Header Ads Widget

Penasehat FKMTI Pusat Yanes Yosua Sebut Indonesia Sedang Dalam Darurat Agraria

Penasehat FKMTI Pusat Yanes Yosua Sebut Indonesia Sedang Dalam Darurat Agraria
Ismail warga Tanjunguma, Batam dan Penasehat FKMTI Pusat, Yanes Yosua Frans di acara Konferensi Pers FKMTI Kepri, Rabu (7/4/20121). 

Dinamika Kepri, Batam - Penasehat Forum Korban Mafia Tanah Indonesia (FKMTI) pusat, Yanes Yosua Frans yang juga relawan "We Love Jokowi" mengatakan, bahwa saat ini indonesia sedang berada dalam darurat Agraria. Hal itu dikatakannya saat melakukan konferensi pers di lantai 2 Hotel 89, Nagoya, Batam, Kepri, Rabu (7/4/20121) siang.

Menurutnya, adapun tanah yang saat ini dikuasi masyarakat indonesia hanya di kisaran 7 persen saja, sedangkan sisanya dikuasai oleh para mafia tanah. Dan untuk menyelamatkan bangsa ini dari darurat agraria, ia meminta agar para aparat penegak hukum menangkapi semua mafia tanah di indonesia siapapun dia sebagaimana yang sudah diintruksikan oleh presiden.

"Sesuai intruksi tegas dari Presiden republik indonesia bapak Joko Widodo, mafia tanah di indonesia harus ditangkap siapapun itu!," kata Yanes Yosua.

"Mafia tanah di sini, bisa saja dari perusahaan swasta atau bisa dari BUMN. Mafia tanah harus ditangkap dan tanah yang dirampas dari masyarakat harus dikembalikan ke masyarakat," lanjutnya.

Baca juga: Kapolri Instruksikan Jajarannya Tak Ragu Usut Tuntas Kasus Mafia Tanah 

Mengenai indonesia saat ini tengah berada di dalam darurat Agraria, ia juga meminta agar pemerintah indonesia segera membentuk Pengadilan khusus Agraria yang khusus mengadili sidang perkara persoalan tanah dengan tujuan agar masyarakat yang menjadi korban di dalam persoalan tanah bisa cepat terselesaikan.

Ia juga mengatakan bahwa lembaga peradilan ada saat ini dinilainya tidak mampu dalam menyelesiakan persoalan Agraria sehingga dibutuhkan lembaga peradilan yang khusus mengadili perkara agraria.

"Iya tidak memang mampu, mengapa saya katakan tidak mampu? karena menurut pengalaman yang kita lihat selama ini, kasus tanah yang perkaranya sampai ke meja hijau, selalu memakan waktu yang panjang, bahkan tidak bisa dipastikan kapan waktu selesainya. Maka dengan adanya pengadilan khusus agraria yang kita minta, itu akan bisa memberikan kepastian waktu, jadi tidak bertele-tele memakan waktu yang lama dan sidangnya bila perlu cukup digelar sekali saja," ungkap Yanes Yosua Frans.

Selain itu, Yanes juga menyinggung salah satu nama pejabat BP Batam, ia mengatakan sangat mengenal Deputi III BP Batam, Sudirman Saad.

"Saya sangat mengenal dekat Deputi lahan BP Batam Sudirman Saad, dia orang yang tegas dan pekerja keras, Tapi berada di satu sistim yang barangkali bisa mempengaruhi dia punya kinerja, dan kita harus mendoakannya agar di masa jabatannya ini, BP Batam dengan ATR/BPN Batam bisa bekerja sama dengan baik," ujar Yanes Yosua.
Tak hanya itu, Yanes Yosua juga menyinggung nama Menteri Agraria dan Tata Ruang/ Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Dr. Sofyan A Djalil, kata dia, sekarang ini banyak pejabat-pejabat kita yang asal bicara tetapi tidak sesuai dengan kenyatannya sehingga dampaknya membingungkan masyarakat.

Mengakhiri penyampaiannya sebagai narasumber di konferensi pers FKMTI Kepri, ia juga mengajak seluruh masyarakat agar ikut melakukan bela negara dalam konteks persoalan agraria dengan memberikan informasi atau melaporkan jika melihat dan mengetahui ada orang atau oknum-oknum yang bermain-main terkait persoalan tanah. (Ag)