Simpan Ekstasi di Kemaluan, Herlina Divonis 13 Tahun Penjara - DINAMIKA KEPRI.COM

Thursday, 15 August 2019

Simpan Ekstasi di Kemaluan, Herlina Divonis 13 Tahun Penjara

  Dibaca: 1 kali


Herlina Binti Hamzah.

Dinamika Kepri, Batam - Terbukti bersalah, Herlina Binti Hamzah penyimpan Pil Ekstasi 970 butir di dalam Softek dan di kemaluan, akhirnya divonis 13 tahun penjara denda Rp 1 miliar subsider 6 bulan kurungan penjara oleh hakim Pengadilan Negeri (PN) Batam, Kamis (15/8/2019).

Dalam amar putusan, majelis hakim diketuai Marta Napitupulu mentayakan terdakwa Herlina Binti Hamza telah terbukti bersalah menawarkan untuk dijual, menjual, membeli, menerima, menjadi perantara dalam jual beli, menukar, atau menyerahkan Narkotika Golongan I dalam bentuk bukan tanaman, yang beratnya melebihi 5 gram dengan melanggar pasal 114 ayat (2) Undang-Undang Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika.

Vonis yang dijatuhkan majelis hakim terhadap terdakwa lebih ringan 2 tahun dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Samsul Sitinjak yang sebelumnya menuntut terdakwa dengan pidana penjara 15 tahun.

Terhadap putusan itu, kepada hakim Herlina menyatakan menerimanya dengan menangis, sedangkan jaksa menyatakan pikir-pikir.

Dalam surat dakwaan JPU sebelumnya menjelaskan bahwa terdakwa Herlina binti Hamzah sebelumnya ditangkap oleh petugas AVSEC Bandar Udara Hang Nadim Batam ketika terdakwa sedang melewati pemeriksaan di mesin X-Ray dan mesin pemeriksaan badan (body).

Saat diperiksa, petugas melihat ada benda yang mencurigakan, dan langsung melakukan penggeledan dan menemukan Ekstasi di dalam softex yang sedang digunakan oleh terdakwa.

Untuk melakukan pemeriksaan yang lebih mendalam, terdakwa kemudian dibawa ke kantor Bea dan Cukai Batam di Batu Ampar.

Setelah sampai di  Kantor Bea dan Cukai Batu Ampar, Batam, petugas kembali menemukan beberapa bungkus Ekstasi yang dikeluarkan terdakwa dari vaginanya.

Dari penangkapan ini, petugas berhasil mengamankan barang bukti Narkotika jenis ekstasi sebanyak 970 butir dengan berat total 286,7 gram.


Menurut pengakuan terdakwa asal Lingga itu, barang haram tersebut ia bawa dari Malaysia, selanjutnya akan dibawa ke Palembang menggunakan pesawat.

Untuk membawa ekstasi itu, terdakwa mengaku mendapatkan upah sebesar Rp 20 juta dari Prabu (DPO) warga negara Malaysia selaku pemilik barang. (Ag)

Apa reaksi anda tentang artikel ini?

Loading...