Tiga Terdakwa Kasus Sabu Divonis Hakim PN Batam di Bawah Tuntutan Jaksa - DINAMIKA KEPRI.COM

Monday, 29 April 2019

Tiga Terdakwa Kasus Sabu Divonis Hakim PN Batam di Bawah Tuntutan Jaksa

  Dibaca: 1 kali


Terdakwa Budhi, Enda dan Yessi Intan saat sidang di PN Batam.

Dinamika Kepri, Batam - Tiga terdakwa Yulistiani alias Enda, Yessi Intan dan Budhi Hariawan jaringan narkotika Batam-Kendari dengan  yang merupakan jaringan Heri Laonardy alias Cobra dan Hendry alias Apen dengan Barang Bukti (BB) Narkotika jenis sabu 11 Kg, divonis bersalah oleh hakim Pengadilan negeri (PN) Batam, Kamis (25/4/2019).

Terdakwa Yulistiani alias Enda dijatuhi hukuman 14 tahun penjara denda Rp 1 miliar subsidair 6 bulan penjara. Terdakwa Yessi Intan divonis 14 tahun penjara denda Rp 1 miliar subsidair 3 bulan penjara. Sedangkan temannya terdakwa Budhi Hariawan divonis 15 tahun penjara denda Rp 1 miliar subsidair 6 bulan krumgan penjara.

Oleh majelis hakim diketuai majelis hakim yang diketuai hakim Marta disdampingi dua hakim anggota Renni Pitua Ambarita dan Egi Novita, menyatakan ketiga terdakwa terbukti bersalah dan meyakinkan melakukan tindak pidana“Permufakatan jahat tanpa hak melawan hukum menawarkan untuk dijual, menjual, membeli, menerima, menjadi perantara dalam jual beli, menukar atau menyerahkan narkotika golongan I dalam bentuk bukan tanaman yang beratnya melebihi 5 (lima) melanggar Pasal 114 ayat (2) Jo Pasal 132 ayat (1) UU RI No.35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

Baca juga: Miliki BB 11 Kilo Sabu, Dua Terdakwa ini Divonis Ringan di Bawah Tuntutan Jaksa 

Sebelumnya para terdakwa tersebut dituntut Jaksa Karya So Immanuel, Frihesti Putri Gina dan Yan Elhas Zeboea, 20 tahun penjara denda Rp 1 miliar subsider 6 kurungan penjara.

Kendati pemerintah Republik Indonesia saat ini sedang gencar melakukan memerangi peredaran Narkotika di  Indonesia, namun vonis yang dijatuhkan majelis hakim terhadap para terdakwa ini, jauh lebih ringan di bawah tuntutan jaksa.

Terdakwa Heri dan Hendry bersama 2 polisi saksi penangkap saat bersaksi di PN Batam, Rabu (23/1) lalu.
Sebelumnya ketiga terdakwa ditangkap polisi dari Mabes Polri di Batam saat hendak mengirimkan paket 1 kilo sabu melalui TIKI di Nagoya tujuan ke Kendari.

Waktu itu, saat sidang pemeriksaan,  kepada majelis hakim terdakwa Yulistiani alias Enda mengakui dirinya disuruh oleh seorang narapidana di Lapas Perempuan Batam yang bernama Yuyun.

Enda mengatakan ia dipandu Yuyun dengan menggunakan video call. Sedangkan teman satu kamarnya Yessi waktu itu kepada majelis hakim  mengaku tidak tahu menahu soal sabu itu. Bahkan Enda juga mengatakan itu kepada hakim kalau Yessi tidak bersalah dan tidak mengetahui kalau ia sedang bergelut dengan narkoba tersebut.

Baca juga: Pengiriman Sabu Dikendalikan dari Lapas Perempuan Batam? Enda: Saya Dipandu Yuyun Pakai Video Call

" Dia (Yessi=red) tidak tahu soal ini, dia hanya mengantarkan saya ke Tiki, dia mengantar saya naik sepeda motornya," kata Enda.

Namun dengan gencarnya pertanyaan yang dicecar hakim terhadap Yessi, Yessi pun akhirnya mengakui kalau ia mengetahui apa yang dilakukan oleh Enda saat itu.

Sedangkan terdakwa Budhi Hariawan adalah suruhan dari seseorang bernama Sofian yang juga masih bersatus narapidana di Lapas Tanjungpinang.

Dalam hal ini, tugas Budhi waktu itu ialah mamemantau Enda dari jarak jauh saat hendak melakukan pengiriman sabu melalui di Tiki di Nagoya, Batam.

Ketiga terdakwa ini ditangkap dari hasil pengembangan di mana setelah sebelumnya dua terdakwa Heri Laonardy alias Cobra dan Hendry alias Apen ditangkap di Kendari. Dari jaringan ini, polisi mengamankan barang bukti seberat 11 Kilogram sabu.

Terdakwa Heri Laonardy alias Cobra dan Hendry alias Apen sebelumnya pada pada Selasa (23/04/2019) telah divonis bersalah dengan hukuman yang berbeda.

Heri Laonardy alias Cobra divonis 17 tahun penjara, sedangkan Hendry alias Apen 15 tahun penjara dengan masing-masing denda Rp 1 miliar subsidair 6 bulan kurungan penjara.

Kelima terdakwa ini semuanya divonis lebih ringan di bawah dari tuntutan jaksa. Terhadap putusan terhadap Heri Laonardy dan  Hendry, Jaksa Rumondang Manurung kepada majelis hakim diketuai hakim Afrida Yanti, waktu itu menyatakan pikir-pikir. (Ag)

Apa reaksi anda tentang artikel ini?

Loading...