, Adolf Hitler mengatakan bahwa kaum Yahudi adalah hama bagi negaranya.

Dalam pidato politiknya, Adolf Hitler selalu mengulang-ulang kata-kata itu. Ia membangun narasi kebohongan dan kebencian terhadap kaum Yahudi, sehingga yang mendengarkan perkataannya menganggap itu menjadi suatu kebenaran.

Dan apa yang terjadi, di masa kepemimpinannya, saat itu terjadilah pembataian kaum Yahudi besar-besaran di Jerman yang disebut dengan sebutan Holokaus.

Dari aksi holokaus itu, sekitar 6 jutaan orang Yahudi mati dibantai dengan tragis. Tak hanya di Jerman saja, kaum Yahudi dari negara yang sempat diduduki Jerman juga dibunuh dengan kejam.

Tak hanya Adolf Hitler yang berambisi mengahabisi kaum Yahudi, rakyatnya juga demikian dan sangat membenci Yahudi kala itu.

Rakyat Jerman termakan hasutan Adolf Hitler dan tak sungkan memberikan informasi setiap keberadaan kaum Yahudi di Jerman, akibatnya para tentara Jerman menjadi sangat kejam membunuhi kaum Yahudi di mana jumpa tanpa sedikit ada rasa kemanusiaan.

Padahal sebelum Adolf Hitler memimpin Jerman, negara itu sangat toleran bagi pendatang, kaum Yahudi dengan rakyat Jerman hidup berdampingan.

Pada kepemimpinan Adolf Hitler, ia juga mempercayakan Joseph Goebbels sebagai Menteri propaganda Nazi, sehingga cocoklah mereka berdua dalam segala kebohongannya.

Joseph Goebbels adalah seorang yang pawai membuat teknik Big Lie (kebohongan besar). Prinsip dari tekniknya itu adalah menyebarluaskan berita bohong melalui media massa sebanyak mungkin dan sesering mungkin, hingga kemudian kebohongan itu dianggap sebagai suatu kebenaran.

Belajar dari sejarah kekejaman Nazi Jerman tersebut, tentu kita tak mau seperti itu. Jangan karena termakan hasutan, lantas kita menjadi monster bagi orang lain.

Di zaman era digital saat ini, hoaks bisa begitu cepat beredar luas, dan tetapi entah mengapa pula ada peminatnya, sebab tak jarang ada pengguna media sosial kerap menyebarluaskan tanpa memastikan kebenaran suatu informasi.

Istilah di indonesia mengatakan, hoaks itu diciptakan orang jahat disebarkan orang bodoh dan kemudian dipercaya orang idiot.

Ya, istilahnya itu memang cukup parah, namun walau sudah begitu istilahnya, masih ada saja yang membuat informasi hoaks dan menyebarkannya.

Akan tetapi pada kenyataan bukanlah demikian, hoaks itu diciptakan orang pintar yang bertujuan jahat kemudian disebarkan orang baik tanpa mengcroscek kebenaran informasi dan dipercaya orang awam tanpa menelaah.

Hoaks atau berita bohong adalah informasi yang sesungguhnya tidak benar, tetapi dibuat seolah-olah benar adanya. Tujuan dari berita bohong adalah membuat masyarakat merasa tidak aman, tidak nyaman, dan kebingungan. (Ag)