Yudi Hermawan BPN Batam: Daerah Seranggong Belum Kampung Tua - DINAMIKAKEPRI.COM

Yudi Hermawan BPN Batam: Daerah Seranggong Belum Kampung Tua

 

Kasi Infrastruktur BPN Kota Batam, Yudi Hermawan.

Dinamika Kepri, Batam - Dua terdakwa Arba Udin alias Udin Pelor dan Nasran Bin Alex Ibrahim (berkas terpisah) sidang perkara dugaan pemalsuan surat terkait hak tanah di Seranggong Kelurahan Sadai Kecamatan Bengkong, Batam, Kepri, sidangnya kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Batam, Selasa (28/1) siang.

Pada sidang agenda pemeriksaan saksi ini, Jaksa Penenuntut Umum (JPU) Karya Immanuel menghadirkan satu orang saksi Kasi Infrastruktur, Yudi Hermawan PNS Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kota Batam.

Dalam kesaksiannya, Yudi Hermawan mengatakan bahwa daerah Seranggong belum ditetapkan sebagai kampung tua.

" Dari 37 Kampung tua yang diusulkan termasuk Seranggong salah satunya, sampai saat ini baru tiga yang sudah resmi bertstatus Kampung Tua yakni Tanjung Riau, Tanjung Gundap dan Sei Binti. Sedangakan untuk Kampung Seranggong belum kampung tua karena belum dikeluarkannya SK Penetapan lokasi dari Walikota Batam," kata Yudi.

Kata Yudi lagi, untuk syarat utama pemukiman bisa masuk dalam kategori Kampung Tua adalah pemukiman yang telah dihuni sebelum Otorita mengelola Pulau Batam. Sedangkan untuk syarat lainnya, lahan yang dikampungtuakan harus clean and clear, tidak boleh ada pihak yang memiliki Hak Pengolahaan (HPL) nya atau tidak sedang bersengketa.

Terkait Seranggong, Yudi yang juga merupakan tim teksnis pendataan Kampung Tua menyatakan bahwa dalam sepengetahuannya maupun dari penglihatannya dari citra satelit, tidak ada kampung tua di daerah Seranggong.

Terkait keterangan saksi tersebut, saat ditanyakan hakim kepada kedua terdakwa untuk menanggapinya, kedua terdakwa Arba Udin alias Udin Pelor dan terdakwa Nasran Bin Alex menjawab, Seranggong adalah Kampung Tua karena di tempat itu terdapat pemukiman penduduk, tanam tumbuh dan kuburan.

Setelah mendengarkan keterangan saksi dan tanggapan dari kedua terdakwa, majelis hakim yang diketuai hakim Jasael Manullang didampingi dua hakim anggota, Efrida Yanti dan Muhammad Chandra, kemudian menunda sidang satu minggu ke depan dengan agenda sidang pemeriksaan saksi berikutnya.

Sebagaimana diuraikan dalam dakwaan, kedua terdakwa disidangkan diduga melakukan pemalsuan surat hak kepemilikan tanah di daerah Seranggong. Jayadi (korban=red) selaku pembeli kavling tanah berukuran 8 X 12 M di daerah Seranggong dari terdakwa Arba Udin seharga Rp. 40 juta melaporkannya ke polisi.

Berawal, pada bulan Agustus tahun 2018 yang lalu, Arba Udin bertemu Jayadi dan Heri. Kemudian Arba Udin menawarkan kavling tanah dengan ukuran 8 X 12 M di daerah Seranggong yang mana menurut Arba Udin, Seranggong sudah masuk ke dalam kampung tua.

Kemudian terdakwa memperlihatkan dokument berupa surat ahli waris dari Nasran Bin Alex Ibrahim dan SK Kampung tua. Arba Udin mengatakan jika kampung tua di daerah Seranggong aman dan sudah banyak dihuni orang.

Mendengar itu, Jayadi pun tertarik kemudian membelinya seharga Rp. 40 juta dengan cara pembayaran dicicil. Kemudian pada hari Minggu tanggal 02 Desember 2018 Jayadi membayar lunas kepada Arba Udin.

Setelah dibayar lunas, Arba Udin kemudian memberikan Surat Keterangan No: /KTS/PKT/SERANGGONG/III/2016 kepada Jayadi. Surat itu ditandatangani oleh ahli waris Nasran Bin Alex Ibrahim dan ditandatangani Ketua Penataan Kampung Tua Seranggong Kota Batam Indra Jasman serta sekertaris yakni terdakwa. Surat itu berisi bunyi bahwa Jayadi sudah bisa membangun bangunan di lahan kavling yang sudah dibelinya itu.

Setelah itu, kemudian pada hari Rabu tanggal 25 September 2019, Jayadi dan Heri mendapat informasi bahwa dilahan kavling daerah Seranggong itu, ada plang atas nama PT. Pesona Bumi Barelang serta telah ada nomor PL (Penetapan Lokasi) dari Otorita Batam.

Untuk memastikannya, Jayadi dan Heri lalu pergi melihat plang dan nomor PL tersebut. Setelah melihat plang itu, kemudian Jayadi menanyakan hal tersebut kepada Arba Udin. Kepada Jayadi, Arba Udin mengatakan bahwa tanah tersebut miliknya bukan milik PT dan tidak ada masalah.

Kemudian setelah itu, Jayadi lalu melaporkannya ke Polresta Barelang. Dalam hal ini sebagaimana dituangkan di dalam berkas perkara Jayadi mengalami kerugian uang  sebesar Rp 40 juta.

Dalam perkara ini, kedua terdakwa Arba Udin alias Udin Pelor dan Nasran Bin Alex didakwa JPU sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 263 ayat (2) KUHPidana tentang pemalsuan dokumen. (Ag)




Scroll to top