Kisah Pilu Kehidupan Janda Muda Pekerja Gelper di Batam - DINAMIKA KEPRI

Sunday, 17 February 2019

Kisah Pilu Kehidupan Janda Muda Pekerja Gelper di Batam

  4 kali


Ilustrasi. (f/thumbor.forbes.com)

Dinamika Kepri, Batam – Setiap pekerjaan tentunya memiliki resikonya masing-masing, beda pekerjaan beda pula resikonya, namun beda dengan resiko kerja para wasit di Gelanggang Permainan (Gelper) ketangkasan elektronik di Kota Batam.

Ya resikonya jauh berbeda dengan resiko pekerjaan lain, karena resikonya selain akan dipotong gaji oleh atasan, bawahan juga merasa sok atasan, ditambah lagi pemain yang kerap suka memaki. Itulah resikonya, demikian penuturan seorang wanita, ibu muda nan paras cantik yang mengaku sudah menjanda ke awak media ini, beberapa waktu lalu.

Hem, mendengar pengakuannya telah menjanda, membuat awak media ini klepek-klepek.

Sebut saja namanya Intan (nama samaran). Intan (25) mengaku sehari-harinya bekerja sebagai wasit di salah satu Gelper di bilangan Nagoya, Batam, Kepri.

Kata dia berucap dengan bibir tipisnya, untuk memenuhi nafkah kedua anaknya yang masih kecil-kecil, ia harus banting tulang dari mulai siang hingga dini hari setiap harinya.

“Habis mau ginama lagi bang, daripada tak kerja, mau makan apa? Cari kerja di Batam sekarang ini susah,” kata Intan sembari mengulung rambutnya yang hitam lebat.

Selama ini, sudah banyak kasir daN wasit Gelper masuk penjara. Ketika ditanya, apakah ia tidak takut masuk penjara, dengan spontan Intan menjawab takut.

“Takutlah bang, emang ada orang yang enggak takut masuk penjara? Yang benar sajalah. Iya sih, teman Intan sudah ada yang masuk penjara. Dengar-dengar tempatnya bekerja digerebek polisi karena melakukan praktek judi,” ucap Intan.

“Tapi setahu saya di tempatku bekerja, tak ada unsur judinya, makanya aman-aman saja. Seandainya aku tahu ada judinya, aku pun tak mau, kalau aku masuk penjara, bagaimana nasib anakku? Oh Tuhan, Tak bisa kubayangkan jika itu terjadi padaku!,” sambungnya.

Sambil meminum jus sirsak yang baru dipesannya, Intan mulai berkisah pengalamannya. Kata dia, dirinya sedah 6 bulan bekerja sebagai wasit Gelper di Batam.

“Sudah 6 bulan bang, gajinya juga lumayan. Kalau kita rajin tak pernah absen sebulannya bisa mengumpulkan Rp 4 juta sampai Rp 5 juta. Itu hanya dari gaji saja, terkadang kalau ada pemain yang baik dan menang, sering juga memberikan tip kepada saya. Saya enggak minta, ya, kalau dikasih saya terima, tak dikasih pun tidak apa-apa.Tapi kebanyakan pemain yang saya hendel ngerti, orangnya baik-baik, mereka sering memberikan saya tip, kadang membuat teman –teman wasit lain jadi cemburu,” katanya senyum.

Tak hanya menceritakan kisah manisnya saja, ia juga menceritakan pengalaman pahitnya.

“Waktu baru kerja, saya pernah nombok (berhutang=red) Rp 1,2 juta ke kasir karena ada pemain laki-laki yang tidak membayar uang koin sampai dua papan waktu itu, katanya akan dibayar. Saya disuruh menunggu, katanya dia mau ke ATM mengambil uang, tapi bohong,” katanya mengisahkan.

