Sunday, 20 January 2019

Setelah Menyimak, Judi Gelper di Batam Ternyata Mesin Unggul Buat Orang Masuk Penjara


Suasana penggerebekan saat dilakukan polisi di salah satu lokasi Gelper di bilangan Nagoya, Batam beberapa waktu lalu.

Dinamika Kepri, Batam - Judi di Gelangang Permainan (Gelper) Elektronik/mikanik, ternyata juga salah satu mesin terunggul untuk menciptakan orang menjadi tahanan, terdakwa ataupun terpidana masuk penjara di Kota Batam.

Tak tanggung, sekali sidang terdakwanya paling sedikit 8 orang. Jadi tak heran, jika saat sidang Gelper digelar di Pengadilan Negeri (PN) Batam, ramainya terdakwa membuat suasana sidang seperti di suasana pasar.

Yang paling parahnya lagi, semua yang diadili hanya pekerja dan pemain Gelper saja. Tak pernah sekalipun bos pemilik Gelper yang diadili.

Mungkin di saat penggerebekan, bosnya lagi di luar kota atau mungkin juga sedang diluar negeri. Walau demikian, para cukong Gelper itu, tetap dijadikan petugas sebagai Daftar Pencarian Orang (DPO).

Melihat banyaknya para terdakwa judi Gelper di setiap sidang, hakim PN Batam juga pernah menyampaikan pesan kepada saksi penangkap agar Gelper di Batam segera ditutup.

"Kepada saudara saksi penangkap, mohon sampaikan pesan saya kepada pimpinan anda, saya mewakili dari PN Batam, meminta agar Gelper di Batam ditutup saja. Malu kita, tolong ya disampaikan kepada pimpinannya, terima kasih," kata hakim Taufik Abdulah waktu itu.

Kembali ke para terdakwa, meski telah banyak yang diadili karena ketahuan melakukan praktek judi di lokasi Gelper, namun tidak ada pihak manapun yang memperhatikan dari sisi dampak sosial yang ditimbulkan bagi para terdakwanya.

Menilik dari sisi sudut pandang yang berbeda, para terdakwa yang diadili itu hanyalah korban dari ketidak adanya tanggung jawab dari sang pengusahanya.

Mereka hanya pekerja yang digaji demi sesuap nasi untuk menghidupi dirinya maupun untuk menghidupi keluargannya, namun apalah daya, diduga karena ketidaktahuannya, berakhir ke dalam penjara.

Para pekerja Gelper seperti kasir dan wasit biasanya adalah para wanita muda, bahkan dari antara mereka juga kebanyakan ibu rumah tangga yang turut serta membantu perekonomian keluarga, begitu katanya.

Dalam pengakuannya saat sidang mengatakan, mereka mengatakan sama sekali tidak mengetahui, jika di tempatnya bekerja itu ada praktek judinya. Tahunya mereka kerja, dapat upah dan memastikan anak-anaknya di rumah bisa makan.

Apalagi mereka yang bekerja sebagai kasir dan wasit itu adalah wanita, dari penelusuran awak media ini, para kasir dan wasit Gelper itu mengaku kebanyakan para kaum janda.

Ya, katanya mereka rela kerja sampai subuh demi untuk menghidupi anak-anaknya, dan tak bisa dibayangkan bagaimana kehidupan anak-anaknya di rumah jika ibunya dijebloskan ke penjara.

Ilustrasinya, ibarat suatu kapal di tengah laut, kasir dan wasit itu bekerja tekun, displin sesuai aturan sang dari kapten. Mereka bekerja giat, namun tidak tahu kalau kapal yang mereka naiki itu adalah kapal perompak (bajak laut) yang sesewaktu bisa saja ditangkap oleh petugas penjaga laut.

Pantuan awak media ini pada sidang-sidang Gelper di PN Batam, saat pemeriksaan terdakwa, hakim kerap menanyakan izin usaha Gelper. Biasanya yang bisa menjawab itu manager Gelper yang jadi terdakwa.

Menurut pengakuan manager Gelper, ada izinnya, tapi izin yang dikeluarkan pemerintah Kota Batam itu katanya adalah untuk permainan anak dan keluarga, bukan izin untuk perjudian.

Dan mirisnya lagi, saat sidang Gelper Hokki Bear Game, hakim juga mempertanyakan tentang izin judi ke terdakwa. Kesannya, pertanyaan yang dilontarkan hakim ke terdakwa, menggiring seakan-akan izin judi bisa diurus.

Kembali ke pantuan, Gelper yang buka di Batam, sama-sama mengakui mengatongi izin permainan anak dan keluarga, hanya saja prakteknya diduga disalahgunakan.

Katanya punya izin permainan anak dan keluarga, tapi hadiahnya rokok. Ya, hadiah rokok ditukar ke uang, begitu prakteknya. Dan itu juga dibenarkan salah seorang terdakwa manager Gelper yang beroperasi di bilangan Mall Lytech, Bengkong sebelumnya, di mana saat sidangnya, kepada hakim ia mengakui bahwa hadiah rokok yang berikan ke pemain itu, hanyalah modus untuk mengalubui petugas.

Selama Gelper marak buka sejak tahun 2018 di Batam, terhitung sudah banyak orang masuk ke penjara, sementara Big bosnya tak pernah disidangkan.

Para pekerja jadi korban, untungnya buat pengusaha dan tak pernah memikirkan dampaknya, karena si pengusaha Gelper tahu, orang-orang yang di penjara karena usahanya itu, nantinya juga akan diberi makan oleh negara. 

Dari begitu banyak sidang Gelper di PN Batam, tak pernah ada bosnya yang disidangkan, dan itu juga pernah dipertanyakan hakim saat sidang.

Selain itu, bukanya Gelper di Batam saat ini, juga tengah menjadi polemik di tengah masyarakat. Ada yang mendukung dan ada yang menolak (prokontra=red).

Yang mendukung mengatakan, tidak ada salahnya Gelper tetap buka asalkan sesuai dengan izinnya. Katanya, dengan adanya Gelper, setidaknya bisa mengurangi pengangguran serta juga dapat meningkatkan perekonomian Batam.

Begitu juga sebaliknya, yang menolak mengatakan, Gelper harus ditutup karena telah banyak membuat orang korban jatuh miskin dan masuk penjara.

Artinya dengan adanya prokontra itu ditengah masyarakat Batam, tinggal bagaimana pemerintah Kota Batam untuk menyikapinya, karena izin untuk permainan anak dan keluarga itu, dikeluarkan oleh pemerintah Kota Batam.

Apakah menunggu sampai banyak korban jatuh, atau menunggu sampai Lapas Tembesi Batam over load menampung tahanan dari kasus Gelper? tidak tahu juga, karena itu adalah kewenangan dan kebijakan daripada Pemko Batam, baik untuk mengizinkan maupun untuk menutupnya. Kita sebagai masyarakat, tentunya hanya bisa menyuarakan, melihat dan menyimak saja.(Ag)