Aniaya Baharuddin dan Fauzi di Mesjid, Kadir Kosim Disidangkan - DINAMIKA KEPRI.COM

Friday, 9 August 2019

Aniaya Baharuddin dan Fauzi di Mesjid, Kadir Kosim Disidangkan

  1 kali


Terdakwa Kadir Kosim Bin Walkosim.

Dinamika Kepri, Batam - Lantaran tak mampu menahan emosinya, Kadir Kosim Bin Walkosim warga Abadi II Bengkong, Batam pelaku penganiayaan terhadap Baharuddin dan Fauzi di teras Mesjid Istiqomah Bengkong pada tanggal 28 Mei 2019 yang lalu, akhirnya disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Batam, Kamis (8/8).

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya terhadap kedua korban, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Samuel Pangaribuan mendakwa terdakwa Kadir Kosim dengan ancaman pidana pasal 351 ayat (1) KUHPidana tentang penganiayaan.

Dari pasal yang didakwakan JPU, terdakwa Kadir Kosim terancam pidana kurungan penjara 2 tahun 8 bulan.

Setelah usai mendengarkan dakwaan, sebanyak 6 orang saksi termasuk 2 korban yang dihadirkan JPU untuk memberikan keterangannya dipersidangan.

"Kejadiannya terjadi setelah selesai sholat Ashar di Mesjid Istiqomah Bengkong. Waktu itu terdakwa menghampiri saya mengatakan “Bab*, Anj*ng”, tapi saya tidak menghiraukannya. Setelah itu terdakwa lalu memanggil nama saya  dengan mengatakan, "Kamu sudah bertahun – tahun di Mesjid ini, tapi kamu menyepelekan orang". Setelah ia lalu memukul saya," kata Baharuddin kepada hakim.

"Saya dipukul 3 kali pakai tangan di bagian kepala yang mulia. Satu minggu sakitnya baru sembuh," sambung Baharuddin saksi korban.

Lanjut ke saksi korban Fauzi, dalam keterangannya, kepada hakim mengatakan ia mengaku ikut menjadi korban dari perlakuan pemukulan terdakwa.

"Saya hanya ingin melerainya tapi saya malah ikut dipukulnya. Niat saya baik karena mengingat tempat itu di Mesjid dan masih suasana bulan puasa," kata Fauzi.

Lanjut ke 4 orang saksi lainnya, kepada hakim saksi membenarkan keterangan kedua saksi korban, mereka mengaku karena saat kejadian itu, mereka melihat terdakwa tengah membogem mentah korban dan sama sekalu tidak mengetahui persis apa masalahnya.

Menanggapi keterangan para saksi, kepada majelis hakim yang diketuai Jasael Manullang itu, semua keterangan para saksi dibenarkan oleh terdakwa.

Meski terdakwa mengakui perbuatannya dan meminta maaf, perlakuan yang dilakukannya itu kata dia adalah semata-mata karena emosi karena dirinya tidak terima dibully oleh korban Baharuddin.

"Itu terjadi karena saya tak terima dibully. Sebenarnya saya tidak mau memukulnya, cuma dia (korban) selalu mengatakan 'ayo pukul kalau berani. Dia mengatakan itu karena dia tahu di situ ada CCTV, lalu akulalu emosi dan memukulnya" kata terdakwa.

Lalu, setelah mendengarkan keterangan dari terdakwa, majelis hakim lalu menunda sidang satu ke depan dengan agenda sidang mendengarkan tuntutan.

Dalam hal ini,  akibat perbuatan terdakwa, Fauzi mengalami luka sebagaimana visum et repertum No.139 / Dir / VER / VI / 2019 tanggal 13 Juni 2019 yang diperiksa oleh Dr. Desvaldi, dokter pada Rumah Sakit Budi Kemuliaan Batam, dengan hasil pemeriksaan rasa nyeri di pipi kanan dan luka lecet ditangan sebelah kiri dengan ukuran 1 cm dan lebar 0,2 cm.

Rasa nyeri di lengan atas bagian kanan dengan kesimpulan rasa nyeri dan luka lecet tersebut disebabkan oleh benturan keras benda tumpul.

Sedangkan korban Baharuddin, ia mengalami luka sebagaimana hasil visum et repertum No.140 / Dir / VER / VI / 2019 tanggal 13 Juni 2019 yang diperiksa oleh Dr. Desvaldi, dokter pada Rumah Sakit Budi Kemuliaan Batam, dengan hasil pemeriksaan dengan rasa nyeri dipelipis sebelah kiri yang mana rasa nyeri tersebut disebabkan oleh benturan keras benda tumpul.

Dari hasil visum tersebut lalu Kadir Kosim pun dilaporkan kedua korban ke polisi. (Ag)

Apa reaksi anda tentang artikel ini?