Gunakan Remot Kontrol, Komplotan ini Berhasil Bobol ATM BNI Hingga Rp 199,65 Juta | DINAMIKAKEPRI.COM

26 Juni 2019

Gunakan Remot Kontrol, Komplotan ini Berhasil Bobol ATM BNI Hingga Rp 199,65 Juta

 

Para terdakwa usai menjalani persidangan di PN Batam, Rabu (26/6).

Dinamika Kepri, Batam - Lima orang yang merupakan komplotan pembobol uang dari mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM) BNI dengan cara menggunakan remot kontrol, di berbagai tempat di Kota Batam, disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Batam, Rabu (26/6/2019) sore.

Kelima orang tersebut yakni terdiri dari dua wanita dan tiga pria. Kedua wanita itu yakni terdakwa Marya Ulfa dan  Afriyani. Sedangkan ketiga pria tersebut yakni terdakwa Parlin, Melki Seotian dan Ilham.

Sementara dua orang pelaku lainnya bernama Salamun dan Yolan, kini masih Dalam Pencarian Orang (DPO) oleh polisi.

Pada sidang perkara pencurian ini, Jaksa penuntut Frihesti Putri Gina mendakwa kelima terdakwa dengan ancaman pidana pasal 363 Ayat(1) ke-4 Jo pasal 64 ayat (1) KUHPidana

Usai pembacaan dakwaan, sidang kemudian dilajutkan ke agenda pemeriksaan saksi. Jaksa yang menghadirkan 4 orang saksi diantaranya 2 orang saksi pemilik mobil yang dirental oleh para terdakwa dan 2 orang saksi dari pihak Bank BNI Cabang Batam.

Kepada majelis hakim diketuai hakim Jasael Manulang didampingi hakim Chandra, saksi dari pihak Bank BNI mengaku bahwa akibat dari perbuatan para terdakwa itu, pihaknya telah mengalami kerugian ratusan juta rupiah.

"Dari ATM BNI Pasar Botania 2 Batam selisih sejumlah Rp.131.800.000, Mesin ATM BNI Top 100 Tembesi II  selisih Rp.23.950.000, Mesin ATM BNI SPBU Nongsa selisih Rp.41.400.000 dan di Mesin ATM BNI Kampus Unrika selisih Rp.2.500.000, sehingga total selisih dari empat ATM itu  sebesar Rp.199.650.000." kata saksi pihak Bank BNI kepada majelis hakim.

Selain itu, saksi pihak Bank juga menjelaskan bagaimana cara para terdakwa mengeluarkan uang itu dari mesin ATM. Katanya, meski uang keluar namun saldo di kartu ATM yang dipakai terdakwa, sama sekali tidak berkurang.

"Dari hasil pengecekan rekaman CCTV yang berada di masing-masing ATM tersebut, ditemukan ada penarikan ATM dengan modus Vandalisme Cash Fhising atau pencurian uang di mesin ATM dengan modus memasangkan remot kontrol pada belakang UPS ATM, sehingga pada saat melakukan transaksi penarikan uang yang sedang diproses dan uang keluar dari ATM langsung segera dimatikan dengan menekan remot control, sehingga transaksi tersebut direversal yang mana uang keluar aka tetapi saldo pada ATM yang mengambil uang tersebut, tidak berkurang," kata saksi dari pihak Bank BNI

Menanggapi keterangan saksi dari pihak Bank itu, saat majelis hakim meminta tanggapan terdakwa atas keterangan saksi tersebut, para terdakwa membenarkannya.

" Benar yang mulia," jawab kelima terdakwa serentak.

Terkait dua orang saksi yang mengaku sebagai pemilik mobil, kepada majelis hakim keduanya menerangkan sama sekali tidak tahu kalau mobilnya akan digunakan untuk melakukan tindak kejahatan.

Dalam perannya masing-masing, Marya Ulfa berperan sebagai penyewa dua unit mobil yang mereka digunakan selama melakukan aksinya di ATM, dan temannya Afriyani berperan sebagai penyedia ATM Bank BNI untuk medukung tindak kejahatan yang mereka lakukan, sedangkan terdakwa lainnya yakni Parlin dan Melki Seotian yakni berperan sebagai pengambil uang dari mesin ATM, sementara Ilham bertugas mencarikan jenis ATM BNI yang bisa dibobol.

Dalam aksinya, kepada jaksa, terdakwa Ilham juga mengaku bahwa tidak semua mesin ATM bisa dibobol oleh mereka, kata dia tergantung pada jenisnya

" Tidak semua, yang bisa itu cuma ATM berjenis mesin merk NCR," kata Ilham dengan nada memastikan kepada jaksa seperti sudah begitu memahami.

Namun saat ditanya jaksa, sudah berapa kali ia melakukan hal itu, terdakwa Ilham mengaku, baru satu kali ini.

"Baru sekali ini," jawab Ilham.

Selain itu, dari hasil tindak kejahatan yang mereka lakukan, para terdakwa mengaku mereka mendapatkan bagian masing-masingnya Rp 10 juta perorangnya.

Setelah mendengarkan keterangan dari saksi korban maupun mendengarkan keterangan para terdakwa pada agenda sidang pemeriksaan terdakwa dan sesama terdakwa saling bersaksi satu dengan yang lainnya, majelis hakim lalu menunda sidang satu minggu kedepan dengan agenda tuntutan.

Sebelumnya para terdakwa diamnakan polisi pada bulan Maret 2019 yang lalu. Kasus pembobolan mesin ATM itu diketahui pihak bank BNI Cabang Batam pada hari Rabu tanggal 20 Maret 2019 yang lalu.

Hal itu diketahui setelah dua karyawan Bank BNI Batam yang melakukan pengisian uang di mesin ATM BNI Pasar Botania 2 Batam, melakukan pencocokan pencatatan mesin ATM dengan uang tunai yang masih berada di dalam kaset.

Saat dilakukan pencocokan, ternyata hasilnya tidak singkron, dan ditemukan selisih kurang dari pencocokan sejumlah Rp.131.800.000.

Dari temuan itu, lalu rekaman CCTV yang ada di ATM itu pun diputar ulang, dan ujungnya berhasil menemukan wajah-wajah sipembuat jumlah selisih uang di mesin ATM tersebut.

Dalam perkara ini, Jaksa penuntut mendakwa para terdakwa dengan dakwaan tunggal yaitu pasal 363 ayat  (1)  ke-4 yaitu pencurian yang dilakukan dengan bersekutu, terancam pidana hukuman 7 tahun penjara. (Ag)




BACA JUGA:

Scroll to top