Diduga Gelapkan Uang Pembeli Rp 162 Juta, Arison Mantan Sales Apartemen Nuvasa Bay Disidangkan - DINAMIKA KEPRI.COM

Monday, 15 April 2019

Diduga Gelapkan Uang Pembeli Rp 162 Juta, Arison Mantan Sales Apartemen Nuvasa Bay Disidangkan

  Dibaca: 1 kali


Terdakwa Arison Andreas Simarmata usai menjalani sidang pemeriksaan di PN Batam, Senin (15/4). 

Dinamika Kepri, Batam - Sidang lanjutan perkara dugaan penggelapan dengan terdakwa Arison Andreas Simarmata alias Andre, kembali digelar Pengadilan Negeri (PN) Batam, Senin (15/4) sore.

Kepada majelis hakim, terdakwa mantan sales yang sebelumnya turut ikut memasarkan atau menjual Apartemen Nuvasa Bay, Nongsa, Batam itu membenarkan semua keterangan saksi korban, Cheung Chung Yeung Peter alias Pieter.

"Benar yang mulia," kata terdakwa yang disebut-sebut sales dari Sinarmas Land itu kepada majelis hakim.

Dalam sidang, korban Pieter mengaku telah ditipu oleh terdakwa dengan cara menawarinya satu unit apartemen bernomor 7-A01  di Nuvasa Bay, Sambau, Nongsa, Batam, yang mana Apartemen yang ditawarkan oleh terdakwa itu kepadanya, ternyata milik orang lain.

Kepada majelis hakim yang diketuai hakim Jasael didampingi hakim Chandra, korban mengaku akibat itu, ia telah mengalami kerugian Rp 162 juta.

" Kerugian saya mencapai Rp 162 juta yang mulia," kata Pieter.

Terkait uang yang sudah diterima terdakwa dari korban itu, kepada hakim terdakwa mengatakan, kalau uang itu sudah dihabiskan dengan foya-foya.

"Uang itu sudah habis foya-foya yang mulia," jawab terdakwa kepada majelis hakim.

Pada sidang pemeriksaan saksi dan terdakwa ini, selain dihadiri saksi korban, juga dihadiri saksi Asrawati pemilik apartemen dan saksi Ari Wijayanti selaku Section Head Divisi Finance di PT. AFP DWI LESTARI sebagai penjual properti di Nuvasa Bay.

Saksi korban, Cheung Chung Yeung Peter saat di PN Batam.
Kepada hakim, saksi Asrawati mengatakan, secara sah dialah pemilik apartemen 7-A01 itu. Ia juga mengaku kalau dirinya pernah menawarkan kepada terdakwa, agar menjualkan apartemen miliknya itu, namun tak mengira akan berakhir seperti ini.

"Apartemen 7-A01 itu milik saya. Memang benar, saya pernah meminta terdakwa untuk menjualkan apartemen itu," kata Asrawati.

Menurut saksi Ari Wijayanti, ia membenarkan kalau terdakwa sebelumnya adalah mantan Sales (marketing) dari Sinarmas Land yang ikut memasarkan apartemen di Nuvasa Bay dan sudah dipecat.

Tak hanya itu, kata saksi korban kepada majelis hakim, setelah usai perkara ini, ia juga akan kembali melaporkan terdakwa dengan kasus yang lain.

" Setelah usai ini, saya juga akan melaporkan terdakwa kembali dengan kasus yang lain. Untuk kasus itu dia tidak sendiri, ada orang lain," kata korban melalui penerjemahnya kepada majelis hakim. 

Setelah mendengarkan keterangan para saski dan pengakuan dari terdakwa, majelis hakim lalu menunda sidang hingga tanggal 24 April 2019 mendatang dengan agenda sidang untuk mendengarkan tuntutan dari Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Sebelumnya jaksa Rumondang Manurung mendakwa terdakwa Andres dengan diancam pidana sebagaimana dimaksud pasal 372 KUHP tentang penggelapan, atau kedua  dengan ancaman pidana sebagaimana dimaksud pasal 378 KUHP tentang penipuan.

Dalam hal ini, terdakwa disidangkan diduga telah dengan sengaja memiliki dengan melawan hak sesuatu barang yang sama sekali atau sebagiannya termasuk kepunyaan orang lain dan barang itu ada dalam tangannya bukan karena kejahatan.

Kronologisnya, kasus ini berawal di bulan April tahun 2018 silam. Awalnya Asrawati menghubungi terdakwa supaya bisa membantu menjualkan apartemennya itu dan terjadilah kesepakatan.

Setelah itu, terdakwa lalu menawarkannya ke korban melalui handphone dengan mengatakan bahwa ada yang ingin menjual apartemen dengan cara mengalihkan hak atau mengganti nama dengan harga sebesar Rp.844.267.000.

Saat itu terdakwa juga mengatakan itu harganya murah, dan sayang jika tidak diambil karena apartemen itu viewnya bagus menghadap kelaut.

Mendengar perkataan terdakwa tersebut, korban menjadi tertarik sehingga  ingin membeli apartemen bernmor7-A01 tersebut.

Selanjutnya, terdakwa lalu menghubungi Asrawati dengan mengatakan sudah ada pembeli apartemen 7-A01 dan menyetujui penjualan tersebut.

Selang dari itu, korban lalu menghubungi terdakwa dengan mengatakan akan mentransfer uang secara bertahap untuk pembelian unit apartemen tersebut. Setelah itu korban mentransfer uang sejumlah US$6.300. Uang itu ditransfernya  melalui Bank HSBC via internet banking ke Bank BCA terdakwa.

Selanjutnya pada tanggal 4 Juli 2018, korban datang ke Batam dan bertemu dengan terdakwa untuk melunasi pembelian unit apartemen tersebut.

Pada saat korban diajak terdakwa melihat pembangunan unit apartemen di Nuvasa Bay itu, korban kembali menyerahkan uang sebesar US$5.500 kepada terdakwa .

Lalu keesokan harinya, terdakwa menghubungi korban dengan mengatakan bahwa proses peralihan akan dilakukan selama kurang lebih 3 minggu.

Kemudian pada awal bulan Oktober 2018, korban lalu berkunjung ke Nuvasa Bay dan bertemu dengan Ari Wijayanti, dalam pertemuan itu, korban menanyakan soal pengalihan balik nama apartemen 7-A01 itu.

Menjawab korban, Ari Wijayanti lalu menjelaskan bahwa apartemen 7-A01 itu masih milik orang lain yakni milik Asrawati, dan tidak pernah dialihkan kepada siapapun.

Mendengar penjelasan Ari Wijayanti, korban akhirnya mengetahui kalau uang yang diberikannya untuk pembelian apartemen 7-A01 tersebut, ternyata tidak diserahkan terdakwa  kepada PT. AFP DWI LESTARI maupun kepada Asrawati. Setelah itu terdakwa lalu dilaporkan ke polisi, dan berhasil diamankan pada hari Jumat tanggal 1 Juni 2018.(Ag)

Apa reaksi anda tentang artikel ini?

Loading...