Kesal dengan Terdakwa Warga Malaysia, Hakim Egi Novita: Kalau Anda Mau Hancur, Hancurkan Saja Negaramu - DINAMIKA KEPRI.COM

Tuesday, 26 February 2019

Kesal dengan Terdakwa Warga Malaysia, Hakim Egi Novita: Kalau Anda Mau Hancur, Hancurkan Saja Negaramu

  Dibaca: 1 kali


Terdakwa Yan Anthoni dan Mohamad Bin Adenan saat disidangkan di PN Batam, Selasa (26/2/2019).
Dinamika Kepri, Batam - Kesal dengan terdakwa Mohamad Bin Adenan alias Mat asal Malaysia, hakim Egi Novita mengatakan, kalau mau hancur, hancurkan saja negaramu.

"Jangan anda hancurkan indonesia ini dengan barang-barang itu, kalau mau hancur, hancurkan saja negaramu sendiri dengan sabu itu, jangan bawa ke indonesia ini, edarkan saja di negaramu biar digantung kamu," kata Egi Novita.

Tak hanya kepada terdakwa Mohamad, hakim Egi dan hakim Renni Pitua Ambarita juga kesal terhadap terdakwa Yan Anthoni karena ikut serta membantu Mohamad dalam menjalankan aksinya dengan mencarikan pembeli.

Pada sidang ini, dua terdakwa Yan Anthoni Warga Negara Indonesia (WNI) dan Mohamad Bin Adenan alias Mat Warga Negara Asing (WNA) asal Malaysia dengan Barang Bukti (BB) Narkotika jenis sabu seberat 1176 gram (1,176 Kg) dari Malaysia kembali menjalani sidang di Pengadilan Negeri (PN) Batam, Selasa (26/2/2019) siang.

Sidang agenda pemeriksaan saksi penangkap dari BNNP Kepri ini, kepada majelis hakim yang diketuai hakim Renni Pitua Ambarita, saksi BNNP Kepri mengatakan, terdakwa Mohamad Bin Adenan sudah menjadi Target Operasi (TO) BNNP Kepri.

"Terdakwa Mohamad ini sebelumnya adalah sudah menjadi TO kami selama tiga minggu. Terdakwa berhasil ditangkap di kamar 219 Hotel Holie Batam. Sedangkan terdakwa Yan Antoni ditangkap saat di berada Pinggir Jalan Belakang Gapura Botania Garden, Batam Center, yang mana saat itu ia membawa sabu tersebut dan dari pengakuannya, sabu itu rencananya akan dijual ke pembeli bernama Hence (DPO) seharga Rp 250 juta," kata saksi.

Ketika ditanya hakim dari mana saksi mengetahui terdakwa membawa sabu dari Malaysia, jawab saksi dari laporan masyarakat.

"Informasinya dari laporan masyarakat, setelah itu lalu dilakukan pengembangan," ujar saksi.

Menanggapi keterangan saksi, kepada majelis hakim terdakwa Yan Antoni menyatakan keberatan tidak terima jika saksi menyebut dirinya sudah di TO selama tiga minggu.

"Saya keberatan yang mulia jika saya disebut telah di TO selama tiga minggu, sementara saya baru tiga hari bersama Mohamad," tukas terdakwa Yan Anthoni.

Diperiksaan kedua terdakwa, meski banyak pertanyaan yang sudah dicecar majelis hakim terhadap terdakwa, namun tidak ada satu pun pertanyaan yang dilontarkan Jaksa Penununtut Umum (JPU) Yan Elhas Zeboea kepada kedua terdakwa.

"Bagaimana dengan pak jaksa, ada pertanyaan? Silahkan, tidak ada? Sudah terbukti ya?," kata hakim Marta ke jaksa Yan Elhas.

Setelah usai periksaan dua saksi dan pemeriksaan kedua terdakwa, majelis hakim lalu menunda sidang satu minggu ke depan dengan agenda sidang tuntutan.

Atas perbuatannya, dalam perkara ini terdakwa Mohamad sebelumnya didakwa JPU dengan ancaman pidana pasal 114 ayat(2) jo pasal 132 ayat (1) UU RI No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika.

Sedangkan terdakwa Yan Anthoni diancam pidana pasal 112 ayat (2) Jo Pasal 132 ayat(1) UU RI No.35 tahun 2009 tentang Narkotika.(Ag)

Apa reaksi anda tentang artikel ini?

Loading...