Pemerhati Lingkungan Hidup di Batam Minta Pemerintah segera Tutup Aktifitas Pembakaran Kayu Bakau di Barelang - DINAMIKAKEPRI.COM

Thursday, 17 January 2019

Pemerhati Lingkungan Hidup di Batam Minta Pemerintah segera Tutup Aktifitas Pembakaran Kayu Bakau di Barelang

  4 kali

Samsul Paloh dan Yulianto.
Dinamika Kepri, Batam - Soal pembakaran kayu bakau jadi arang di beberapa titik di Barelang, meski sudah viral dibahas di media sosial dalam satu  bulan terakhir ini, ternyata sampai saat ini belum ada respon atau tindakan dari pemerintah untuk menghentikannya.

Melihat tidak ada respon dari pemerintah daerah maupun pemerintah pusat untuk menghentikan aktifitas pembakaran kayu bakau untuk diekspor tersebut, pemerhati lingkungan hidup di Kota Batam, Samsul Paloh, Yulianto dan Aldi Braga, angkat bicara.

"Aktifitas pembakaran kayu bakau di beberapa titik di Barelang harusnya dapat segera dihentikan karena sangat berdampak membuat kerusakan lingkungan hidup di Kepri, khususnya di Batam," ujar Samsul Paloh, saat konferensi pers di bilangan Batam Center, Batam, Kamis (17/1/2019) sore.

"Saya sebagai bagian dari masyarakat Batam, tidak terima jika pohon bakau terus dibakari. Jelas-jelas kita tahu bahwa hutan mangrove itu dilindungi undang-undang baik di indonesia maupun di dunia internasional. Saya  berharap pemerintah pusat dan daerah dapat segera turun menghentikannya," sambungnya.

Aldi Braga.
Sedana dengan Aldi Braga, menurutnya, sampai saat ini belum ada respon pemerintah untuk menghentikan pembakaran kayu bakau itu meski sudah viral dibahas di media sosial.

"Belum ada respon, padahal sudah viral dibahas di media sosial dalam satu bukan ini. Dan tidak tahu juga, apakah pihak instansi terkait tidak tahu soal ini, atau memang pura-pura tidak tahu? Saya juga tidak tahu, makanya kita juga sudah membentuk tim untuk itu," kata Aldi Braga

Katanya lagi, meski sebelumnya pihak dari Dirjen Gakum KLHK sudah ada yang turun meninjau langsung ke lokasi gudang arang, namun sampai saat ini belum ada kejelasan apa tindakan selanjutnya, karena sampai saat ini, aktifitas pembakaran kayu bakau di Barelang, masih terus berlangsung.

"Dari Dirjen Gakum KLHK sudah ada turun cek lokasi, tapi itu dia, ketika kami tanya seperti apa tindakan selanjutnya, jawab mereka, masih menunggu," ucap Aldi.

Begitu juga dengan Yulianto, pintanya agar semua dapur - dapur arang yang di Barelang dapat segera ditutup pemerintah, karena sangat berpotensi merusak lingkungan hidup.

"Apapun ceritanya, dapur arang itu harus ditutup pemerintah. Kita tahu bahan baku arang itu dari kayu bakau yang dilindungi undang-undang, artinya menebangi pohon bakau adalah suatu tindakan pidana. Harapan kita penegak hukum dapat segera melakukan penindakan hukum bagi mereka yang telah menebangi pohon bakau," kata Yulianto.

Sebelum mengakhiri, Samsul Paloh menambahkan, kata dia terkait lambannya respon dari pemerintah soal itu, ia menduga ada aktor intlektual dibalik semua itu.

"Kenapa ini tidak respon, saya menduga mungkin ada aktor intlektual di balik ini. Tapi itu tugasnya penegak hukum untuk menelusurinya, kita sebagai masyarakat hanya bisa menyuarakannya, apalagi ini soal lingkungan, kita semua harus memperdulikannya," tutupnya.(Ag)

Pantuan media ini terkait pembuatan arang di beberapa titik Barelang, selama 5 tahun terakhir ini, terlihat memang adem ayem saja. Mereka para pelaku usahanya, tampak leluasa menjalankan aktifitasnya dengan bebas tampa ada hambatan.(Ag)


Editor: Agus Budi Tambunan.

Apa reaksi anda tentang artikel ini?