Sidang Judi Gelper, Jhon Sakon: Mesin Milik Steven Warga Singapura, Jon Tarigan Hanya Perantara - DINAMIKA KEPRI

Wednesday, 3 April 2019

Sidang Judi Gelper, Jhon Sakon: Mesin Milik Steven Warga Singapura, Jon Tarigan Hanya Perantara

  4 kali


Sidang Judi Gelper, Dua orang saksi meringankan saat disumpah, di PN Batam, Senin (1/4/2019)

Dinamika Kepri, Batam - Di sidang pemeriksaan, terdakwa Jhon Sakon pengawas Gelanggang Permainan (Gelper) Tarigan House Games yang ditangkap polisi dari Polresta Barelang pada tanggal 1 Desember 2018 lalu, kepada majelis hakim mengaku bahwa usaha Gelper di daerah Kios Pasar Pagi samping Pasar Induk Batam itu, bukanlah milik Jon Tarigan, melainkan milik Steven Warga Singapura.

"Mesin ketangkasan di Gelper itu miliknya Steven warga Singapura, sedangkan Jon Tarigan hanya perantara. Kalau saya sebagai pengawasnya," kata Jhon Sakon Ginting saat disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Batam bersama rekan kerjanya, Ika Agustin yang peran sebagai wasit, Senin (1/4/2019).

Meski berkasnya terpisah, pada sidang itu, majelis hakim yang diketuai hakim hakim Setyanto Hermawan tidak hanya menyidangkan terdakwa Jhon Sakon dan Ika Agustin saja, tetapi juga sekaligus menyidangkan dua terdakwa lainnya yakni Eddy Ardian dan Bobby Sinulingga (Pemain Gelper=red) secara bersamaan.

Kepada majelis hakim, terdakwa Jhon Sakon juga mengaku bahwa Gelper tempat ia bekerja itu, sama sekali belum ada izinnya.

"Kalau izinya belum ada yang mulia. Steven pernah bilang pada saya, enggak apa-apa buka saja, izinnya nyusul karena masih dalam pengurusan. Mengenai nama tempat, Tarigan House Games, itu juga namanya, dan memang tidak ada namanya," ucap Jhon Sakon.

Selain itu, terdakwa Jhon juga mengaku kalau ia digaji Steven hanya Rp 50 ribu perhari, sedangkan Ika Agustin sebagai wasit, digaji Rp 100 ribu perharinya.

" Loh, kamukan pengawas, kenapa gaji wasit lebih besar dari pengawas?," tanya hakim penasaran.

" Rp 50 ribu itu uang makan yang mulia, kalau saya hitung persentase, perbulan dapat 25 persen dari keuntungan. Saya setornya ke Steven," kata Jhon Sakon.

Soal omset perhari, saat ditanya hakim, Jhon mengaku sehari bisa mendapatkan Rp 800 ribu hingga Rp 1 juta.

Adapun inti dari pemeriksaan para terdakwa itu ialah untuk mengetahui apakah benar ada pratek perjudian di Gelper itu.

Pengakuan terdakwa Jhon Sakon mengatakan, pemain yang memiliki poin (nilai=red) tinggi bisa ditukarkan ke uang. Demikian juga pengakuan terdakwa Ika Agustin, katanya jika ingin bermain game, pemain harus mengisi nilai kredit ke mesin game dengan cara membelinya ke wasit.

Ironisnya lagi, meski terdakwa Eddy Ardian dan Bobby Sinulingga masing-masingnya menghadirkan saksi untuk meringankan pada sidang itu, namun terkesan tidak ada nilainya, karena keterangan dari para saksi itu dipatahkan oleh jaksa Manuel dengan mempertegas bahwa kedua terdakwa diamankan polisi waktu itu karena dari pengakuan sendiri.

Sedihnya lagi, terdakwa Jhon Sakon dan Ika Agustin mengaku bahwa selama mereka selama berada di dalam tahanan, Jon Tarigan dan Steven, tak pernah sekalipun datang menjenguk mereka. 

Setelah mendengarkan keterangan dari dua orang saksi meringakan dan mendengarkan keterangan dari para terdakwa yang saling bersaksi satu sama lain, majelis hakim lalu menunda sidang satu minggu ke depan dengan agenda sidang mendengarkan tuntutan dari jaksa penuntut umum.

Atas Perbuatannya, terdakwa Jhon Sakong dan Ika Agustin diancam pidana pasal 303 Ayat (1) ke-1 Jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP, atau kedua Pasal 303 ayat (1) ke-2 Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Sedangkan untuk terdakwa Eddy Ardian dan Bobby Sinulingga, keduanya diancam pidana Pasal 303 ayat (1) ke-3 KUHP, atau kedua Pasal 303 Jo pasal 303 Bis ayat (1) ke-2 KUHP.

Dalam perkara ini, Jon Tarigan dan Steven Warga Singapura itu, telah masuk Daftar Pencarian Orang (DPO) Polresta Barelang. (Ag)

Apa reaksi anda tentang artikel ini?