Rasa Cintaku ke Adi Dilunturkan Suamiku yang Baik Hati - DINAMIKA KEPRI.COM

Sunday, 25 August 2019

Rasa Cintaku ke Adi Dilunturkan Suamiku yang Baik Hati

  Dibaca: 1 kali


Ilustrasi. (F/www.elitedaily.com)

Dinamika Kepri – Surat dari Pembaca.  Sejak dari perpisahan itu, kita tidak pernah bertemu lagi. Kurang 25 tahun sudah berlalu sejak itu, sampai saat ini aku masih merindukanmu. Apakah Kamu Masih Mengingatku? Begitulah pertanyaan yang selalu terlontar  di hatiku jika aku mengingatmu saat itu.

Kepada pembaca yang terhormat, kenalkan, aku adalah seorang wanita kelahiran 1979 yang lalu. Saat ini aku telah berumur 40 tahun.

Sebut saja namaku Riza. Ciriku kulit putih kurus tinggi lansing (Kutilang) wajahku mirip seperti kakak adik pinang dibelah dua dengan Cita Citata penyanyi  dangdut terkenal berjudul “ perawan atau janda.

Ya kira-kira seperti itulah jika anda ingin mengalustrasikan wajahku. Bedanya saya berjarawat dan sudah kelihatan tua, sedangkan Cita Citata tidak.

Di masa mudaku, aku adalah wanita termasuk idola di kampungku baik itu selama saya mengenyam pendidikan hingga kuliah. Banyak pemuda kaya dan tampan  yang ingin mendapat cintaku. Namun entah mengapa tapi aku lebih  memilih pria sebut  saja Adi yang tidak setampan dan kaya seperti pemuda lain.

Orang bilang cinta itu tidak buta karena bisa membedakan mana Honda beat dan mana Honda Jazz. Tapi menurutku  tidak, Ril cinta itu memang buta.  Bagiku cinta itu tidak melihat kamu siapa, tampan, ganteng, kaya atau apapun itu.

Adi bukanlah pria yang seperti saya sebutkan di atas. Ia adalah pria biasa yang sangat menghargai wanita. Di masa kami muda dahulu, sejak dari SMP hingga SMA, dia selalu menjagaku dan menganggapku seperti adiknya sendiri.

Meski kami sudah sama-sama beranjak dewasa saat di kelas III SMA, perlakuannya terhadapku sama seperti saat di SMP.

Dia pintar dalam mata pelajaran dan pandai pula bermain bola volley. Kepintarannya bermain volley itulah yang membuat aku jatuh hati kepadanya.

Postur tubuhnya yang tinggi, membuat smash-smashan bolanya begitu kuat merontokan pertahanan musuhnya, begitu meluluhkan hatiku kepadanya.

6 tahun kami bersama, namun harus berpisah karena cita-cita. Setelah tamat dari SMA, kepadaku ia mengatakan akan pergi jauh ke Irian Jaya.

Katanya Ia bercita-cita menjadia Abdi negara, mengikuti jajak sudaranya yang sebelumnya telah menjadi Abdi negara di Irian Jaya.

“ Aku akan pergi jauh untuk menggapai cita-citaku. Kamu jangan bersedih. Aku tahu kamu mencintaiku begitu sebaliknya  aku juga mencintaimu. Jika kita berjodoh, pasti Tuhan akan mempertemukan kita kembali,” katanya waktu itu sembari mencium keningku.

Setelah kepergiannya merantau jauh, kecerianku pun berangsur memudar. Hari-hariku kulalui dengan hampa tanpa kehadirannya di sisiku. Tidak ada lagi teman bercanda yang bisa mengusir kesedihanku.
Sebulan pertama sejak kepergiannya, kami masih lancar berkomunikasi melalui surat menyurat.

Namun seiring berjalannya waktu, komunikasi kami berlahan terputus. Tidak tahu apa yang terjadi padanya, surat-suratku yang mungkin sudah terhitung banyak kukrimkan padanya, tidak lagi dibalasnya.

Keluarga yang tinggal di Kampung  pun tidak bisa kutanyakan karena sudah pindah ke daerah lain. Sulitnya sulit akses komunikasi saat itu, membuatku serasa putus asa. Aku seperti kehilangan jiwaku.
Bulan berganti tahun, setelah aku tamat dari kuliah mendapat gelar S1 dari salah satu Universitas di Medan,Sumut.

Melihat usaiku yang semakin menua, orantuaku lalu menjodohkan aku dengan paribanku yakni anak dari saudara perempuan ayahku.

Sebelum kepernikahan itu, aku sempat menolaknya dengan berbagai alasan.  Kedua orangtuaku menghargainya dan memberikan pilihan mana yang terbaik menurutku.

