Dwi Purwanto Supir Taxi yang Nyambi jadi Agen TKI ilegal Disidangkan - DINAMIKA KEPRI.COM

Wednesday, 17 July 2019

Dwi Purwanto Supir Taxi yang Nyambi jadi Agen TKI ilegal Disidangkan

  1 kali


Terdakwa Dwi Purwanto.

Dinamika Kepri, Batam - Dwi Purwanto yang mengaku sebagai supir taxi nyambi jadi agen TKI ilegal ke Malaysia, disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Batam, Selasa (16/7).

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, jaksa penuntut Nurhasaniati mendakwanya dengan dakwaan kesatu sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 81 undang-undang nomor 18 tahun 2017 tentang Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (PPMI) Jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP, atau kedua pasal 83 undang- udang Nomor 18 tahun 2017 tentang PPMI Jo. pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Pada sidang pemeriksaan saksi ini, selain terdakwa mencabut kuasa penesehat hukumnya terhadap perkaranya, jaksa menghadirkan 3 orang saksi yakni 1 saksi ahli dari BNP2TKI Batam dan 2 saksi penangkap dari Ditreskrimum Polda Kepri. Sedangkan para saksi korban tidak hadir, namun saksi korban menerangkan dalam tulisan dan dibacakan jaksa penuntut dalam persidangan.

Kepada majelis hakim yang diketuai hakim Jasael Manullang, saksi penangkap menerangkan, Dwi Purwanto ditangkap di rumahnya pada tanggal 21 Januari 2019 di Perumahan Graha Nusa Permai Blok A11 No 17 Kelurahan Belian Kecamatan, Batam Kota.

Dwi Purwanto diamankan, karena sebelumnya Subdit IV Ditreskrimum Polda Kepri menerima informasi bahwa yang bersangkutan telah melakukan kegiatan Penempatan Pekerja Migran Indonesia tanpa izin terhadap sebanyak 4 orang Pekerja Migran Indonesia yang rencananya akan diberangkatkan ke Malaysia.

Ada pun ke-4 korban yang dimaksud  tersebut yakni Anwar Efendi asal Lombok Barat, Nurhayati asal Lombok Barat, Isnari asal Rembang, Jawa Tengah dan Syahid Anwar asal Indramayu, Jawa Barat.

Saat ditanya hakim ke saksi penangkap, berapa keuntungan yang telah didapatkan oleh terdakwa dari perbuatannya, saksi penangkap menjawab tidak tahu.

"Kalau soal itu penyidik yang tahu, saya tidak tahu yang mulia, karena kami hanya bertugas mengamankan saja," kata saksi.

Selain itu, saksi ahli BNP2TKI Batam kepada hakim menerangkan, bahwa apa yang telah dilakukan oleh terdakwa telah menyalahi aturan perundang-undangan di negara indonesia.

Katanya, yang bisa melakukan hal itu adalah yang memiliki badan Hukum dan memiliki Surat Izin Perekrutan Pekerja Migran Indonesia (SIP2MI) sebagaimana diatur dalam pasal 49 undang- undang No. 18 tahun 2017 tentang PPMI.

Menanggapi atas keterangan para saksi, saat ditanya hakim ke terdakwa, apakah keterangan para saksi itu ada salah atau benar semua, jawab terdakwa benar.

" Benar yang mulia," ucap Dwi Purwanto.

Setelah usai pemeriksaan saksi, sidang kembali dilajutkan ke agenda pemeriksaan terdakwa. Kepada hakim, terdakwa mengaku ia baru kali itu melakukannya, karena sehari-hari ia  bekerja sebagai supir taxi.

"Pekerjaan saya sehari-hari sebagai supir taxi yang mulia, sedangkan keuntungan saya dari TKI ini hanya Rp 100 ribu perorangnya.

Selain itu, kepada hakim terdakwa juga mengaku kalau dalam hal ini bukan dia saja, ia melakukannya bersama-sama dengan Awi (DPO).

Setelah mendengar keterangan dari terdakwa, majelis hakim lalu menunda sidang dan akan digelar kembali pada tanggal 30 juli 2019 dengan agenda tuntutan.(Ag)

Apa reaksi anda tentang artikel ini?