Thursday, 7 February 2019

Kesal dengan Keterangan Saksi, Hakim Syahlan: Kalau saya TNI AL, Ku Tembaki Kapal itu


Terdakwa Kamaruddin (baju merah) usai menghadiri sidang pemeriksaan saksi di PN Batam, Rabu (6/2/2019).

Dinamika Kepri, Batam - Ketua majelis hakim, hakim Syahlan yang menyidangkan terdakwa Kamaruddin nahkoda kapal SB Swift Hawk berbendera Singapura di Pengadilan Negeri (PN) Batam, saat sidang tampak emosi karena keterangan para saksi berbelit-belit, tidak sesuai dengan pengakuan di BAP penyidik.

"Kalau saya TNI AL, ku tembaki kapal itu," kata Syahlan kepada para saksi saat sidang, Rabu (6/2).

Kata hakim Syahlan, setiap negara punya aturannya sendiri, begitu juga indonesia.

"Kapal penumpang dari indonesia kalau masuk perairan wilayah Singapore, pasti diatur kecepatannya, karena jika melampau kecepatan, pasti akan dikejar oleh petugas di sana. Enak saja kamu mengatakan bisa masuk wilayah indonesia tampa izin, tidak ada masalah,” katanya lagi kesal.

Pada sidang ini, Jaksa Rumondang Manurung menghadirkan empat orang saksi. ke-4 saksi tersebut, tiga diantaranya merupakan para ABK dan satu orang saksi dari perwakilan perusahaan kapal SB Swift Hawk.

Kepada majelis hakim, para saksi mengakui telah melakukan kegiatan bongkar-muat ditengah laut perairan Indonesia tampa memiliki dokumen dari syahbandar Batam.

Selain itu para saksi juga mengakui sempat melakukan perlawanan terhadap petugas TNI-AL dengan akan menabrak kapal patroli saat berusaha kabur keperairan internasional.

Kapal SB Swift Hawk bendera Singapore sebelum diamankan petugas AL, diduga melakukan transhipment dengan MV Tangguh Towuti bendera Singapore diperairan Indonesia tampa mendapat izin syahbandar Batam.

Dari keempat saksi yang dihadirkan itu, meski keterangannya sebelumnya sudah tertuang dalam BAP penyidik, namun perwakilan dari perusahaan kapal itu diduga berusaha berbelit-belit ingin mengelabui jaksa dan majelis hakim.

Karena kesalnya, Jaksa Rumondang lalu mepertegas keterangan saksi yang tidak singkron dengan di BAP penyidik.

"Mana yang betul, beda keterangan anda dengan yang di BAP? Anda itu dihadirkan di sini sebagai saksi, bukan sebagai saksi ahli. Dari tadi kudengar keterangan anda seperti saksi ahli saja?, " kata jaksa Rumondang.

“Intinya kalian ditangkap karena melakukan transipment diperairan Indonesia bukan di wilayah Singapore. Mau berkilah pula, kapal kalian juga tidak memiliki izin dari syahbandar Batam, benarkan?,” tanya Rumondang.

Menjawab pertanyaan dari jaksa itu, keempat saksi membenarkannya.

Setelah mendengar keterangan dari keempat saksi tersebut, majelis hakim lalu menunda sidang pekan depan dengan agenda mendegarkan keterangan saksi dari penangkap (TNI-AL).

Sebelumnya, pada tanggal 14 November 2018 lalu sekitar pukul 11: 45 WIB, KAL Mapor II.4-64 mendapati kontak MV Tangguh Towuti (bendera Singapore) dan SB Swift Hawk (bendera Singapore) sedang melaksanakan transhipment (bongkar muat) di wilayah TSS (01 15.155 U – 104 06.913 T).

KAL Mapor II.4-64 lalu mendekati kedua kapal tersebut. Namun saat jarak 1 Nm, tiba-tiba SB Swift Hawk melepaskan tali yang sebelumnya terikat ke kapal MV Tangguh Towuti. Kemudian SB Swift Hawk menambah kecepatan dan melarikan diri ke arah wilayah perairan Singapore.

Melihat itu, KAL Mapor II.4-64 lalu melakukan pengejaran. Selama pengejaran, KAL Mapor II.4-64 mencoba memanggil via radio FM CH 16, namun tidak direspon. Bahkan kapal SB Swift Hawk malah menambah kecepatanyan dan bermanuver membahayakan navigasi di TSS.

Tidak mau buruannya lari, Komandan Kal Mapor lalu memerintahkan melakukan tembakan peringatan ke udara 3 kali, bukannya takut, kapal SB Swift Hawk itu tetap melaju dan bermanuver memotong haluan kapal tanker yang melintas TSS.

Kejar-kejaran pun terjadi bak di filem Hollywood. KAL Mapor II.4-64 lalu mencoba memotong haluan kapal SB Swift Hawk sambil memberikan tembakan peringatan ke haluan kapal itu, namun sama saja, kapal SB Swift Hawk itu tetap menambah kecepatan, bahkan hendak mau menabrakkan kapal ke KAL Mapor II.4-64. Beruntung KAL Mapor II.4-64 berhasil menghindar.

Tidak mau buruan lolos begitu saja, tembakan pun kembali dilakukan ke arah buritan kapal SB Swift Hawk, namun karena pengaruh gelombang, maka tembakan pun mengenai kaca anjungan kapal itu,

Diduga setelah melihat peluru tembakan sudah semakin mendekati kearah ke kematian, kapal SB Swift Hawk itu pun akhirnya berhenti dan sang nahkoda pun menyerahkan diri. Kapal itu berhasil diamankan pada posisi 01 15.567 U – 104 05.677 T.

Akibat perbuatannya, terdakwa Kamaruddin didakwa dengan ancaman pidana pasal 323 Ayat (1) jo. pasal 219 ayat (1) UU No. 17 tahun 2008 tentang pelayaran.(Ag)