“Saya tunggu sampai hingga jam pulang, namun ia tak datang-datang. Akibat itu, pengawas lalu memarahin dan memaki-maki saya, dan menuduh saya telah menyembunyikan uang itu. Katanya dia tidak mau tahu, saya harus membayar dua papan koin itu,” lanjutnya.

Kata dia, karena tak tahan dengan omelan pengawas itu dan disaksikan teman- teman wasit yang lain,  Intan melampiaskannya kesalnya dengan tangis.

“Pikirku saat itu, dari mana uangku mengganti sebanyak itu. Malam itu aku sempat ditahan, tas dan kantongku juga digeledah, beruntung bos Gelper itu memberikan solusi dengan mengatakan potong gaji setengah dari gaji perharinya sampai Rp 1,2 juta itu lunas. Berjalannya waktu, aku pun melusansinya, setelah itu aku pindah kerja ke Gelper lain,” kata wanita asal Medan itu sedih.

Selama bekerja di Gelper, Intan mengaku sudah tiga pindah kerja. Katanya setelah pindah dari Gelper sebelumnya yang membuat kesal, di lokasi Gelper yang baru juga di sekeitaran Nagoya, akunya ia sempat naik jabatan dari wasit menjadi kasir.

Kata dia, selama di menjadi kasir, banyak tantangan yang dihadapinya. Selain memegang uang hingga ratusan juta rupiah sertiap harinya, ruang bebasnya selama bekerja juga terpantau CCTV.

“Jadi kasir itu memang enak, gajinya lebih besar dari wasit. Cuma perasaan tak enaka meras selalu dipantau dan dicugai, padahal tidak, mungkin perasaanku saja. Maklumlah karena saya kerjanya menghitung uang. Satu hari itu bisa sampai ratusan juta bahkan lebih, apalagi di hari Sabtu dan Minggu,” ujarnya.

Di tempatnya bekerja, Intan tidak juga kalah cantik dengan wasit dan kasir lain. Karena kecantikannya, ia mengaku kerap digoda pemain berhidung belang.

Tak jarang, setiap hari di waktu jam pulang, Intan mengaku sering ditawarin pemain yang menang untuk heppy ke diskotiq, namun itu ditolaknya dengan sopan. Selain ada juga yang menawari mengantarnya pulang dan tidak diresponnya.

“Banyak godaanlah bang, mungkin mereka tahu saya janda. Artinya kalau kita tidak bisa menahan nafsu, bisa repot bang. Bukan apa-apa, teman saya pernah didadatangi seorang wanita lalu dijambak dan dituduh pelakor telah merebut suaminya. Padahal tidak, suaminya yang kegatelan menggoda teman saya itu.” kenang Intan.

Tak hanya itu, Intan juga mengaku pernah dilamar seorang pemain Gelper. Kata pemain itu padanya ingin menikahinya. Katanya jika intan sudah menikah dengan pemain Gelper itu, semua kebutuhannya akan diberikan dan tidak mengizinkan Intan bekerja di Gelper.

“Orangnya sih okey bang, nagakunya pelaut tapi sudah berumur. Kami sempat menjalin hubungan tapi hanya sebatas berteman dekat. Ia mengaku sudah menduda punya anak tiga yang sudah beranjak dewasa. Pikirku waktu kenapa tidak, tapi aku tidak langsung percaya begitu saja. Di waktu saya libur, dia pernah mengajak makan malam di salah satu Pujasera di Nagoya,” cetus Intan.

“Ia banyak bercerita pengalaman hidupnya dan menanyakan jawabanku dengan ajakan untuk menikahi saya. Tapi setelah saya katakan saya janda punya anak dua yang masih kecil-kecil, kulihat dia terkejut dan mengalihkan pembicaraan. Malam itu ia mabuk minuman dan ingin mengajak saya menginap saya tidur di hotel. Tapi saya menolaknya. Atas penolakanku itu, ia jadi marah-marah, dan saya pun pergi meninggalkannya. Dari sejak saat itu dia tidak pernah lagi menemuiku lagi,” lanjut Intan mengisahkan.

