Sembunyikan Sabu di Anus, Parni dan Siti Jaringan Narkotika Internasional Disidangkan - DINAMIKA KEPRI.COM

Thursday, 13 June 2019

Sembunyikan Sabu di Anus, Parni dan Siti Jaringan Narkotika Internasional Disidangkan

  Dibaca: 1 kali


Didampingi penasehat hukumnya (tengah) Eliswati, Parni dan Siti Nurkhalifah disidangkan di PN Batam, Rabu (12/6/2019). 

Dinamika Kepri, Batam - Parni alias Agung dan Siti Nurkhalifah (berkas terpisah) kurir sabu antar lintas negara (internasional) Indonesia -Malaysia dengan barang bukti sabu seberat 518,72 gram, disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Batam, Rabu (12/6/2019).

Oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Rosmarlina Sembiring, kedua terdakwa didakwa  sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 114 ayat (2) Jo Pasal 132 ayat (1) UU No. 35 tahun 2009 tentang Narkotik, atau kedua Pasal 113 ayat (2) Jo Pasal 132 ayat (1) UU No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika.

Selain barang bukti sabu, tiket kapal Feri keberangkatan dari Situlang Malaysia menuju Batam, pecahan uang rupiah dan uang pecahan Ringgit Malaysia yang akan digunakan membeli tiket pesawat menuju Surabaya dari kedua terdakwa juga dijadikan barang bukti.

Menurut saksi penangkap dari Polda Kepri, kepada majelis hakim yang diketuai hakim Renni pitua Ambarita didampingi dua hakim anggota, Marta Napitupulu dan Egi Novita, mengatakan kedua terdakwa ditangkap saat baru tiba di pelabuhan fery internasional Batam Center.

Saat diperiksa, katanya dari barang bawaan terdakwa, sama sekali tidak ditemukan sabu, namun setelah diinterogasi, Siti Nurkhalifah akhirnya mengaku membawa sabu yang disimpan di dalam anusnya, begitu juga dengan Parni.

Menindak lanjuti pengakuan itu, keduanya lalu dibawa ke pos polisi dan mengeluarkan sabu itu dari dalam tubuh kedua terdakwa di kamar mandi.

Menurut saksi lagi, penangkapan kedua terdakwa ialah merupakan Target Oprasi (TO) di mana setelah adanya laporan dari masyarakat. Bukan sekali ini saja, kata saksi bahwa dari pengakuan terdakwa sebelumnya mereka sudah 4 kali berhasil.

"Menurut pengakuan terdakwa, ini yang sudah kelima kalinya. Sebelumnya mereka mengaku sudah empat kali berhasil dan rencananya sabu tersebut akan dibawa ke Surabaya. Sabu tersebut dibawa dari Malaysia atas suruhan seseorang yang bernama Noim di Malaysia  dengan imbalan Rp 26 juta. Sedangkan untuk penerima di Surabaya, tidak diketahui oleh terdakwa," kata saksi kepada majelis hakim.

Menanggapi keterangan dari saksi penangkap, kepada hakim kedua terdakwa membenarkannya.

" Benar yang mulia," kata kedua terdakwa.

Setelah mendengar tanggapan itu, majelis hakim lalu melanjutkan sidang ke terdakwa untuk saling bersaksi dan kepemeriksaan terdakwa. Kepada hakim, Siti Nurkhalifah mengatakan awalnya dialah yang mengajak Parni untuk ikut dengannya menjadi kurir sabu dari Malaysia ke Indonesia.

"Saya mengajak Parni. Sebenarnya saya tidak mau, namun karena ada lagi pekerjaan maka dengan terpaksa saya melakukannya. Sabu itu kami simpan di anus dengan menggunakan plastik. Cara memasukannya, kami lumasi dengan sabun, supaya licin,'' ucap wanita berhijap itu.

Saat ditanya hakim, apakah saat memasukan sabu itu ke anus, kedua terdakwa melakukannya di tempat yang sama, jawab Siti tidak.

"Tidak yang mulia, beda tempat. Saya masukan setengah, sisanya sama Parni, yang saya simpan di anus sekitar 200 gram," jawab Siti .

Pengakuan Siti lagi, saat ia dan Parni menaiki kapal dari Malaysia menuju Batam, selama di kapal mereka berdua hanya bisa berdiri sebab tidak bisa duduk karena pengaruh adanya sabu di anusnya.

"Selama perjalanan kami berdua berdiri, karena kalau duduk sakit yang mulia,'' ucap terdakwa Siti dan dibenarkan Parni.

Mendengar pengakuan itu, membuat pengunjung sidang tertawa. Kemudian setelah usai pemeriksaan kedua terdakwa, majelis lalu menunda sidang 1 minggu ke depan dengan agenda tuntutan terhadap kedua terdakwa. (Ag).

Apa reaksi anda tentang artikel ini?

Loading...