Mereka tidak memaksaku menikah dengan paribanku itu,  tetapi  aku ragu jika Adi akan datang untuk menikahiku.

Tidak lama dari perjodohan itu, aku pun mengiyakan menikah dengan Aldo sebut saja demikian namanya.

Sampai  saat ini, pernikahanku dengan Aldo sudah berjalan puluhan tahun lamanya. Kami telah dikuriniai 3 anak, dua laki-laki dan satu perempuan.

Meski aku bahagia dan tidak kekurangan apapun dari Aldo, sisa- sisa cintaku kepada Adi masih berbekas di lubuk hatiku yang palimg dalam.

Apakah aku berdosa jika mengingatnya?

Sebelum menikah dengan Aldo, Aldo pernah mengatakan padaku supaya saya memikirkan matang-matang sebelum menikah dengannya.

“ Kalau kamu terpaksa menikah denganku, jangan lakukan. Karena itu akan sangat menyakitkan baik untukmu maupun bagiku. Apalah artinya kita menikah tapi kamu memikirkan orang lain diantara hubungan kita. Efeknya bukan untuk kita saja, anak-anak kita kelak pasti akan ikut merasakan dampaknya. Saya tidak memaksamu menikah denganku. Sebagai wanita dan juga pariban, aku menghargai keputusanmu, baiknya pikirkan matang-matang sebelum kita melangkah,” kata Aldo mengingatkan aku waktu itu.

Jujur, Aldo juga sosok pria yang baik hati. Dia selalu jujur padaku. Meski ia tahu aku masih selalu mengingat sosok Adi, dia tidak pernah merasa cemburu.

Kata anak perempuanku, aku pernah mengigau menyebut nama Adi saat tidur siang dan didengar jelas oleh suamiku , tapi dia tidak marah.

Mendengar itu dari anakku, aku pun minta maaf kepada suamiku. Tetapi suami Aldo menanggapinya dengan tenang dan mengatakan itu tidak apa-apa.

“Namanya masalalu, itu tidak apa-apa. Kadang memang seperti itu. Jujur, sebelum aku menikah denganmu, aku juga memiliki hubungan dengan wanita lain yang kisahnya sama seperti kisah yang mama alami. Cuma bedanya, aku bisa melupakannya. Bagiku kamulah jodoh terbaik yang diberikan Tuhan  kepadaku. Kenapa harus mengharapakan yang lain? Tuhan telah menjodohkan kita, mari kita jaga keutuhan keluarga ini dengan sama-sama melupakan masa lalu kita,” kata suamiku mengingatkan dengan penuh pengertian.

Kendati rasa cinta ke Adi masih sedikit tersisa, aku berusaha melupakannya. Namun semakin aku  berusaha melupakannya, semakin pula aku mengingatnya dan membuat kegalauan di dalam hatiku.

“Oh Tuhan, ampunilah aku yang telah berkhianat hati kepada suamiku. Tuhan, tolong jauhkan rasa itu, agar aku bisa sepenuhnya mencintai suamiku,” begitu kataku dalam hati ketika sesekali mengingat  Adi.

Hari-hari terus berjalan, seiring waktu hingga saat ini, aku berusaha total melupakan dan menjauhkan rasa itu. Suamiku yang penuh pengertian dan baik hati, telah melunturkan rasa cintaku kepada Adi.

Terima kasih Tuhan, belenggu rasa cinta yang tidak berujung, telah engkau lepaskan dari kehidupanku. Rasa siksa dalam hati dengan kerinduan yang berat telah engkau lepaskan.

Buat  Adi sang mantan kekasih hatiku, di mana pun dirimu berada, aku mendoakan semoga engkau selalu bahagia.  Kita manusia hanya bisa berharap dan menginginkan, namun  Tuhanlah yang menentukannya.

Buat para pembaca yang terhormat, terima kasih telah membaca curahan hatiku ini. Setidaknya dengan tulisanku ini, aku bisa meluapkan isi hatiku.

Adapun pesanku dalam artikel ini, jika anda sudah berumah tangga, baiknya lupakan orang ketiga. Lupakan masa lalu anda dengan si dia, karena jika masih mengingatnya, lamban laun akan ketahuan dan pasti akan menghancurkan bahterah rrumah tangga anda. Lagi pun tidak ada artinya untuk mengingat-ingatnya.

Cintailah pasangan anda, dan percayalah pasangan anda saat ini adalah jodoh yang terbaik yang diberikan Tuhan kepada anda. Salam dari saya, God Bless You.  (*)

Apa reaksi anda tentang artikel ini?

Loading...