Jeritan Hati Henry Suami Terdakwa Erlina Mohon ke Presiden agar Menjelaskan Gunanya Permen Hukum dan HAM Tahun 2011 - DINAMIKA KEPRI

Sunday, 10 March 2019

Jeritan Hati Henry Suami Terdakwa Erlina Mohon ke Presiden agar Menjelaskan Gunanya Permen Hukum dan HAM Tahun 2011

  4 kali


Detail penahanan terdakwa Erlina.(F/screen shoot SIPP PN Batam).

Dinamika Kepri, Batam - Sembari memeluk ketiga anaknya yang masih kecil-kecil, Henry (36) suami terdakwa Erlina yang sampai saat ini masih ditahan Lapas Perempuan, Baloi,  Batam, terlihat begitu sedih dengan meneteskan air mata saat  mengatakan kepada anaknya, kalau ibu mereka belum bisa pulang hari ini, karena masih melakukan perkerjaan di luar kota.

“Ibu kalian hari ini belum bisa pulang. Kata ibu kalian, ia masih banyak pekerjaan yang harus dilakukannya. Pesannya pada kalian jangan nakal, harus rajin belajar supaya menjadi anak pintar,” kata Henry untuk menyenangkan hati anak-anaknya.

Ketiga anak Henry terlihat begitu sangat merindukan kehadiran sosok ibunya untuk memeluk mereka. Tetesan air mata Henry terlihat tak terbendung di mana setelah anak - anaknya berulang kali menanyakan kapan ibunya pulang ke rumah. Apalagi anaknya perempuan yang bungsu, selalu menangis ingin ketemu ibunya.

Kejadian menyedihkan hati itu, terlihat saat Henry pulang menjenguk istrinya Erlina dari Lapas Perempuan, Baloi, Batam, Jumat (8/3/2019).

Saat ditanya awak media ini apa yang membuat Henry sedih waktu itu, jawabnya karena tak sanggup menahan kesedihan melihat ke tiga anaknya yang selalu bertanya kapan ibu mereka pulang.

"Saya sangat sedih sekali mas. Tiap hari ketiga anak saya itu selalu menanyakan kapan ibunya pulang. Apalagi yang bungsu itu, kalau malam sering nangis nanyain ibunya di mana," ucap Henry sedih.

Kata dia, untuk menenangkan hati para anak-anaknya, ia terpaksa berbohong dengan mengatakan, jika saat ini istrinya itu sedang bekerja di luar kota.

"Saya katakan saja kalau ibu mereka sedang tugas kerja keluar kota dengan waktu yang sangat lama walau sebenarnya ibu mereka sedang ada di penjara, karena jika aku jujur pada mereka, jelas itu akan mempengaruhi fisikologis mereka. Mereka masih anak-anak, artinya belum siap untuk menerima kenyataan itu," kata Henry.

Menurut Henry, sejak istrinya ditahan di Lapas Perempuan, Baloi, Batam sejak dari tanggal 9 Juli 2018 yang lalu, kehidupannya selalu dirundung kesedihan, begitu juga dengan ketiga anaknya.

Erlina.
Henry mengaku ia memiliki tiga orang anak yakni 2 laki-laki dan 1 parempuan. Anaknya yang sulung saat ini sudah berumur 8 tahun, sedangkan yang bungsu berumur 5 tahun.

"Yang sulung itu kelas tiga SD, adiknya kelas dua, kalau yang bungsu itu perempuan, masih TK," katanya lagi. 

Lanjut Henry mengatakan, sejak istrinya ditahan karena dugaan melakukan penggelapan dalam jabatan saat bekerja di BPR Agra Dhana, Kalau ia pergi bekerja, ketiga anaknya itu dititip di rumah bersama neneknya (ibu Erlina=red).

Ia mengisahkan, pada tahun 2011 yang lalu, pihak BPR Agra Dhana mengangkat Erlina menjadi Direktur Utama.

Erlina diangkat diposisi pimpinan waktu itu kata Henry, karena prestasi Erlina telah ikut memajukan BPR itu.

Namun pada tahun 2015, Erlina mengundur diri dari pekerjaannya karena ibunya waktu itu menderita mengidap penyakit kanker, dan sangat membutuhkan perhatian dari Erlina.

“ Istri saya mengundurkan diri waktu itu, karena mertua saya sedang sakit mengidap penyakit kanker dan harus segera dioperasi. Karena butuh perhatian serius, istri saya lalu memutuskan mengundurkan diri pekerjaaannya, pikirnya waktu, kalau ibu sakit, siapa lagi yang akan menjaga anak, sementara saya juga bekerja. Jadi itu alasannya kenapa istri saya harus mengundurkan diri. Bukan karena dia ada masalah di BPR Agra Dhana itu, lalu meninggalkannya, itu tidak benar,” terang Henry.

Kata Henry, istrinya masuk penjara karena dilaporkan oleh Direktur Marketing BPR Agra Dhana, Bambang Herianto karena Erlina tidak menyanggupi permintaan pihak BPR Agra Dhana yang meminta uang sebesar Rp 1,2 milar meski sebelumnya Erlina sudah menyetorkan Rp 929 juta ke BPR itu.

