Friday, 4 January 2019

Akibat Mempercayai Dunia Gaib, Seorang Guru SMP di Batam Ditipu Mantan Muridnya Hingga Rp 1,3 Miliar


Terdakwa Arnoldus Yanssen Weoseke  dan Catur Dewi.

Dinamika Kepri, Batam -  Dua terdakwa pasangan suami istri, Catur Dewi dan Arnoldus Yanssen Weoseke perkara sidang dugaan tindak penipuan senilai Rp 1,3 miliar terhadap keluarga Sajiyo, kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Batam, Kamis (3/1/2019).

Pada sidang agenda pemeriksaan saksi korban ini, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Mega Tri Astuti menghadirkan 4 orang saksi korban yakni Eni Supriati, Sajiyo, Findia Mutiara dan Andre Decapela.

Ke empat saksi tersebut adalah merupakan satu keluarga antara ayah, ibu dan anak. Ke empat saksi  itu mengaku telah menjadi korban penipuan oleh kedua terdakwa Catur Dewi dan Arnoldus Yanssen, demikian pengakuan para saksi di persidangan.

Sidang majelis hakim yang diketuai hakim Setyanto Hermawan ini, Eni Supriati mengatakan bahwa terdakwa Catur Dewi itu adalah mantan muridnya saat SMP di Batam, dan ia tidak percaya kalau bekas muridnya itu akan menipu dirinya dan keluarganya.

"Dia itu mantan murid saya, dan saya tidak percaya kalau dia akan menipu kami. Total kerugian kami semuanya sekitar Rp 1,3 miliar," kata Eni Supriati kepada hakim.

Ketika ditanya hakim apa keterkaitan terdakwa Arnoldus Yanssen dalam perkara ini, jawab Eni Supriati, terdakwa Arnoldus Yanssen ikut membantu terdakwa Catur Dewi untuk menipunya dengan meyakinkan kalau terdakwa Catur dewi bisa menyembuhkan orang yang kerasukan bahkan menyembuhkan orang gila.

Saat para saksi korban bersumpah dihadapan majelis hakim.
Kata saksi lagi, aksi penipuan kedua terdakwa itu berlangsung sejak dari bulan April hingga September 2018. Keduanya ditangkap polisi di Perumahan Pondok Asri, Sei Panas, Batam.

Akibat tindak penipuan bermodus perdukunan itu, saksi korban Findia yang kuliah di Semarang dan kerap mengalami kesirupan, akhirnya terkena Drop Out (DO) Kampusnya.

Selain itu korban juga mengaku sangat tertekan dengan perlakuan terdakwa Catur Dewi selama ini, katanya, selain Catur Dewi kerap datang mencekik lehernya di dalam mimpinya, terdakwa Catur saat melakukan ritual pengobatan terhadap dirinya, juga pernah merekamnya saat mandi telanj*ng,

Tak mau rekaman itu beredar, kepada majelis hakim saksi Findia meminta agar rekaman yang tersimpan di HP terdakwa yang telah dijadikan barang bukti, agar rekaman itu dihapus.

"Saya memohon yang mulia agar rekaman mandi saya di HP terdakwa itu dihapus. Saya tidak bisa membanyangkan bagimana malunya kalau rekaman itu sampai beredar, aku mohon yang mulia," pinta Findia sembari menangis.

Mendengar permintaan itu, majelis hakim berjanji akan mengupayakannya melalui JPU. " Nanti akan kami sampaikan ke JPU," kata hakim Setyanto Hermawan.

Begitu juga dengan kesaksian Sajiyo, ia mengatakan kalau keluarganya telah ditipu oleh kedua terdakwa. Kata dia penipuan bermula dari rasa kepercayaan istrinya terhadap terdakwa Catur Dewi akan mengobati anaknya Findia yang sering kesirupan di Semarang.

Dalam sidang, saksi korban Eni Supriati mengisahkan, kata dia awal kejadian ini bermula yakni pada tanggal 16 April 2018 lalu.

Waktu itu Eni Supriati sedang mengawas ujian di salah satu sekolah, tiba-tiba Catur Dewi menghubunginya dengan mengatakan ingin bertemu dengan alasan terdakwa bermimpi gurunya itu sedang mengalami kondisi terpuruk.

Kemudian Dewi pun datang ke rumah Eni Supriati dengan mengatakan bahwa keluarga saksi Eni Supriati sedang terkena guna – guna (santet) oleh orang yang berinisial F yang  mana orang tersebut merupakan rekan saksi korban.

Lalu Catur dewi berpura – pura menjadi dukun dan menawarkan diri untuk membantunya dari pengaruh santet tersebut, kemudian meminta nama – nama anggota keluarga saksi korban.

Selanjutnya terdakwa catur mengajak saksi Eni Supriati pergi ke Pantai Ocarina untuk membuang sial dengan cara membuang uang kelaut sebesar Rp 700 ribu dengan beras satu genggam dan bunga berbagai macam. setelah itu terdakwa lalu menyuruh saksi Eni Supriati untuk membasuh muka, tangan dan kaki dengan air laut.

Tak sampai di situ, lalu keesokan harinya pada tanggal 17 April 2018 terdakwa Catur kembali bertemu dengan Eni Supriati dan Sajiyo di Morning Bakery Sei Panas.

Pertemuan itu yakni untuk membicarakan kodam (makhluk halus) yang bisa ditarik oleh terdakwa dengan cara membeli kodam sejumlah uang sebesar Rp. 30 juta.

Karena yakin dan percaya kepada terdakwa dapat membantu menyembuhkan penyakit santet tersebut, Eni Supriati dan Sajiyo setuju akan menyerahkan uang Rp 30 juta itu kepada Catur Dewi.

