Header Ads Widget

Kepolisian dan Bea Cukai Ungkap Jaringan Narkotika Internasional, BB Ratusan Kilogram

Kepolisian dan Bea Cukai Ungkap Jaringan Narkotika Internasional, BB Ratusan Kilogram
Konferensi pers pengungkapan kasus peredaran Narkotika jaringan internasional, di Polresta Barelang Senin (20/9/2021).

Dinamika Kepri, Batam - Polresta Barelang bersama Bea Cukai Kepri menggelar konferensi pers pengungkapan kasus peredaran gelap Narkotika jenis sabu seberat 107,258 kilogram (Kg) dari jaringan internasional, Senin (20/9/2021).

Konferensi pers di Polresta Barelang ini berlangsung dipimpin oleh Wakapolda Kepri Brigjen. Pol. Drs. Darmawan di dampingi oleh KA. Kanwil DJBC Akhmad Rofiq, Dir Narkoba KBP Muji Supriyadi, Kapolresta Barelang KBP Yos Guntur, KA BNNP Kepri, KA Bea Cukai Batam Ambang Priyonggo, Kepala Seksi Tindak Pidana Umum Kajari Batam Amanda, Kabidkum Polda Kepri KBP Djoko Trisulo, Ka Pengadilan Negeri Batam, Kabidhumas diwakili Kasubdit Multimedia AKBP Surya.

Kata Wakapolda Kepri, kejadian penangkapan terjadi pada hari minggu (05/09/2021) sekira pukul 06.00 Wib, Satresnarkoba Polresta Barelang dan Bea Cukai Kepri mengamankan 5 tersangka berinisial RA (26), AZA (23), EAH (25), FOS (26) dan H (33) di Perairan Laut Sekitar Pulau Putri Nongsa Batam.

Lebih lanjut dikatakannya, awalnya Satresnarkoba Polresta Barelang mendapat informasi dari masyarakat bahwa akan ada transaksi Narkotika jenis sabu di perairan indonesia khususnya wilayah Batam.

"Dari informasi itu kemudian anggota Satresnarkoba Polresta Barelang dan Bea Cukai Kepri dipimpin oleh Kasat Resnarkoba Kompol Lulik Febyantara menindak lanjutinya dengan melakukan penyelidikan," terang Wakapolda Kepri.

Lanjut Wakapolda, sebelum para tersangka ditangkap, Satresnarkoba Polresta Barelang dan Bea Cukai Kepri sebelumnya telah melakukan penyelidikan (pengamatan, pembuntutan dan pengintaian) selama 3 bulan, dan kemudian tim berhasil menangkap para tersangka di sebuah kapal (Kapal Sb. Edward Black Beard) pada hari minggu (05/09/2021) sekira pukul 06.00 Wib

Lanjutnya, barang haram tersebut diterima para tersangka dari Perairan Malaysia dan akan dibawa ke Singkawang – Pontianak Kalimantan Barat.

"Tersangka RA, AZA, EAH FOS dan H dalam hal ini bersama – sama melakukan permufakatan jahat dalam tindak pidana Narkotika jenis serbuk kristal sabu, di mana tersangka RA diperintahkan atau di suruh oleh bosnya yaitu Sdr. ZB (DPO) untuk menjemput atau menerima Narkotika tersebut di Perairan Malaysia dengan menggunakan Kapal Sb. Edward Black Beard, lalu dibawa ke indonesia dengan tujuan Singkawang – Pontianak Kalimantan Barat," ungkap Wakapolda Kepri Brigjen. Pol. Drs. Darmawan.

Dikatakannya juga, dalam hal ini, tersangka RA mengajak temannya yaitu tersangka AZA, EAH dan FOS, sedangkan tersangka H datang sendiri karena tersangka H merupakan orang suruhan langsung dari bosnya yaitu Sdr. ZB. Masih menurutnya, diduga sabu tersebut akan diedarkan di Batam dan Kota lainnya di indonesia.

Dalam kasus ini, tim mengamankan Barang Bukti (BB) 6 buah tas ransel besar berisi kemasan teh cina merk guanyinwang diduga Narkotika jenis serbuk kristal sabu dengan jumlah total sebanyak 104 bungkus, berat keseluruhan 107,258 Kilogram dan1 unit kapal sb. edward black beard gt.18 no.2255/lla warna putih.

Kata Wakapolda, dengan telah berhasilnya digagalkan peredaran barang haram itu, maka potensinya telah menyelamatkan sebanyak 429.000 jiwa.

"Jika barang bukti tersebut beredar di pasaran bisa dikonsumsi sekitar 321.774 s/d 429.000 jiwa. Maka dengan disitanya barang bukti tersebut, bisa menyelamatkan sekitar 321.774 s/d 429.000 jiwa penduduk," ujarnya.

Selain itu, Wakapolda Kepri mengatakan, katanya, jika Sabu 107,258 Kg dinominalkan ke rupiah, maka uangnya bisa mencapai sekitar Rp 128 milyar dengan asumsi harga Narkotika jenis sabu di pasaran Rp 1,5 juta per gram.

Atas perbuatan para tersangka, kata Wakapolda Kepri, para tersangka akan dijerat Pasal 114 Ayat (2) Jo Pasal 112 Ayat (2) Jo Pasal 115 Ayat (2) Uu Ri No.35 Tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman pidana penjara paling singkat 5 tahun dan paling lama 20 tahun, seumur hidup atau hukuman mati. (Ril)