Suhu Politik Jelang Pilkada di Batam Makin Memanas - DINAMIKA KEPRI.COM

Sunday, 2 February 2020

Suhu Politik Jelang Pilkada di Batam Makin Memanas

  Dibaca: kali


Ilustrasi (F/suaramuslim.net)

Meski Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) masih lama yakni akan digelar pada 23 September 2020 mendatang, namun suhu politik di Kota Batam saat ini begitu sangat terasa panas, seakan pemilihan akan dilakukan minggu depan.

“KPU provinsi, kabupaten/kota akan menyelenggarakan pemilihan gubernur, bupati, dan walikota tahun 2020 sebanyak 270 daerah, dengan rincian sembilan pemlihan gubernur, 224 pemilihan bupati, dan 37 pemilihan walikota,” kata Ketua KPU Arief Budiman dalam rapat di ruang Komisi II, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (8/7/2019) lalu, dikutip dari laman otda.kemendagri.go.id.

Adapun kandidat potensial yang akan maju menuju Batam satu sebagaimana dilansir dilaman wikipedia.org diantaranya, Ketua DPD Partai NasDem Kota Batam Amsakar Achmad yang juga Wakil Wali Kota Batam periode 2016-2021, Mantan Kepala BP Batam periode 2011-2019 dan Mantan Wakil Menteri PPN Indonesia periode 2011-2014 Lukita Dinarsyah Tuwo, Direktur Utama Batam Pos dan Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Kepulauan Riau Candra Ibrahim, Politisi Partai Solidaritas Indonesia Rian Ernest, Politisi Partai Demokrat yang juga Anggota DPRD Kota Batam periode 2009-2019 Helmy Hemilton, dan Tokoh Melayu Zukriansyah Zulkarnain.

Di id.wikipedia.org juga dicantumkan, Walikota petahana, Muhammad Rudi tidak dapat mencalonkan kembali dalam pemilihan kali ini dikarenakan telah menjabat selama dua periode.

Harus diakui, di mana setiap menjelang Pilkada atau Pemilukada maupun Pilpres, suhu politik di indonesia memang selalu memanas. Berbagai upaya diduga akan dilakukan tim lawan politik untuk menjatuhkan rivalnya untuk mendulang suara, dan itu bukan lagi rahasia umum saat ini.

Dalam moment jelang Pilkada biasanya prestasi kinerja maupun kesalahan petahana yang mungkin ada di saat menjabat, akan menjadi trending topik pembahasan baik di media pemberitaan maupun di media sosial, sama halnya seperti di Kota Batam.

Tim pengusung Paslon harusnya menjabarkan apa saja prestasi yang telah dilakukan Paslon yang diusungnya ke masyarakat ketimbang harus mempersoalkan kinerja dari petahana.

Kita tahu sebagai manusia, tentu tidak luput dari kesalahaan, baik itu kesalahan yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Artinya jika pun ada kesalahan, janganlah itu dibuat menjadi senjata untuk menjatuhkan lawan politiknya.

Agar hasilnya baik, berpolitiklah dengan santun, baik dan tidak menyakiti hati siapapun, karena Pilkada adalah merupakan pesta rakyat memilih pemimpin. Bukan memilih karena ada kepentingan maupun tekanan (intervensi) dari siapapun, karena ending dari pemimpin yang terpilih bertujuan untuk mengayomi seluruh rakyat bukan untuk memimpin suatu kelompok atau golongan tertentu.

Maka dari itu, siapapun itu, tim yang mengusung suatu Paslon harus memberikan edukasi kepada masyarakat agar hasilnya baik. Dan yang menjadi catatan penting yang perlu diingatkan, baiknya tidak mencampurkan hal-hal yang menyangkut sara, rasis maupun etnis suku bangsa dalam berpolitik, tujuannya agar kondisi Batam tetap aman, damai dan tentram untuk menuju Batam yang lebih baik.

Penulis: Agus Budi Tambunan.

Apa reaksi anda tentang artikel ini?