Terkait Intimidasi Wartawan di Klinik Baloi, Dendi Humas BP Batam Minta Maaf - DINAMIKAKEPRI.COM

Rabu, Juni 17, 2020

Terkait Intimidasi Wartawan di Klinik Baloi, Dendi Humas BP Batam Minta Maaf

 

Dinamika Kepri, Batam - Terkait perlakuan intimidasi penghalangan-halangan peliputan yang dialami seorang wartawan media cetak di Kota Batam, Leo Halawa dari petugas jaga oknum Ditpam BP Batam dan oknum perawat saat meliput pada hari Senin 15 Juni 2020 di Klinik Baloi Nagoya, Kepala Biro Humas Promosi dan Protokol Badan Pengusahaan (BP) Batam, Dendi Gustinandar meminta maaf kepada wartawan.

"Kami sangat memohon maaf kepada bapak Leo Halawa dan seluruh rekan media. Atas tindakan anak buah kami. Tentu ini, menjadi pembelajaran ke depan. Agar diperbaiki pelayanan pada semua tingkat pelayanan di BP Batam," kata Dendi Gustinandar saat pertemuan mengklarifikasi persoalan yang timbul di Media Center BP Batam, Selasa (16/6) siang.

Baca jugaOknum Jaga Klinik Baloi Diduga Intimidasi Wartawan, Suruh Rekaman Video dan Foto Dihapus

Dendi mengatakan, Pers juga dibebaskan untuk mengontrol pemerintah. Selain fungsi lainnya sebagai kegiatan ekonomi, pendidikan dan hiburan. Kata dia jelas, pada pasal 18 ayat 1 Undang-undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, kegiatan jurnalistik tidak boleh dihalang-halangi dalam bentuk apa pun. Selagi jurnalis tersebut, benar melakukan kegiatan peliputan dengan dipagari oleh kode etik.

"Jurnalis juga adalah sinergi kita untuk membangun bangsa ini. Sinergi kita membangun Kota Batam. Kami berharap, semua ke depan agar saling memahami," tambahnya.

Sementara itu, Direktur Rumah Sakit Badan Pengusahaan (RSBP) Batam dr Sigit Riyarto mengatakan hal senada.

Ia mengatakan, ada dua pokok persoalan yang muncul pada di klinik Baloi Senin (15/6/2020) siang. Pertama pelayanan kurang baik kepada pasien bernama Eligius Bawaulu dan penghalang-halangan kinerja Jurnalis.

''Kami berjanji Insyaallah, tindakan anak buah kami atau kami di klinik Baloi pertama dan terakhir. Kami minta maaf untuk itu. Dan bentuk kepedulian, kami menggratiskan medical checkup kepada pasien tersebut (Eligius Bawaulu,red). Jadi kami mohon pak Leo juga buka pinti maaf kepada kami," ujar dr Sigit Riyarto.

Baca jugaCuitan Akun #AkalSehat di Twitter Undang Polemik, Pemuda Nias Gerak Tuntut Permohonan Maaf

Sementara itu, Leo Halawa dengan kebijakan yang matang juga memaafkannya. Selain itu Leo meminta, agar tidak kedepannya tidak terjadi lagi penghalang-halangan jurnalis seperti yang dialaminya. Baik itu yang sudah terjadi pada dirinya di Klinik Baloi maupun di masa-masa yang akan datang.

"Bukan hanya berlaku bagi saya. Tapi kepada semua wartawan dimanapun berada. Selagi dipagari kode etik jurnalistik saat melakukan peliputan, maka tidak ada alasan apapun yang dibenarkan menghalangi peliputan jurnalis. Sebagai insan beriman, tentu saya amaafkan," kata Leo.

Dalam pertemuan itu, dihadiri Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Batam Slamet Widodo, Pihak Tribun Batam Thamzil Tahir, Departemen Biro Humas Gerakan Angkatan Muda Nias Indonesia (GAMNIS) Noverius Gulo, Wakil Sekretaris Daerah DPD Himpunan Masyarakat Nias Indonesia (HIMNI) Kepri, Firman Bawaulu keluarga korban pasien yang diterlantarkan dan undangan lainnya.

Seperti diketahui sebelumnya, Eligius Bawaulu datang hendak berobat di Klinik Baloi untuk berobat, namun tidak dilayani, tetapi masyarakat yang membeli surat rapid test dilayani dengan baik.

Mengetahui hal itu, kemudian Leo datang untuk meliputnya. Melihat Leo merekam dan mengambil foto, petugas jaga klinik kemudian meminta supaya Leo menghapus rekaman dan foto yang diambilnya tersebut, bahkan terjadi kontak fisik dengan dorong-dorongan. (Ril)