Header Ads Widget



Batam Pusat Pasar Belanja Penyeludup Mikol, Elektronik dan Rokok

Sebagai petugas kepabenanan, Bea dan Cukai tentunya tak akan pernah berhenti untuk menangkapi para pelaku penyuludupan.
 Bea dan Cukai Batam saat melakukan pemeriksaan di speed boat penumpang SB. Rahmat Jaya 09, Senin (8/2/2021)

Dinamika Kepri, Batam -  Sebagai petugas kepabenanan, Bea dan Cukai tentunya tak akan pernah berhenti untuk menangkapi para pelaku penyeludupan. 

Batam adalah sebagai pusat pasar belanja bagi para penyuludup, membuat Bea dan Cukai Batam terus bekerja extra melakukan tugasnya dalam mengawasi lalu lintas barang, pergerakan kapal di laut maupun ke luar masuk orang di bandara dan di pelabuhan.

Batam daerah yang dikenal sebagai Kawasan Bebas atau Free Trade Zone (FTZ), membuat harga jenis elektronik dan Minuman Beralkohol (Mikol) merek luar dan rokok lebih murah di Batam ketimbang di daerah lainnya di indonesia. Akibat perbedaan harga itu, membuat sebagian orang berusaha menyeludupkan barang-barang tersebut demi meraup keuntungan yang lebih banyak.

Tak heran, jika setiap waktu  Bea Cukai Batam selalu menggagalkan aksi penyeludupan dan pelakunya berakhir meringkuk di penjara. Meski Bea Cukai Batam terus berupaya menghetikan aksi penyeludupan, namun tetap saja ada orang yang melakukannya dengan berbagai macam cara.

Banyaknya pelabuhan tikus di pulau berbentuk kalajengking ini, juga salah satu faktor membuat sulitnya petugas memberantas aksi penyeludupan di Batam. Biasanya para penyeludup akan melakukan aksi muat barangnya di pelabuhan tikus. Mereka beraksi pada malam hari dan kemudian berlayar pada dini hari.

Barang yang diseludupkan itu akan dibawa keluar dari areal Provinsi Kepri. Biasa barang seludupan itu  dibawa ke Pulau Sumatera seperti Tembilahan Jambi, Pekanbaru, Dumai maupun daerah lainnya di Sumatera.

Lantas sampaikan kapan ini akan terus terjadi? Aksi penyeludupan adalah perbuatan yang merugikan negara. Selain merugikan negara juga mengganggu sendi ekonomi negara, Ancaman pidana bagi pelaku juga berat bisa 10 tahun penjara dan dendanya bisa sampai Rp 5 miliar. Meski jelas sanksi dan aturanya, akan tetapi aksi penyeludupan selalu saja tetap terjadi.

Banyaknya jumlah pelabuhan tikus tersebar di Batam, membuat aksi penyeludupan sulit untuk diberantas. Karena itu, sudah seharusnya disesuaikan dengan jumlah personil di lapangan untuk mengawasinya, baik di darat maupun di laut. Karena Batam dikelilingi laut, artinya butuh pengawasan extra ketat. Semua pergerakan kapal-kapal laut baik yang ke luar dari Batam maupun yang masuk ke Batam harus dipantau dan diperiksa jika sudah mencurigakan. (Ag)