Mucikari Prostitusi Online Via Wechat Ditanggkap Polisi, Korbannya ada 65 Wanita - DINAMIKA KEPRI

Saturday, 16 February 2019

Mucikari Prostitusi Online Via Wechat Ditanggkap Polisi, Korbannya ada 65 Wanita

  4 kali



Kabid Humas Polda Kepri Kombes Pol Drs S. Erlangga dan Kasubdit Cyber crime Ditreskrimsus Polda Kepri AKBP Ike Krisnadian, Sik, saat melakukan Konferensi Pers, di Media Centre Bid Humas Polda Kepri, Jumat (14/2/2019). 

Dinamika Kepri, Batam – Seorang pria mucikari prostitusi online berinisial AA (32) kelahiran Padang, Sumtera Barat (Sumbar) ditangkap polisi Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Kepri di Karawang, Jawa Barat.

AA ditangkap karena menawarkan perempuan untuk melakukan hubungan seks dengan laki-laki di akun media sosial wechat.

Tawaran itu diupload di akun wechat atas nama ms evve, miss evve dan shofie, demikian terang Kabid Humas Polda Kepri Kombes Pol Drs S. Erlangga dan Kasubdit Cyber crime Ditreskrimsus Polda Kepri AKBP Ike Krisnadian, Sik, saat melakukan Konferensi Pers Ungkap Kasus Tindak pidana Kesusilaan melalui Media Sosial, di Media Centre Bid Humas Polda Kepri, Jumat (14/2/2019). 

Selain itu, di dalam album juga dijelaskan angka atau harga untuk shor time atau long time terhadap perempuan-perempuan tersebut.

Harga dari masing-masing perempuan yang ada di dalam album tersebut berbeda-beda mulai dari Rp 400 ribu sampai harga Rp 1 juta. Erlangga menjelaskan, diketahui aksi tersangka dimulai sejak bulan Januari 2019.

Terbongkarnya jaringan prostitusi online ini berawal, pada sekira bulan Januari 2019 tersangka menawarkan perempuan untuk melakukan hubungan seks dengan laki-laki di akun wechat atas nama ms evve, miss evve dan shofie.

Di dalam album wechat itu juga dijelaskan angka atau harga untuk shor time atau long time terhadap perempuan-perempuan tersebut. Harga dari masing-masing perempuan yang ada didalam album tersebut berbeda-beda mulai dari Rp 400 ribu sampai dengan Rp 1 juta.

Kemudian oleh petugas dilakukan pemesanan terhadap salah satu perempuan yang ditawarkan pada tanggal 8 Januari 2019 dengan harga Rp 700 ribu, dan pada saat bertemu, kemudian perempuan tersebut diamankan dan dilakukan pemeriksaan.

Dari hasil pemeriksaan diketahui bahwa perempuan tersebut ada mengirimkan foto nya kepada tersangka untuk ditawarkan kepada laki-laki yang akan menggunakan jasa nya.

Kemudian untuk tersangka ditangkap di Karawang, Jawa Barat. Dari hasil pemeriksaan ,di dalam handphone tersangka ditemukan akun wechat dengan nama ms evve, miss evve dan shofie yang digunakan untuk menjual atau menawarkan perempuan tersebut kepada laki-laki.

Perempuan-perempuan yang ditawarkan tersebut selain ditawarkan secara online di aplikasi wechat juga ada yang bekerja di karaoke, panti pijat dan freelance.

Dari setiap transaksi yang dilakukan baik short time maupun long time, tersangka mendapatkan komisi 20 persen sampai 25 persen untuk perempuan mendapatkan 50 persen dan 25 persen biaya tempat di mana perempuan tersebut bekerja.

Jumlah wanita yang ditawarkan di akun wechat tersebut berjumlah kurang lebih 65 orang dari  berumur antara 20 hingga 26 tahun.

Dalam modusnya operandinya, tersangka menampilkan foto-foto perempuan di dalam album aplikasi wechat atas nama ms evve, miss evve dan shofie  lalu ditawarkan kepada pengguna wechat.

Apabila ada pengguna wechat yang tertarik dan ingin menggunakan layanan seks dari perempuan tersebut, dapat menanyakan dan memesannya kepada tersangka.

Setelah layanan seks tersebut selesai dilakukan, tersangka akan mendapatan komisi diambil sendiri maupun dikirimkan melalui transfer rekening.

Motif pelaku melakukan hal itu yakni ingin mendapatkan keuntungan berupa uang dengan cara melakukan menawarkan perempuan di aplikasi wechat yang dapat digunakan jasanya untuk layanan seks.

Dari pelaku polisi mengamankan barang bukti berupa satu buku tabungan BRI  Simpedes, kartu ATM BRI, HP, dan 3 akun wechat atas nama Miss Evve dengan id Wechat Supasupu, Ms Evve dengan id wechat chikarg123, shofie dengan id wechat pelayanwanita dan 1 akun whatsapp (WA) atas nama inisial M.

Atas perbuatannya, tersangka dikenakan pasal 45 ayat (1) jo pasal 27 ayat (1) undang-undang Republik Indonesia nomor 11 tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik dan/atau pasal 296 jo pasal 506 KUHP. (Ril)

Editor : Agus Budi Tambunan.

Apa reaksi anda tentang artikel ini?