Header Ads Widget

Terkait Sidang Rokok dan Mikol Ilegal, PH Terdakwa Minta Bea Cukai Tangkap Pemilik Barang

Terkait Sidang Rokok dan Mikol Ilegal, PH Terdakwa Minta Bea Cukai Tangkap Pemilik Barang
Filemon Halawa, SH.

Dinamika Kepri, Batam - Penasihat Hukum (PH) terdakwa Albert Johanes, Filemon Halawa meminta Bea Cukai Batam agar menangkap pemilik rokok dan mikol ilegal yang diangkut KM. Budi GT 34, demikian hal itu disampaikannya kepada wartawan, Kamis (28/10/2021) sore.

"Supaya perkara dugaan tindak pidana kepabeanan ini bisa terang benderang, pihak Bea Cukai Batam harus menangkap, memeriksa pemilik rokok dan mikol ilegal tersebut, begitu juga dengan pemilik kapal supaya diperiksa juga. Saya ingin menyampaikan bahwa penetapan klien kami menjadi tersangka hingga menjadi terdakwa, itu sangat prematur," ujar Filemon Halawa.

Lanjut pria yang akrab disapa Leo Halawa itu mengatakan, pada saat sidang agenda pemeriksaan 4 saksi di PN Batam pada hari Senin 18 Oktober 2021 yang lalu, pengakuan saksi nakhoda dan ABK kapal dan saksi dari petugas Bea Cukai Batam mengatakan, bahwa mereka sama sekali tidak mengenal terdakwa dan itu berbeda di BAP.

"Karena kesaksian dari empat saksi yang dihadirkan JPU tidak mengenal terdakwa, dan sangat berbeda dengan di BAP yang menyebutkan nama klien kami. Maka sekali lagi saya tegaskan bahwa penetepan Albert Johanes sebagai tersangka hingga menjadi terdakwa saat ini, sangat prematur. Saya katakan prematur, karena penyidik tidak memeriksa pemilik barang maupun pemilik kapal, begitu juga pihak yang mengeluarkan manifes barang," ungkap Leo.

Lanjutnya mengatakan, empat orang saksi yang dihadirkan JPU pada saat sidang itu, yakni saksi Burawi Hasyiem (Nakhoda Kapal), saksi Irwan Arif Zainal (ABK), dua saksi dari petugas Bea Cukai Batam, Khairul Ihsan dan Edi Prayoga.

Tambah Leo lagi, ia menduga proses penerapan jadi tersangka bagi kliennya tidak berdasarkan pada fakta, hanya diperoleh dari keterangan Burawi Hasyiem dan Irwan Arif Zainal, meski pada fakta persidangan pemeriksaan telah dibantah.

Terkait manifest barang yang menjadi barang bukti dalam persidangan, kata Leo, pihaknya juga mempertanyakan manifest tersebut.

"Manifest dari perusahaan Singapura itu juga kami pertanyakan, karena tidak kami temukan tanda tangan klien kami. Hanya karena alamat rumah dan nama Albert ia dijadikan terdakwa. Pertanyaannya, apakah sudah diperiksa pemilik perusahaan di Singapura?," ucap Leo.

Menurut Leo lagi, sepanjang belum ada pemeriksaan pihak perusahaan Singapura yang mengeluarkan manifest, penetapan kliennya menjadi tersangka hingga menjadi terdakwa sangat tidak layak dan prematur.

"Dan klien kami sudah membantah itu, tetapi terkesan dipaksakan klien untuk mempertanggungjawabkan dakwaan jaksa itu," ujarnya.

Selain itu, Leo Halawa juga menilai janggal perkara kliennya. Karena pemilik kapal dan pengusaha pemilik barang inisial A yang disebutkan dalam BAP Albert Johanes tidak pernah diperiksa.

"Kami tantang dan memberikan PR bagi Bea dan Cukai Batam untuk menangkap pemilik barang dan pemilik kapal. Sudah jelas alamat dan namanya dalam BAP klien kami. Jika tidak ditangkap, ada apa? Ini akan kami kawal terus. Jangan sampai klien kami hanya korban dari pengusaha inisial A semata," tutupnya.

Kepada JPU yang mendakwa terdakwa dalam perkara ini, saat diminta tanggapannya, Yan Elhas Zeboea mengatakan, sebagai JPU pihaknya bertugas membuktikan apa yang didakwakan.

"Masih persidangan, masih pembuktian terhadap perkaranya. Kami sebagai JPU bertugas membuktikan apa yang didakwakan terhadap terdakwa. Itu saja tanggapannya," jawab Yan Elhas melalui pesan singkat dari selularnya, Kamis (28/10/2021) malam.

Selain itu, melalui pesan singkat Whattsapp (WA), Undani selaku Kepala Seksi Layanan Informasi Bea dan Cukai Batam, juga telah diminta tanggapannya oleh awak media ini, namun hingga berita ini dimuat pada pukul 21:19 Wib Kamis (28/10/2021) malam, belum ada jawaban.

Dikutip dari laman batam.tribunnews.com, Undani mengatakan kalau dirinya belum bisa menjawab pertanyaan itu. Sebab dia akan berkordinasi dulu dengan pihak penyidik.

"Nanti apa keterangan dari penyidik akan kita jelaskan ke teman-teman media," sebut Undani saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon.

Saat ini, sidang terdakwa Albert Johanes, tengah bergulir di Pengadilan Negeri (PN) Batam. Terdakwa disidangkan dalam perkara dugaan tindakpidana kepabeanan dengan nomor perakara 549/Pid.Sus/2021/PN Btm.

Untuk sidang terdakwa Albert ini sudah digelar tiga kali, sedangkan untuk sidang berikutnya akan digelar pada tanggal 1 Nopember 2021 dalam agenda mendengarkan kesaksian dari saksi verbalisan dan saksi ahli.

Sidang sebelumnya pada hari Senin 18 Oktober 2021, sidang berlangsung dipimpin oleh ketua majelis hakim, Ferdinaldo Hendrayul Bonodikun didampigi dua hakim anggota, hakim Marta Napitupulu dan hakim Jeily Syahputra.

Seperti diketahui, dalam dakwaan JPU, terdakwa Albert Johanes diduga terlibat penyeludupan sebanyak 455 karton rokok dan 85 kardus minuman alkohol tanpa dilekati cukai.

Barang tersebut berasal dari Singapura yang diangkut KM. Budi GT 34, yang kemudian ditangkap Bea dan Cukai Tipe B Batam pada 20 Februari 2021 sekira pukul 04.30 WIB di Perairan Tanjung Sengkuang, Batam.

Dalam perkara tersebut, dua terdakwa sudah divonis bersalah oleh hakim pengadilan Negeri Batam. Kedua terdakwa itu yakni Burawi Hasyiem selaku nakhoda dan Irwan Arif Zainal selaku ABK.

Sedangkan dalam perkara ini, terdakwa Albert Johanes didakwa Pasal 50, 56, 54 Undang-Undang RI Nomor 39 Tahun 2007 tentang Perubahan Atas Undang-Undang RI Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai Jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Dan/atau Pasal 102 huruf a Undang-Undang RI No.17 Tahun 2006 tentang Perubahan atas Undang-Undang RI Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan Jo. Pasal 55 ayat (1) Ke-1 KUHP. (Ag)