Menurut Intan, Ia tidak sedih dengan kejadian itu, bahkan senang karena pria yang ingin menikahinya itu, ternyata bukan duda.

“Dia itu pembohong, katanya dia duda, padahal ada istrinya. Informasi itu ku dapatkan dari seorang teman pekerja Gelper yang masih tetanggan sama dia. Ngakunya pelaut, ternyata supir Taxol (Taxi online). Bagi saya, apapun pekerjaan seorang laki-laki tidak masalah yang penting halal dan jujur, mau menerima saya apa adanya. Ini belum apa-apa ngajak nginap di hotel pula, pakai marah-marah lagi, emangnya aku ini wanita apa dianggapnya?,” ucapnya sembari menyedot pipet jus sirsak dari gelasnya.

Ketika ditanya awak media ini, apakah ia masih ada rencana untuk menikah lagi, jawabnya ada.

“Kalau ada jodoh, kenapa tidak. Manusia itukan diciptakan Allah berpasang-pasangan. Apa bedanya, saya juga manusia yang butuh pasangan hidup. Tidak mungkin saya bisa bertahan tetap seperti ini. Kalau Gelper buka terus, mungkin bisa, nah kalau tutup, anak saya mau makan apa? Kalau ada suamikan, kan ada yang melindungi, bisa ikut membantu ekonomi keluarga dan untuk membesar anak-anak saya bang. Tapi kenapa nanya gitu, emang abang ada rencana ya?,” ucap Intan sembari senyum dengan penuh harapan.

Saat ditanya soal keberadaan suami pertamanya, Intan tiba-tiba menunjukan ekspresi wajah kesal. Kata dia, itu tak perlu dibahas.

“Soal itu jangan dibahaslah, benci aku, dia itu laki-laki yang tidak bertanggung jawab. Kerjanya tukang kawin,” tukasnya.

Saat ditanya, sebagai wanita normal dan sudah lama menyandang status janda, bagaimana perasaanya jika hujan lebat di tengah malam, jawab Intan, biasanya saja.

"Apa bedanya, mau hujan mau Eggak, bagi saya enggak masalah? abang nih pertanyaannya ada-ada saja. Maksudnya kalau hujan lebat dingin, itu maksudnya? biasa kali!," jawabnya senyum genit. 

Sebelum mengakhiri perbincangannya dengan awak media ini, ketika ditanya apa pesannya kepada wanita yang senasib dengannya, jawab Intan, jangan mudah tergoda.

“Pesan saya untuk yang senasib (janda=red), jangan mudah tergodah pria yang selalu datang ke Gelper. Menurut saya, laki-laki yang datang ke Gelper bukanlah laki-laki baik dan jujur. Artinya dia tidak jujur dengan pacar ataupun istrinya. Jika pria itu jujur dan baik, pasti dianya tidak akan ke Gelper menghabiskan uangnya. Memangya ada perempuan yang mau mengizinkan pasangannya bermain judi, kan tidak ada? Setahu saya penyakit laki-laki itu ada tiga, judi, main perempuan dan mabuk-mabukan. Jika ada di antara satu itu dilakukan, berarti laki-laki itu bukanlah laki-laki yang baik. Dan jangan juga takut, kalau memang jodoh, itu pasti akan datang sendirinya, mungkin itu saja,” tutupnya.

Dari kisahnya, Intan adalah wanita yang sangat tegar dan bertanggung jawab kepada anak-anaknya. Meski ia seorang diri memenuhi kebutuhan keluarganya, ia tidak gentar mengahadapi kenyataan dan jujur melakukan pekerjaan. Selain itu ia juga sangat teliti terhadap laki-laki yang ingin mendekatinya. Seperti ucap dia sebelumnya, jodoh itu pasti ada, tak akan lari gunung dikejar.(Ag)


Penulis; Agus Budi Tambunan.

Apa reaksi anda tentang artikel ini?