Kamaruddin Nahkoda Kapal SB Swift Hawk Akui Salah - DINAMIKA KEPRI

Wednesday, 6 March 2019

Kamaruddin Nahkoda Kapal SB Swift Hawk Akui Salah

  4 kali


Terdakwa Kamaruddin (baju merah).
Dinamika Kepri, Batam - Meski di sidang sebelumnya orang 4 saksi, 3 ABK dan 1 orang perwakilan dari pihak pemilik Kapal berbelit saat memberikan keterangannya kepada majelis hakim, namun pada sidang pemeriksaan terdakwa, Rabu (6/3) sore,  di Pengadilan Negeri (PN) Batam, terdakwa Kamaruddin Nahkoda Kapal SB Swift Hawk berbendera Singapura tangkapan TNI AL itu mengakui kesalahannya.

"Saya mengaku salah yang mulia. Apa yang dikatakan saksi penangkap itu adalah benar," kata Kamaruddin tertunduk kepada hakim.

Selain itu, kepada majelis terdakwa yang mengaku baru 5 bulan menjadi Nahkoda Kapal itu juga mengatakan kalau dirinya tidak akan mengulangi kesalahan yang sama di lain waktu.

Pada sidang ini, saksi penangkap tidak dapat hadir karena harus pergi berlayar, namun saksi penangkap dari TNI AL itu menuangkan keterangannya secara tertulis dan dibacakan oleh jaksa penuntut dalam persidangan.

"Tadi saksi hadir yang mulia, namun tidak bisa menunggu lama karena hari ini katanya saksi akan pergi berlayar, tapi saksi menuangkan keterangannya dengan cara tertulis," kata jaksa Rumondang Manurung kepada Majelis hakim yang diketui hakim Syahlan.

Setelah usai mendengarkan pengakuan dari terdakwa, majelis hakim lalu menunda hingga tanggal 12 Maret 2019 mendatang dengan agenda sidang tuntutan.

Sebelumnya Kamaruddin diamankan TNI AL yang sedang berpapatroli saat melakukan transhipment dengan MV Tangguh Towuti bendera Singapore diperairan Indonesia tampa mendapat izin Syahbandar Batam.

Namun sebelum diamankan, Kamaruddin sempat melalukan perlawanan dengan berusaha kabur dengan Kapal yang dibawanya.

Kamaruddin dan krunya berhasil ditangkap setelah peluru tembakan petugas menghujani kapal yang dibawanya. Kamaruddin dan ABK kapal itu diamankan di posisi 01 15.567 U – 104 05.677 T.

Dalam perkara ini 3 ABK tidak ditahan, namun Kapal SB Swift Hawk dan dokumen kapal beserta isi muatan kapal berupa bahan material dan makanan, dijadikan dijadikan barang bukti.

Akibat perbuatannya, terdakwa Kamaruddin didakwa dengan ancaman pidana pasal 323 Ayat (1) jo. pasal 219 ayat (1) UU No. 17 tahun 2008 tentang pelayaran.(Ag)

Apa reaksi anda tentang artikel ini?