Gara-gara Kondom Berbuntut Pemukulan, Santra Marbun Dihukum 1 Tahun 4 Bulan Penjara - DINAMIKA KEPRI.COM

Tuesday, 16 July 2019

Gara-gara Kondom Berbuntut Pemukulan, Santra Marbun Dihukum 1 Tahun 4 Bulan Penjara

  1 kali


Santra Marbun. 

Dinamika Kepri, Batam - Santra Marbun pekerja Kafe Tiwi Ruli Bukit Senyum, Batuampar, Batam, sidang perkara penganiayaan terhadap seorang wanita bernama Herawati gara-gara kondom, divonis 1 tahun 4 bulan penjara oleh hakim Pengadilan Negeri (PN) Batam, Selasa (16/7/2019).

Oleh majelis yang diketuai hakim Jasael Manullang didampangi dua hakim anggota, Efrida Yanti dan Chandra, menyatakan bahwa terdakwa Santra Marbun terbukti bersalah melakukan tindak pidana melanggar Pasal 351 ayat (1) KUHPidana tentang penganiayaan.

Vonis yang dijatuhkan majelis hakim terhadap terdakwa tersebut yakni lebih ringan 2 bulan dari tuntutan jaksa penuntut yang sebelumnya dituntut 1 tahun 6 bulan kurungan penjara.

Terhadap vonis 1 tahun 4 bulan yang dijatuhkan padanya, kepada hakim sembari kebingungan,  terdakwa Santra Marbun menyatakan menerimanya. Sama halnya dengan jaksa penuntut juga menyatakan menerimanya.

Berawal, kejadian pemukulan itu terjadi pada hari Minggu tanggal 24 Februari 2019 sekira pukul 01.00 Wib dini hari, di mana pada saat Santra Marbun sedang bekerja di Kafe Tiwi, Bukit Senyum, Batuampar, Batam.

Waktu itu korban Herawati (korban=red) datang ke warung yang sedang dijaga Santra Marbun untuk membeli 2 buah kondom seharga Rp.5 ribu.

Meski cuma memberikan uang Rp 5 ribu, namun korban bersikeras mengambil 3 kondom. Melihat itu Santra pun melarangnya dengan mengatakan, bahwa pemilik warung bisa marah padanya, sebab pemilik warung mengetahui jumlah kondom yang tersisa.

Meski sudah diberikan 3 kondom sesuai permintaannya, namun korban tidak terima, dan malah memarahi Santra Marbun dengan mengucapkan kata -kata yang menyakitkan dengan  mengatakan “Anj*ng, toh juga untuk kau nanti satunya”.

Mendengar itu, Santra Marbun pun emosi lalu melempar botol Fanta berbahan Plastik ke korban yang sedang duduk di sofa.

Setelah pelemparan itu botol itu, Santra lalu pergi tidur. Di saat sedang tidur di dalam kamarnya, tiba - tiba korban datang, lalu melemparkan handphone miliknya ke Santra dan menginjakkan kaki Santra.

Meski menerima perlakuan korban seperti itu, Santra masih tetap berusaha bersabar. Kemudian Santra bangun, namun di saat Santra hendak memakai celananya, saksi korban tiba-tiba menarik baju Santra dan mengambil Handphone dalam saku celana Santra dan melemparkannya ke dinding kamar sehingga rusak.

Melihat hal itu, Santra pun merasa sakit hati dan lalu memukul wajah korban sebanyak 3 kali dengan menggunakan tangan kanan dan kiri. Akibat pukulan itu, korban mengalami luka memar berdarah di bagian kedua matanya dan melaporkan pemukulan itu ke polisi.

Dari hasil pemeriksaan Dr. Effendy, MBBS, MMedSc, Dokter umum pada Rumah Sakit Budi Kemuliaan Batam, Visum et repertum No.2064/Dir/VER/III/2019 pertanggal 25 Maret 2019, korban mengalami luka memar di kedua kelopak mata dengan ukuran Panjang 6 cm dan lebar 3 cm. Luka memar di pipi kiri dan kanan dengan ukuran Panjang 6 cm dan lebar 3 cm dengan kesimpulan luka memar tersebut disebabkan oleh benturan keras benda tumpul.

Dalam perkara ini, kata Santra kepada majelis hakim, korban juga tidak mau berdamai dengannya.(Ag)

Apa reaksi anda tentang artikel ini?