Saat Pengutang Ditagih Marah, Itu Tanda Dia Tak Berniat Mengembalikannya - DINAMIKA KEPRI.COM

Saturday, 8 February 2020

Saat Pengutang Ditagih Marah, Itu Tanda Dia Tak Berniat Mengembalikannya

  Dibaca: kali


Ilustrasi pinjam uang. (F/koinworks.com).

Dinamika Kepri, Batam - Berurusan soal uang memang sangat sensitif. Bukan rahasia umum bahwa saat ini banyak orang yang marah ketika hutangnya ditagih. Ya, pengutang lebih galak dari penagih. Bahkan yang menagih dibuat seperti pengemis. Terkesan aneh, sepertinya hukum alam telah terbalik.

Harusnya, jika pengutang belum dapat mengembalikan pinjamanya, pengutang mestinya meminta maaf ke penagih agar diberikan kelonggaran. Tetapi saat ini tidak, yang mengutang malah lebih galak ditambah lagi sumpah serapahnya. Ingatlah, orang yang marah ketika ditagih utangnya itu karena memang tidak niatnya ada untuk mengembalikannya.

Berbagai alasan akan dikatakan si pengutang supaya hutangnya tidak dibayar. Sadis memang, padahal waktu datang meminjam, begitu sedih dan dramatisnya sekan hari esok akan kiamat

Si pengutang akan memohon sedih supaya diberikan pinjaman, bahkan tak jarang sampai keluar air mata. Namun giliran saat ditagih, si pengutang malah berlagak seperti juragan empang, marah-marah tak tentu arah. Penagih dibuat seperti pengemis, padahal yang menagih datang untuk meminta haknya.

Tapi itu masih mendingan, walaupun galaknya melebihi dari penaggih, tapi yang ngutang bisa ditemui. Bagaimana kalau si pengutang kabur meninggalkan hutangnya? Nah ini yang lebih para, itu namanya sudah masuk kategori si raja tega dan tidak layak ditiru.

Kendatipun si pemberi hutang ada yang mengiklaskannya, namun ingatlah, si pengutang yang kabur  akan mengingat kesalahannya sepanjang hidupnya. Hidupnya tidak akan pernah tenang. Ia akan selalu merasa bersalah dan dikejar bayangan sampai umur hayatnya.

Ngutang ke tetangga, teman atau kekerabat mungkin bisa saja tidak mengembalikan atau kabur karena tidak ada jaminannya. Namun harus diingat, Tuhan tidak pernah tidur, karena karma tetap berjalan sesuai perbuatan. Tanam jagung pasti panen jagung tak mungkin panen padi.

Zaman berubah maka ahklat dan sifat kemanusiaan pun terasa ikut berubah. Zaman ini zaman now . Semuanya berubah. Menghalakan segela cara tanpa memikirkan orang lain.

Jangankan untuk mengembalikan yang dipinjam, kabur meninggalkan hutang, mencuri hak orang lain dan korupsi pun dilakukan sebagian orang.

Perlu diketahui, orang memberikan pinjaman bukan karena banyak uang, akan tetapi karena ada rasa kemanusiannya untuk menolong dan merasa bagaimana jika posisi itu di posisinya. Namun kebaikan banyak disalah artikan.

Saat menerima pinjaman uang dari tetangga, teman atau kekerabat, tentu si pengutang tidak tahu itu uang apa. Karena mungkin saja uang itu persedian si pemberi satu bulan ke depan untuk keperluan beli susu anak, bayar listrik atau beli berasnya.

Nah, bagaimana jika tidak dikembalikan? Apakah pernah berpikir ke arah itu? Sungguh sadislah orang yang tidak membayar hutangnya dan orang itu akan menerima upah dari dosanya.

Lalu bagaiamana memberikan pinjaman dengan aman? Kendatipun memberi atas rasa kemanusiaan tanpa riba, dan seberapapun yang dipinjamkan bahkan siapapun orangnya, baiknya dibuat sifat mengikat dengan pernjanjian tertulis hitam di atas putih bermaterai Rp 6.000 sebagai bukti tujuan untuk antisipasi kalau-kalau sipengutang tidak mau mengembalikan hutangnya agar bisa dipidanakan.

Nah, mengapa waktu meminjam si pengutang memohon dan saat ditagih galak marah-marah? Itu karena tidak ada perjanjian tetulis antara kedua belah pihak. Si pengutang tahu, jika pun ia akan dilaporkan, tentunya tidak cukup bukti untuk menjebloskannya ke penjara.

Pertanyaannya, lantas bagaimana dengan orang yang kabur meninggalkan hutangnya? Jawabnya singkat, walau berat rasanya, pasrah saja, biarlah Tuhan yang berurusan dengannya.

[Surat dari pembaca].

Apa reaksi anda tentang artikel ini?