Inilah Tulisan Muhammad Riza Fahlevi yang Viral itu - DINAMIKAKEPRI.COM

Friday, 8 March 2019

Inilah Tulisan Muhammad Riza Fahlevi yang Viral itu

  4 kali

Foto screen shoot dari FB.
Dinamika Kepri, Batam - Tidak tahu apa tujuan Muhammad Riza Fahlevi memosting tulisannya seperti itu di akun laman Facebooknya. Gara-gara postingannya itu akhirnya membuat para pemilik media online jadi begitu kesal padanya.

Meski ia sudah menyatakan permintaan maaf secara tertulis melalui laman facebooknya, Kamis (7/3/2019), namun tidak semua bisa menerima dan memaafkannya begitu saja, karena mengingat, apa yang telah dipostingnya itu telah menyakiti hati para pemilik media online (daring) di Batam.

Baca juga: Setelah Viral Sebut Media Online Brengsek, Muhammad Riza Fahlevi Meminta Maaf

Bahkan ada informasi yang menyebutkan, salah satu wadah perhimpunan media online di Batam, tetap tidak terima permintaan maaf itu dan akan melanjutkannya ke ranah hukum dengan melaporkannya ke polisi.

Begini isi tulisannya itu, judulnya: "Insinuasi, Fitnah di Balik Tanda Tanya"

Oleh: Muhammad Riza Fahlevi

Warga Batam harus cerdas memilih media, khususnya media online, mengingat saat ini sangat gampang membuat media daring ini. Hanya modal Rp100 ribu, sudah jadi. Anda bisa jadi wartawan, redaktur, pemimpin redaksi bahkan general manajer. Lalu bagaimana kualitas beritanya? Ini yang jadi masalah.

Bukan rahasia lagi, menjamurnya media online ini, karena dirasa bisa mendapat duit dengan mudah. Misal berebut adsense dari Google.

AdSense adalah program kerjasama periklanan melalui media Internet yang diselenggarakan oleh Google. Pemilik situs web atau blog akan mendapatkan pemasukan berupa pembagian keuntungan dari Google untuk setiap iklan yang diklik oleh pengunjung situs, yang dikenal sebagai sistem pay per click atau bayar per klik.

Karena itu banyak media online yang berlomba menarik klik atau istilahnya klikbait dari pengunjung. Caranya dengan berlomba mengemas berita jadi klikable. Bisa melalui judul yang bikin penasaran dan sebagainya.

Baca juga: Postingan Oknum Wartawan yang Menyudutkan Media Online di FB Ditanggapi Serius AJO Indonesia

Karena dituntut harus memenuhi kuota berita, maka adakalanya media daring ini menjadi media kurator. Berita comot sana sini, lalu diframing lagi kembali sesuai keinginannya.

Apapun ini masih dirasa sesuai jalur. Namun yang disayangkan, fenomena menjamurnya media online ini banyak yang dipakai untuk memeras.

Modusnya: mereka mendatangi pejabat atau pengusaha agar pasang iklan untuk membiayai operasionalnya. Bila menolak, sengaja dicari cari kesalahannya, lalu dimuat di media tersebut dengan framing negatif.

Orang salah itu wajar, yang gak wajar adalah yang suka cari-cari kesalahan. Sebab, sudah busuk sejak dalam pikiran.

Namanya juga mencari cari kesalahan, jangan harap beritanya jernih. Ciri berita semacam ini gampang dikenali. Biasanya isinya tak jauh dari
mengarang bebas dan tendensi negatif. Lagaknya banyak mengumbar kalimat tanya.

Namun bila jeli, sebenarnya itu bukan pertanyaan tapi penghinaan dan fitnah yang dirumuskan dalam bentuk tanya.

Kalau pinjam istilah Profesor Mahfud MD, pertanyaan tersebut sama dengan kalimat, "Apa benar kamu berzina dgn ibumu? Kalau benar, apa alasannya?" Inilah yang disebut insinuasi.

Sebenarnya kalau mau, bisa saja awak media tadi dituntut di depan hukum. Karena selain sudah melenceng dari kaidah jurnalistik, juga sudah mengandung delik pidana.

Bagaimana berita insinuasi itu? Semoga contoh berikut ini bisa memberi gambaran. Misalnya ada berita begini:

Sejumlah kalangan tetap juga mempertanyakan pertemuan tersebut. Salah seorang pengusaha Batam, yang namanya enggan ditulis, mempertanyakan kehadiran seorang tokoh.

Menurut pengusaha tersebut, pertanyaan itu muncul setelah melihat foto pasca pertemuan. Bahkan ia juga menduga pertemuan itu didasari kepentingan politik dalam pengelolaan megaproyek. "Saya rasa pertemuan semalam pasti ada membahas tentang proyek," ujarnya singkat.

Cara cara mengemas berita aemacam ini bukan saja jahat, namun bisa menurunkan kepercayaan masyarakat pada media daring. Sehingga jangan heran, survei terbaru, surat kabar tetap menjadi pilihan utama masyarakat dalam mencari kebenaran sebuah berita.

Semoga tulisan ini bisa menggugah kesadaran masyarakat untuk bisa membedakan mana media hoax dan fitnah, serta mana media yang benar benar memberitakan kebenaran.

Saran saya, tinggalkan media daring yang kualitasnya semacam itu. Merusak. ***

Tulisan ini dipostingnya pada hari Rabu tanggal 6 Maret 2019 di akun Facebooknya. Postingannya ini viral di media sosial WhatsApp (WA) dan dibahas banyak orang.(Ag)


Editor: Agus Budi Tambunan.

Apa reaksi anda tentang artikel ini?