Tak Terima Anaknya Disebut Pelakor, Ibu ini Marah Pukul Kepala Nurcahaya dengan Mangkok - DINAMIKA KEPRI.COM

Friday, 20 September 2019

Tak Terima Anaknya Disebut Pelakor, Ibu ini Marah Pukul Kepala Nurcahaya dengan Mangkok

  Dibaca: 1 kali


Terdakwa Marose Boru Silitonga.

Dinamika Kepri, Batam - Marose Boru Silitonga diduga pelaku penganiayaan terhadap Nurcahaya Boru Purba disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Batam, Kamis (19/9) sore.

Terdakwa Marose Boru Silitonga disidangkan lantaran tidak terima Agnes putrinya disebut sebagai perebut suami orang (pelakor) oleh Nurcahaya Boru Purba (korban=red).

Korban dianiaya terdakwa dengan menggunakan mangkok kaca keramik hingga mengalami luka mengeluarkan darah di bagian kepala.

Kejadian itu terjadi pada hari Senin tanggal 10 Juni 2019 sekitar pukul 06:15 Wib di Parkiran Mesjid Tiban I, Batam, tak jauh dari rumah terdakwa.

Tak terima perlakuan terdakwa, korban lalu melaporkannya itu ke polisi. Setelah dilaporkan, terdakwa lalu diamankan polisi, demikian terungkap di fakta persidangan saat pemeriksaan saksi korban di Pengadilan Negeri (PN) Batam.

Sebagaimana dakwaan jaksa penuntut disidang sebelumnya, terdakwa ini didakwa dengan ancaman pidana sebagaimana dimaksud dalam pasal 351 ayat (2) KUHPidana, subsidair ancaman pidana pasal 351 ayat (1) KUHPidana tentang penganiayaan.

Dalam keterangannya di atas sumpah, Nurcahaya Boru Purba selaku saksi korban, kepada majelis yang diketuai majelis hakim Marta Napitupulu didampingi dua hakim anggota, Renni Pitua Ambarita dan Egi Novita mengatakan bahwa sebelum penganiayaan itu terjadi, ia bersama suadaranya (adik) menghentikan mobilnya di parkiran Mesjid Tiban I dekat dengan rumah terdakwa dengan tujuan ingin mencari tahu keberadaaan suaminya (Prayitno Budi Santoso) yang sudah lama tidak pernah pulang ke rumah.

" Tujuan saya ke situ untuk bertemu dengan Prayitno Budi Santoso, soalnya dia tidak pernah lagi pulang melihat anaknya sejak saya digugat cerai ke pengadilan. Saya dan adiku waktu itu parkir di dekat Mesjid, mungkin Agnes mengenali mobil saya, Agnes dan ibunya lalu datang menghampiri saya," kata Nurcahaya kepada hakim.

Kata dia, saat dia dan adiknya masih di dalam mobil. Dilihatnya tiba-tiba Agnes datang menghampiri lalu memotoi mobilnya.

Melihat yang dilakukan Agnes, korban lalu mengatainya dengan sebutan pelakor. "Hei pelakor! kenapa kau foto – foto mobilku?," kata korban.

Kata dia, bukan Agnes yang menjawab ucapannya itu melainkan ibunya (terdakwa) dengan mengatakan kalau dia sudah ditalak oleh suaminya.

"Kenapa kau datangi kami lagi, kau kan sudah ditalak cerai suamimu? kata terdakwa, lalu kujawab, hei diam kau. Setelah itu aku dipukulnya dengan mangkok keramik kaca warna putih di bagian kepalaku. Aku pun berteriak minta tolong karena ada darah keluar mengalir dari kepalaku. Tapi mereka pergi tak perduli. Malah ibunya Agnes bilang, tak ada artinya saya minta tolong, karena semua orang yang ada dilingkungan itu, semua keluargannya. Selain itu, terdakwa juga memantati kami dengan berjoget-joget yang saat itu memakai celana pendek,” ucap Nurcahaya sedih.

Saat ditanya hakim apa dasar korban mengucapkan kata pelakor itu kepada Agnes, jawab korban, karena Agneslah yang telah merebut suaminya dan menghancurkan rumah tangganya.

"Dia yang telah merebut suamiku. Gara -gara dia hancur rumah tanggaku. Bahkan karenanya, suamiku telah menggugat cerai aku dan tidak melihat anaknya. saat ini kmi sudah resmi bercerai karena putusan dari pengadilan agama sudah selesai. Tinggal petikan putusannya yang belum ku terima. Saya punya foto buktinya, dia dan suamiku selingkuh, mereka keluar masuk hotel yang mulia," kata Nurcahaya menangis.

"Dan bukan suamiku saja yang mulia, Agnes juga berselingkuh dengan Abi suami temanku," lanjut Nurcahaya.

Korban menjelaskan, perselingkuhan Agnes Petresia Tiffani dan Prayitno Budi Santoso itu terjadi sejak tahun 2018 lalu.  Hal itu terjadi  yang mana antara suaminya dan Agnes adalah satu ruang kerja di PT. Mc Dermot di Batuampar, Batam.

Kembali ke soal penganiayaan yang diterimanya dari terdakwa, ketika ditanya hakim apakah korban kiranya mau memaafkan terdakwa, korban terlihat tampak berat untuk menjawab.

Menanggapi keterangan korban, kepada hakim terdakwa mengatakan, ia memukul korban dengan mangkok yang dibawanya untuk tempat bubur serapan pagi itu, karena korban yang lebih dahulu memulainya dengan menampar wajahnya.

Mendengar ucapan terdakwa, korban tidak terima dan bersumpah kalau tidak ada melakukannya. "Itu tidak benar yang mulia. Demi Alloh saya bersumpah, saya tidak ada menamparnya," seru korban memastikan sembari mengangkat tangan kanannya ke majelis hakim.

Selain itu, untuk melengkapi dasar korban menuduh Agnes sebagai perebut suaminya, korban juga memberikan berkas testimoni kepada hakim lengkap dengan foto-foto Agnes dan suaminya saat keluar masuk hotel.

Dalam sidang kedua ini, tidak hanya korban yang diperiksa, karena selain adik korban (Bangkit Purba=red) dan temannya adik korban (Raja Davit Carles Simanjuntak maupun suami terdakwa (Manurung=red, Agnes Boru Manurung yang dituduh korban sebagai perebut suaminya juga bersaksi.

Kepada hakim Agnes mengatakan kalau dirinya tidak pernah berselingkuh dengan suami korban.

"Saya tidak cinta pada suaminya, tapi suaminya cinta pada saya, saya cinta sama Abi," kata Agnes ke hakim.

Mendengar ucapan itu, pengunjung sidang pun geleng-geleng kepala. Kepada Agnes, sebelum sidang ditunda  ke jadwal sidang berikutnya, majelis yang kebetulan para kaum ibu juga memberikan nasehat padanya.

"Kalau boleh, jangan lagilah ya? cari pasangan yang  tidak ada ikatan pernikahan. Kalau tak dapat yang lajang, duda juga boleh. Artinya kembali pada diri kita. Bagaimana kalau sekiranya suamimu digitukan orang lain, pasti kamu juga tidak terima, seperti itulah perasaan yang saat ini sedang dirasakan korban," pesan hakim Marta sembari menutup sidang. (Ag)

Apa reaksi anda tentang artikel ini?

Loading...