Header Ads Widget

Lanjutan Sidang Terdakwa Surya Sugiharto, Jaksa Hadirkan Saksi Frans

Lanjutan Sidang Terdakwa Surya Sugiharto, Jaksa Hadirkan Saksi Frans
Sidang virtual terdakwa Surya Sugiharto di PN Batam, Selasa (19/10/2021).

Dinamika Kepri, Batam - Pemeriksaan saksi sidang perkara dugaan penipuan terdakwa Surya Sugiharto terhadap Murni Megawati Sihaloho, kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Batam, Selasa (19/10/2021).

Sidang ini berlansung secara virtual dipimpin hakim ketua H. Jeily Syahputra didampingi dua hakim anggota Marta Napitupulu dan Ferdinaldo Hendrayul Binodikun dihadiri saksi Frans, Yanto penasehat hukum terdakwa, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Mega Tri Astuti dan terdakwa Surya Sugiharto.

Pada kesaksiannya, kepada majelis hakim, saksi Frans menerangkan tentang dari awal perkenalannya dengan terdakwa dan kerja sama untuk membuat perumahan subsidi di Kabil, hingga pembatalan kerja sama dengan terdakwa.

Kata saksi, dalam rencana pembuatan perumahan dengan nama Green Lake Kabil itu, terdakwa berperan sebagai pemilik lahan, dirinya sebagai developer (pengembang) dan Murni Megawati selaku marketing pemasaran.

Namun, kerja sama dirinya dengan terdakwa berkahir di tengah perjalanan karena biaya penimbunan lahan yang disepakati sebesar Rp 300 juta, tidak mencukupi.

Untuk membahas biaya kekurangan biaya penimbunan itu, kemudian ia dan terdakwa beserta Murni, melakukan pertemuan di kantor pemasaran milik Murni.

Kata saksi, pada pertemuan itu, disepakati bahwa kerja sama antara ia dan terdakwa dibatalkan, dan mengenai soal penimbunan dan pembangunan perumahan disepakati akan dilanjutkan oleh terdakwa, dan sepekatan itu kata saksi ditandatangani oleh ketiga pihak.

"Dari sejak pembatalan kerja sama itu, saya tidak pernah tahu lagi apa yang terjadi. Mengenai ada perjanjian antara terdakwa dengan Murni, saya tidak tahu. Informasi terakhir yang saya terima dari Murni bahwa lahan itu katanya telah dijual oleh terdakwa," kata Frans.

Saat ditanya penasehat hukum terdakwa lahan itu dijual ke siapa, jawab saksi tidak tahu.

"Informasi dari Murni telah dijual, soal dijual ke siapa, saya tidak tahu," jawab Saksi.

Menurut Frans lagi, dengan telah dibatalkan perjanjian kerja sama itu, Murni selaku marketing tidak lagi berhubungan dengan saksi, Murni berurusan langsung dengan terdakwa.

Lanjut saksi, meski pembatalan kerja samanya dengan terdakwa sudah dibatalkan, Murni selaku marketing mengatakan akan membantu dana kekurangan penimbunan lahan itu agar bisa selesai supaya perumahan bisa segera dibangun.

Saat ditanya hakim, apakah saksi sebelum melakukan kerja sama bangun perumahan dengan terdakwa telah melihat dokumen legalitas kepemilikan lahan, jawab saksi ditunjukan oleh terdakwa.

"Ditunjukan yang mulia, katanya oke, dan saya akui, saya juga kurang begitu memahami soal dokumen dari BP Batam," jawab saksi.

Kata saksi, ia dan terdakwa beserta Murni juga sudah pernah sama-sama melihat lahan tersebut. Tak hanya mereka bertiga, anggota Murni juga ikut melihatnya.

Dari penjelasan saksi, kemudian terdakwa menyatakan beberapa keberatannya, dan terdakwa juga menanyakan bukti pemberian uang dari saksi kepadanya.

"Anda jangan berbelit-belit, berarti hantulah yang terima uang itu?," jawab saksi kepada terdakwa.

Kepada majelis hakim, saksi mengatakan, selama ia masih bekerja sama dengan terdakwa, uang ditransfer atas nama terdakwa.

Setelah mendengarkan keterangan dari saksi Frans dan mendengar keberatan dari terdakwa, majelis hakim kemudian menjadwalkan sidang berikutnya dengan agenda sidang pemeriksaan saksi dari pembeli perumahan.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, dalam perkara ini, terdakwa Surya Sugiharto disidangkan karena sebelumnya dilaporkan Murni Megawati ke polisi.

Murni mengaku, ia melaporkan Surya Sugiharto ke polisi karena dirinya merasa tertipu, sebab janji terdakwa untuk membangun Perumahan sebanyak 258 unit rumah di atas lahan 2,5 hektar dengan nama Green Lake Kabil di Punggur Kabil, Nongsa, tak kunjung dibangun oleh terdakwa.

Dalam perkara ini, JPU mendakwa terdakwa Surya Sugiharto sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 378 KUHP atau kedua sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 372 KUHP. (Ag)