Ngaku Agen Tenaga Kerja, Asysyuara Prahara Dituntut 1 Tahun Penjara - DINAMIKA KEPRI.COM

Friday, 2 August 2019

Ngaku Agen Tenaga Kerja, Asysyuara Prahara Dituntut 1 Tahun Penjara

  Dibaca: 1 kali


Terdakwa Asysyuara Prahara.

Dinamika Kepri, Batam - Terdakwa Asysyuara Prahara alias Clara Binti Naswan sidang perkara dugaan penipuan dengan berpura-pura sebagai agen tenaga kerja keluar negeri, dituntut Jaksa 1 tahun penjara di Pengadilan Negeri (PN) Batam, Kamis (1/8).

Oleh jaksa penuntut Ritawati Sembiring, dalam amar tuntutan yang dibacakan oleh Jaksa Immanuel, terdakwa Asysyuara Prahara dinyatakan terbukti bersalah melakukan penipuan terhadap sejumlah orang yang ingin bekerja di luar negeri.

“Menyatakan terdakwa Asysyuara Prahara telah terbukti bersalah melanggar pasal 378  KUHP Jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Menuntut agar terdakwa dijatuhkan hukuman dengan pidana penjara selama 1 tahun,” baca Immanuel.

“Akibat perbuatannya, para korban mengalami kerugian hingga belasan juta rupiah, sehingga tidak ada alasan pemaaf untuk membebaskannya,” sambung jaksa Immanuel.

Usai mendengarkan pembacaan surat tuntutan tersebut, Ketua majelis hakim Taufik Nainggolan didampingi dua hakim anggota, Dwi Nuramanu dan Yona Lamerosa, lalu menunda sidang satu minggu ke depan dengan agenda pembacaan putusan.


Sebagaimana diuraikan dalam surat dakwan, modus yang dilakukan oleh terdakwa ialah dengan mengatakan kepada korban Yulis Merdya melalui Hariyanto alias Rehan (DPO) bahwa dirinya bisa menyiapkan calon tenaga kerja wanita (TKW) untuk dipekerjakan ke luar negeri.

Dari pertemuan tersebut, korban meminta kepada terdakwa ingin mencari pekerja orang Aceh untuk dikerjakan di luar negeri.

Atas permintaan korban itu, terdakwa pun menyanggupinya dan bersedia menyediakan 5 orang calon pekerja dengan catatan korban harus menyediakan seluruh biaya dari perjalanan dari Aceh hingga ke Batam.

Untuk memuluskan aksinya, korban diminta untuk mentransferkan uang sebesar Rp 10 juta ke Rekening Bank BCA atas nama Hariyanto sebagai uang tiket dan makan bagi ke - 5 calon pekerja.

Tak sampai di situ, terdakwa juga kembali menelepon korban untuk meminta biaya pembuatan pasport untuk 5 pekerja sebesar Rp 6 juta.

Lalu seiring berjalannya waktu dan menunggu tak kunjung ada kabarnya, korban lalu menelepon terdakwa supaya uang agar yang telah dikrimnya itu dikembalikan padanya, dan terdakwa mengiyakannya serta berjanji akan mengembalikannya, namun tak kunjung dikembalikan. Akibat perbuatan terdakwa, korban mengalami kerugian sebanyak Rp.16 juta. (Ag)

Apa reaksi anda tentang artikel ini?

Loading...