Erlina dilaporkan Bambang herianto  ke polisi dengan tuduhan telah melakukan penggelapan uang perusahaan dengan kerugian bunga uang Rp 4 juta.

"Setelah disetorkan Rp 929 juta, pelapor itu kembali meminta Rp 1,2 miliar dengan mengatakan, ada temuan baru dari pembukuan mereka setelah dilakukan diaudit internal. Yang diminta Rp 1,2 miliar, tapi yang dilaporkan kerugian bunga Rp 4 juta. Tak hanya itu, saat Erlina meminta rincian dari Rp 929 juta yang sudah disetornya itu di jurnalkan sebagai apa, pihak BPR Agra Dhana juga tidak bisa menunjukannya buktinya, begitu juga di saat persidangan,"ujar Henry.

"Rincian dari Rp 929 juta saja mereka tidak bisa tunjukan itu untuk apa, malah minta Rp 1,2 miliar lagi, itu namanya pemerasan. Jangan karena istri saya tidak bisa diperas lagi lalu di penjarakan. Itu namanya tidak manusiawi," sambungnya.

Saat ditanya awak media ini, jika Erlina tidak melakukan seperti yang dituduhkan oleh pelapor, mengapa Erlina mau menyetorkan uang Rp 929 juta itu ke pihak BPR Agra Dhana? Jawab Henry karena situasinya itu waktu sangat genting.

“Sepertinya mereka tahu di mana waktu yang tepat. Di saat waktu situasi kami sangat genting, pihak BPR masuk dengan menuduh bahwa Erlina telah menggelapkan uang perusahaan itu, dan meminta agar kembalikan dengan ancaman jika tidak, akan melaporkannya ke polisi. Saat itu ibu mertua saya sedang  menderita penyakit kanker dan akan segera dioperasi. Orang sakit butuh ketenangan, apalagi orang tua yang sakit mendengar anaknya akan dilaporkan ke polisi, tentu bisa fatal akibatnya,” ungkap Henry. 

“Tak mau hal itu terjadi pada ibunya, istri saya lalu menyanggupinya dan mentransfernya beberapa kali dalam kurun waktu yang berbeda hingga mencapai Rp 929 juta, ,” sambungnya.

Kata Hendri, uang ditransfer Erlina ke Rekening BPR Agra Dhana dengan catatan pihak BPR Agra Dhana harus menunjukan buktinya kesahalan yang dilakukan Erlina.

Namun nyatanya itu tidak ada, karena saat Erlina memintanya ke pihak BPR itu, pihak BPR Agra Dhana tidak bisa menunjukannya, malah kembali meminta Rp 1,2 miliar lagi dengan ancaman yang sama.

“Merasa telah diperas, Erlina pun tidak mau menyaggupinya, dan benar, Erlina dilaporkan ke polisi. Cuma heran saya, kenapa yang dilaporkan cuma Rp 4 juta, itu pun kerugian bunga uang.  Aneh, mintanya Rp 1,2 miliar tapi yang dilaporkan Rp 4 juta. Di situlah  saya tidak habis pikir, sebenarnya ada apa dibalik semua ini,” ucap Henry penasaran.

Selain itu, selama Henry mengikuti proses persidangan istrinya dari Pengadilan Negeri (PN) Batam hingga ke PT Pekanbaru, dia begitu merasakan banyak kejanggalan.

"Kejanggalan begitu terasa, tapi apa yang bisa keperbuat? Saya ini tidak mengerti soal hukum, Saya hanya bisa melihat dan menyerahkan sepenuhnya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Di sini saya hanya bisa berserah diri, jika memang istri saya bersalah, saya siap menerimanya, namun jika sebaliknya dan tetap melakukan istri saya seperti orang bersalah, biarlah mereka yang merasa menzolimi itu yang berperkara dengan Tuhan," pungkasnya.

Pemantuan awak media sejak perkara ini bergulir hingga ke persidangan, terlihat begitu sangat rumit seakan dipenuhi trik dan intrik.

Aneh memang, yang dilaporkan pelapor Rp 4 juta, itu pun pelapor kabur entah ke mana tidak pernah bersaksi di pengadilan.

Dilaporkan Rp 4 juta tetapi didakwaan jaksa Rp 117 juta. Dari penyidik kepolisian, Erlina dikenakan pasal 374 tentang penggelapan dalam jabatan, tetapi didakwaan jaksa berubah jadi dakwaan tentang Perbankan.

Tak hanya itu, perkaranya Pid.B namun berubah menjadi perkara Pid.Sus. Mengenai hal itu, kata hakim Mangapul Manalu, itu salah ketik.

Nomor register terdakwa Erlina yakni 612/Pid.B/2018/PN Btm, namun saat majelis hakim PN Batam melakukan pengajuan permohonan penetapan perpanjangan penahanan ke PT Pekanbaru, hakim yang menyidangkan diduga sengaja mengubahnya Pid.B menjadi perkara Pid.Sus diduga agar permohonan penetapan perpanjangan penahanan terdakwa Erlina itu, dapat dikabulkan oleh PT Pekanbaru, sebab jika Pid.B yang diajukan, kecil kemungkinannya permohonan akan dikabulkan.

