Mengaku Tak Miliki Pekerjaan, Khairul dan Azwani Pilih jadi Perantara Sabu - DINAMIKA KEPRI.COM

Tuesday, 30 April 2019

Mengaku Tak Miliki Pekerjaan, Khairul dan Azwani Pilih jadi Perantara Sabu

  4 kali


Ilustrasi foto sabu. (F/hellosehat.com)

Dinamika Kepri, Batam - Kedapatan bawa sabu 0,52 gram, Khairul dan Azwani disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Batam, Selasa (30/4/2019).

Pada sidang kedua ini, Jaksa Penunut Umum (JPU) Kadek Agus AW menghadirkan saksi penangkap (polisi=red) dan 1 orang saksi pemilik sepeda motor yang merupakan kenalan dari salah satu terdakwa.

Saksi penangkap mengatakan, kedua terdakwa asebelumnya ditangkap saat berada di Lorong Samping Hotel Hana, Nagoya, Lubuk Baja, Batam.

Penangkapan itu dilakukan kata saksi yakni berdasarkan laporan dari masyarakat. Dari hasil pemeriksaan setelah diamankan, dari Khairul Yasin polisi menemukan satu bungkus Narkotika jenis sabu seberat 0,52 gram.

"Kedua terdakwa kami amankan di Lorong Samping Hotel Hana, Nagoya, Lubuk Baja, Batam pada bulan Januari 2019 lalu. Saat diperiksa, dari Khairul Yasin kami menemukan 0,52 gram sabu. Sedangkan dari  Azwani, kami tidak menemukan bukti apapun. Namun uang untuk pembelian sabu itu adalah milik Azwani," kata saksi. 

"Menurut pengakuannya, sabu itu dibeli dari seseorang yang bernama Zidan (DPO) seharga Rp 200 ribu. Rencananya sabu itu akan diantarkan kepada pemesan yang bernama Cina (DPO) dengan harga Rp.500 ribu, lalu untungnya sebesar Rp 300 ribu akan mereka bagi dua," sambung saksi penangkap.

Sedangkan saksi pemilik sepeda motor dalam sidang ini, ia hadir hanya memastikan kepada hakim bahwa sepeda motor yang sebelumnya dipakai kedua terdakwa saat membeli sabu itu dan dijadikan barang bukti dalam perkara itu, adalah miliknya.

Setelah memastikan bukti kepemilikan dengan menujukan STNK dan BPKB ke hakim, majelis lalu hakim memerintahkan jaksa agar segera memberikan barang bukti sepeda motor yang dimaksud itu kepada saksi.     

Atas keterangan polisi dan pemilik sepeda motor tersebut, kedua terdakwa membenarkannya. Setelah usai melakukan pemeriksaan saksi, majelis hakim diketuai hakim Jasael Manulang lalu melanjutkan sidang pada pemeriksaan terdakwa.

Saat ditanya hakim, apa yang membuat terdakwa terlibat dalam peredaran Narkotika, kepada hakim, kedua terdakwa menjawab karena mereka tidak memiliki pekerjaan.

"Karena tidak ada pekerjaan yang mulia, Jika pesanan itu sampai ke pemesan, maka untungnya akan kami bagi dua," jawab terdakwa.

"Jadi kalau tidak bekerja, lantas jadi melawan hukum? Kan masih banyak pekerjaan lain yang halal bisa dilakukan, contohnya bekerja di toko untuk angkat-angkat barang, kan bisa?," kata hakim Jasael.

Setelah usai mendengarkan pengakuan kedua terdakwa, majelis hakim lalu menunda sidang satu minggu ke depan dengan melanjutkan agenda sidang untuk mendengarkan tuntutan JPU terhadap kedua terdakwa.

Sebelumnya, JPU mendakwa kedua terdakwa dengan menggunakan pasal 114 ayat (1) jo pasal 132 Ayat (1) Undang-undang Republik Indonesia Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika, subsidair  pasal 112 ayat (1) jo pasal 132 ayat (1) Undang-undang Republik Indonesia Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika.(Ag)

Apa reaksi anda tentang artikel ini?