Merasa Ditipu, Murni Sihaloho Gugat Surya Sugiharto Minta Uang DP Rumah 538 Unit Rp 3,4 Miliar Dikembalikan - DINAMIKA KEPRI.COM

Wednesday, 14 August 2019

Merasa Ditipu, Murni Sihaloho Gugat Surya Sugiharto Minta Uang DP Rumah 538 Unit Rp 3,4 Miliar Dikembalikan

  1 kali


Murni Megawati Sihaloho. 

Dinamika Kepri, Batam - Murni Megawati Sihaloho pengusaha agen perumahan berbadan hukum PT. Grasia Mandiri Jaya yang berkantor di Batuaji, Batam, Kepri, mengugat perdata Surya Sugiharto Nugroho Direktur PT. Perambah Batam Expresco ke Pengadilan Negeri (PN) Batam.

Tak hanya mengugat PT. Perambah Batam Expresco, Murni Megawati juga mengugat Jumanto Fransisco S Direktur PT. Graha Kawitaria Barelang dan BP Batam.

Surya Sugiharto digugat perdata lantaran 538 unit rumah yang dijanjikan akan dibangun di samping Puskesmas, Telaga Punggur, Batam tak kunjung dibangun sementara uang DP (Down Payment) dari para pembeli rumah senilai Rp 3,4 miliar yang dikumpulkan pengugat dari pembeli sudah diserahkan kepada tergugat Surya Sugiharto, namun janjinya tidak ditepati sehingga membuat pengugat merugi.

"Uang DP dari pembelian rumah 538 unit tipe 30 senilai Rp 3.416.932.000 sudah saya serahkan ke Surya Sugiharto. Saat penyerahan itu, ia berjanji akan segera membangunnya dengan mengatakan rumah akan siap huni pada bulan Juli 2018, nyatanya sampai saat ini tidak ada. Akibat itu saya dicari-cari pembeli untuk diminta pertanggungjawaban," ucap Murni Megawati  mengisahkan kepada awak media ini, di PN Batam, Selasa (13/8) sore.

"Saya tak mau salah disalahkan pembeli, makanya saya melaporkan Surya Sugiharto ke Polresta Barelang pada tanggal 12 November 2018 yang lalu dengan laporan dugaan tindak pidana penipuan dan atau penggelapan. Cuma, meski sudah berbulan-bulan laporan itu, sampai saat ini belum P21, makanya saya melakukan gugatan perdata," sambung Murni.

Kata dia, untuk memberikan solusi kepada pembeli rumah yang sudah memberikan DP sebelumnya, agar tidak kecewa, ia terpaksa mengalihkan sebagian ke Perumahan yang lain.

"Ada mau ada yang tidak, bagi yang mau, saya alihkan ke perumahan yang lain yang kebetulan masih di sekitar itu dengan uangku sendiri. Yang mau dialihkan itu ada ratusan pembeli juga. Makanya saya jadi rugi," katanya.

Bukan hanya itu, gara-gara masalah ini, kata dia, reputasi perusahaannya menjadi buruk di mata masyarakat, karena dari sekian lama ia melakukan usahanya memasarkan perumahan di Batam, baru kali ini mengalami seperti ini.

" Ya, dari sekian lama menggeluti usaha ini, baru kali ini saya mengalami seperti ini. Mungkin karena saya terlalu percaya, akhirnya jadi begini. Bagimana tidak percaya? Yang menawarkan kerjasama awalnya adalah masih saudara (satu marga=red) ito Jumanto Fransisco S (tergugat dua)," ucapnya. 

Saat ditanya awak media ini sepengetahuannya apa kendala PT. Perambah Batam Expresco tak kunjung membangun 538 unit rumah tersebut, jawab Murni karena lahan untuk membangun rumah itu ternyata status bermasalah.

"Setelah saya cari tahu, ternyata lahannya bermasalah. Lahan itu ternyata sebelumnya sudah dijual Surya Sugiharto ke orang yang bernama Janto. Bahkan sudah pernah berperkara di PN Batam hingga ke Pengadilan Tinggi (PT) dan dimenangkan oleh Janto. Informasi yang saya dapat terakhir ini, Surya Sugiharto sedang lagi melakukan Peninjauan Kembali (PK). Artinya jika demikian yang terjadi, saya menduga Surya Sugiharto ada niat yang tidak baik dalam hal ini, kalaupun tidak ada niat seperti yang saya duga, bagaimana mungkin dia berani ingin membangun rumah di atas lahan yang bermasalah bahkan mungkin bukan miliknya, jangan-jangan ini memang sudah direncanakan?," ucapnya penasaran.

Saat ditanya apa harapannya terkait permasalahan ini, jawabnya Murni simpel, ia meminta supaya Surya Sugiharto segera mengembalikan uang Rp 3.416.932.000 itu agar bisa dikembali kepada para pembeli rumah yang terlanjur sudah memberikan DP nya.

"Saya tidak menuntut dia untuk di penjara. Harapan saya cuma satu, saya minta uang itu dikembalikan supaya saya bisa mengembalikannya kepada pembeli," tutup Murni Megawati Sihaloho.

Pantuan awak media ini, sidang gugatan perdata ini telah 28 kali digelar sejak tanggal 8 Oktober 2018 yang lalu dan akan digelar kembali pada hari Kamis 15 Agustus 2019 mendatang dengan agenda mendengarkan keterangan saksi tambahan, di ruang sidang Mudjono, PN Batam.

Dari penelusuran di Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP) PN Batam, pada tanggal 9 Juni 2016 lalu dengan nomor perkara 151/Pdt.G/2016/PN Btm Klasifikasi Perkara perbuatan melawan hukum, Surya Sugiharto menggugat Janto, Tanto, Susianti dan Anly Cenggana, dengan hasil putusan sidang dimenangkan oleh pihak tergugat dan membebankan biaya perkara kepada penggugat sebesar Rp. 2.536.000.

Setelah itu, pada tanggal 14 Maret 2017, Surya Sugiharto kembali mengugat menggugat Janto, Tanto dan Susianti dengan klasifikasi perkara Wanprestasi nomor perkara 2/Pdt.G/2017/PN Btm.

Digugatan ini, hasil putusannya juga dimenangkan oleh pihak tergugat, yang mana dinyatakan hakim bahwa dalam pokok perkara, gugatan penggugat tidak dapat diterima (Niet Onvankelijke Verklaard) dengan menghukum penggugat membayar ongkos perkara sebesar Rp. 3.225.000.

Tidak terima dengan hasil putusan itu, pihak Surya Sugiharto selaku pengugat lalu melakukan banding ke PT Pekanbaru. Namun hasilnya sama, Rabu, 24 April  2019, putusan banding dari PT menguatkan putusan Pengadilan Negeri Batam nomor 52/Pdt.G/2017/PN.Btm tanggal 30 Juli 2018 dengan menghukum pembanding untuk membayar biaya perkara Rp.150 ribu. (Ag)

Apa reaksi anda tentang artikel ini?