Anehnya lagi, meski hakim telah menggugurkan dakwaan alternatif pertama dakwaan tentang Perbankan, majelis hakim yang menyidangkan perkara tersebut bukannya membebaskan terdakwa, malah memvonis terdakwa Erlina bersalah dengan 2 tahun penjara dengan menggunakan dakwaan alternatif kedua pasal 374, membuat dakwaan alternatif seolah-olah seperti dakwaan subsidair.

Tak hanya itu, kejanggalan juga diduga terus terjadi saat proses sidang banding di PT Pekanbaru, di mana majelis hakimnya melibatkan hakim yang sudah pensiun dan melibatkan hakim sudah berstatus pindah tugas ke daerah lain, namun majelis hakim itu bubar setelah terekspos di media, dan segera digantikan dengan majelis hakim yang lain.

Saat ini, Henry mengaku sangat membutuhkan adanya keadilan hukum bagi istrinya. Henry juga merasa kalau istrinya telah dizolimi oknum penegak hukum yang tidak bertanggung jawab karena tetap menahan Erlina walau masa penahanan telah berakhir.

Masa penahanan Erlina dari PT Pekanbaru kata Henry sudah berakhir sejak tanggal 27 Februari 2019 yang lalu, namun Kalapas Perempuan, Baloi, Batam, Mulyani masin tetap menahan Erlina tanpa adanya surat penetapan perpanjangan penahan dari Mahkamah Agung (MA).

Penahanan Erlina tetap dilakukan Kalapas yakni berdasarkan dari petikan putusan dari PT Pekanbaru dan menyatakan memiliki dasar hukum berdasarkan Surat Edaran Direktur Jenderal Pemasyarakatan Departemen Kehakiman Tahun 1987.

Walau sudah ada Peraturan Menteri (Permen) Hukum dan Hak Asasi Manusia RI  No. M.HH-24.PK.01.01.01 Tahun 2011 yang terbaru dan lebih lengkap yang mengatur itu, namun Kalapas masih memakai surat edaran dari tahun 1987.

Di Permen Hukum dan Hak Asasi Manusia RI Tahun 2011 disebutkan, di mana setiap tahanan yang sudah habis masa penahanannya, harus dibebaskan demi hukum, kecuali terdakwa kasus pembunuhan, narkoba, teroris dan kasus yang meresahkan masyarakat, wajib tetap ditahan menunggu sampai MA mengeluarkan penetapan perpanjangan penahanan.

“ Istri saya tidak termasuk dalam kategori perkara itu, lantas kenapa masih ditahan juga? Itukan tidak adil namanya,” cetus Henry penasaran.

Ketidakadilan yang dirasakan Henry ini, akhirnya membuatnya penasaran. Kata dia ada aturannaya, tapi tidak diterapkan.

Ia juga memohon serta meminta kepada Presiden RI Joko Widodo Cq Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia RI agar bisa menjelaskan kembali kegunaan Permen tahun 2011 itu, sebab yang dirasakannya saat ini, peraturan itu tidak berjalan sebagaimana mestinya.

“Saya ini masyarakat bodoh dan buta soal hukum, makanya saya bertanya dan butuh penjelasan soal kegunaan Permen 2011 itu dari Presiden kita. Artinya saya juga kepingin tahu apakah Permen itu masih berlaku atau tidak saat ini. Mohon penjelasan dari Presiden kita soal itu. Jika Permen itu masih berlaku, kenapa tidak diterap juga kepada istri saya. Apa bedanya dengan yang lain? Istri saya juga warga indonesia, harusnya juga sama di mata hukum,” ungkapnya lagi. 

Sebelumnya juga, sewaktu masa penahanan Erlina berakhir dari PN Batam, terdakwa waktu itu sempat dikeluarkan bebas demi hukum oleh Kalapas. Tetapi saat itu bebas sesaat, karena Ketua PN Batam, Syahlan tidak menyetujuinya, dan memaksa pihak Lapas kembali memasukan Erlina ke dalam sel tahanan.

Kalapas mengeluarkan Erlina waktu itu karena penetapan perpanjangan penahanan dari PT Pekanbaru tak kunjung diterima pihak Lapas Perempuan dari PN Batam.

Pantuan awak media ini di Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP) PN Batam, masa penahanan Erlina dicatumkan hanya sampai tanggal 13 Desember 2018, namun sampai saat ini terdakwa Erlina masih tetap ditahan di Lapas Perempuan Batam.

Ketika ditanya awak media ini, bagaimana tentang kabar ibu mertuanya saat ini, jawab Henry baik-baik saja.

"Kabarnya sehat dan baik-baik saja. Setelah operasi itu, kondisinya semakin baik saja, cuma masih tetap melakukan pengobatan," tutup Henry. (Ag)


Editor: Agus Budi Tambunan.

Apa reaksi anda tentang artikel ini?