Agen TKI Bodong yang Dituntut Jaksa 1 Tahun Divonis Hakim 1 Tahun 6 Bulan - DINAMIKA KEPRI.COM

Friday, 9 August 2019

Agen TKI Bodong yang Dituntut Jaksa 1 Tahun Divonis Hakim 1 Tahun 6 Bulan

  1 kali


Asysyuara Prahara. 

Dinamika Kepri, Batam -  Terdakwa Asysyuara Prahara sidang perkara agen Tenaga Kerja Indonesia (TKI) bodong yang sebelumnya dituntut Jaksa Penuntut Umum (JPU) 1 tahun, akhirmya divonis 1 tahun 6 bulan penjara oleh hakim pengadilan Negeri (PN) Batam, Kamis (8/8).

Vonis yang dijatuhkan majelis hakim terhadap terdakwa yakni lebih berat 6 bulan dari tuntutan JPU Ritawati Sembiring sebelumnya.

Dalam amar putusannya, majelis hakim yang diketuai Taufik Abdulah Nenggolan didampingi dua hakim anggota menyatakan bahwa terdakwa Asysyuara Prahara terbukti secara sah bersalah melanggar tindak pidana sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 378  KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Adapun pertimbangan hakim menaikan hukuman terhadap terdakwa, kata hakim karena terdakwa telah merugikan para korbannya hingga puluhan juta rupiah.

“Majelis Hakim menaikan hukuman terhadapmu (Terdakwa Asysyuara Prahara - red) karena akibat perbuatan yang kamu lakukan, para korban mengalami kerugian materil hingga belasan juta rupiah,” kata hakim Taufik kepada terdaqkwa.

"Dalam perkara ini, majelis hakim menilai perbuatan terdakwa telah melanggar pasal 378  KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP sebagaimana dakwaan dari JPU," lanjut Taufik.

Sebagaimana diuraikan dalam surat dakwan, modus yang dilakukan oleh terdakwa ialah dengan mengatakan kepada korban Yulis Merdya melalui Hariyanto alias Rehan (DPO) bahwa dirinya bisa menyiapkan calon tenaga kerja wanita (TKW) untuk dipekerjakan ke luar negeri.

Dari pertemuan tersebut, korban meminta kepada terdakwa ingin mencari pekerja orang Aceh untuk dikerjakan di luar negeri.

Atas permintaan korban itu, terdakwa pun menyanggupinya dan bersedia menyediakan 5 orang calon pekerja dengan catatan korban harus menyediakan seluruh biaya dari perjalanan dari Aceh hingga ke Batam.

Untuk memuluskan aksinya, korban diminta untuk mentransferkan uang sebesar Rp 10 juta ke Rekening Bank BCA atas nama Hariyanto sebagai uang tiket dan makan bagi ke - 5 calon pekerja.

Tak sampai di situ, terdakwa juga kembali menelepon korban untuk meminta biaya pembuatan pasport untuk 5 pekerja sebesar Rp 6 juta.

Lalu seiring berjalannya waktu dan menunggu tak kunjung ada kabarnya, korban lalu menelepon terdakwa supaya uang agar yang telah dikrimnya itu dikembalikan padanya, dan terdakwa mengiyakannya serta berjanji akan mengembalikannya, namun tak kunjung dikembalikan. Akibat perbuatan terdakwa, korban mengalami kerugian sebanyak Rp.16 juta. (Ag)

Apa reaksi anda tentang artikel ini?