Kemudian keesokan harinya Catur Dewi datang untuk mengambil uang sebanyak Rp 30 juta itu. Ditemani Catur, Eni Supriati pergi ke Bank Riau untuk mengambil uang tersebut dan menyerahkannya kepada terdakwa.

Setelah terdakwa menerima uang itu dari Eni Supriati, terdakwa Catur ditemani terdakwa Arnoldus lalu kemudian  mengajak semua anggota keluarga Eni pergi ke Semarang dan Yogyakarta untuk melakukan ritual pengobatan.

Selanjutnya pada tanggal 30 April 2018, kedua terdakwa datang kembali kerumah korban untuk melakukan ritual pengobatan. Pada saat melakukan ritual pengobatan, kepada korban Catur Dewi mengatakan, ia melihat semacam siluman monyet dan kuntilanak di belakang mobil korban.

Kata Catur itu harus dibersihkan dengan cara menjual mobil tersebut. tak hanya itu, korban juga disuruh berhutang kepada sanak keluarga.

Mendengar perintah itu, Eni Supriati pun lalu meminjam uang ke adiknya Happy Heryawan sebesar Rp 75 juta. Sebelum uang itu ditransfer, Catur Dewi menyuruh Eni Supriati untuk membuka rekening baru Bank Mandiri.

Setelah rekening dibuka, pada hari itu juga, transferan uang sebanyak Rp 50 juta dari Happy Heryawan masuk. Selanjutnya pada tanggal 03 Mei 2018 Eni Supriati kembali menerima transferan uang sebanyak Rp 25 juta.

Setelah itu, Catur Dewi meminta rekening beserta PIN ATM itu dari Eni Supriati, tak hanya itu, Catur Dewi juga meminjam mobil Toyota Avanza BP 1032 DN milik Eni Supriati.

Selanjutanya pada tanggal 09 Mei 2018, Catur Dewi kembali meminta Eni Supriati untuk mengirimkan uang Rp 8 juta ke rekening Mandiri miliknya, sementara rekening itu dikuasai Catur Dewi. Alasanya uang itu diminta katanya untuk membeli ayam dan air aqua serta uang untuk pergi ke Semarang.

Kemudian pada tanggal 13 Mei 2018 terdakwa Catur meminta uang Rp 6 juta lagi untuk membeli obat gatal – gatal, serta minyak yang akan dipakaikan kepada anak Eni yang bernama Findia Mutiara yang sering mengalami kesirupan.

Lalu pada tanggal 15 Mei 2018, Catur Dewi kembali meminta uang sebesar Rp 3 juta untuk pembelian obat buat Abel dan obat untuk saksi Eni Supriati dan pada saat itu para terdakwa juga mengatakan kepada saksi Eni Supriati, agar mobil Toyota Avanza BP 1032 DN tersebut dijual saja.

Kemudian terdakwa Catur meminta terdakwa Arnoldus untuk menjual mobil itu seharga Rp. 70 juta. Selanjutnya terdakwa Catur kembali meminta Eni Supriati untuk membuka rekening baru di Bank BNI untuk memasukkan uang dari hasil penjualan mobil tersebut.

Sesampainya di rumah korban, terdakwa Catur lalu meminta buku rekening Bank BNI beserta ATM lengkap dengan PIN, setelah itu terdakwa menyimpannya di dalam lemari lantai rumah korban dengan tujuan agar Kodam yang ada di rumah tidak berkeliaran kemana – mana.

Kemudian tanpa sepengetahuan korban Eni Supriati, terdakwa  lalu mengambil buku rekening dan ATM BNI tersebut. Selanjutnya pada tanggal 17 Mei 2018. kedua terdakwa bersama dengan korban Eni Supriati dan korban Sajiyo pergi ke Semarang untuk melakukan ritual pengobatan korban Findia Mutiara.

Selama berada di Semarang, kedua terdakwa meminta sejumlah uang pengobatan kepada korban Supriati dan Sajiyo.
  1. Tanggal 19 Mei 2018 Rp 3 juta untuk membeli perlengkapan mandi di Pantai Parangtritis.
  2. Tanggal  21 Mei 2018 Rp 11 juta untuk membeli sapi dan tumpengan.
  3. Tanggal 25 Mei 2018 Rp 7,5 juta untuk biaya akomodasi para terdakwa untuk ke Cikawung.
  4. Tanggal 30 Mei 2018 Rp 5,4 juta untuk biaya pengobatan adik saksi Eni Supriati.
  5. Biaya akomodasi pulang ke Jakarta sebesar Rp 4 juta, yang mana uang itu dikirimkan korban Eni Supriati dari rekening korban Findia ke rekening BNI miliknya yang dipegang oleh Catur Dewi.
  6. Tanggal 05 Juni 2018 Rp 3,5 juta untuk biaya pemandian air doa untuk saksi Eni dan keluarganya.
  7. Tanggal 06 Juni 2018 Rp 2 juta.
  8. Tanggal 07 Juni 2018 Rp 3,5 juta untuk biaya mandi Sajiyo, Andre Dcapela serta sedekah.
  9. Tanggal 13 Juni 2018 Rp 3.2 juta untuk keperluan rumah yang ada di Jakarta dan sebesar Rp 5 juta untuk membeli minyak.
  10. Tanggal 17 Juni 2018 Rp 5,5 juta untuk pembelian alat – alat pembersihan kodam Sri adik dari korban Sajiyo dan uang  Rp 50 juta untuk membeli 1 ekor sapi untuk menyelamatkan nyawa 4 orang keluarga korban.
  11. Tanggal 24 Juni 2018 Rp 2,7 juta  untuk penajam.
  12. Tanggal 26 Juni 2018 Rp 150 juta untuk diwariskan dengan alasan agar korban  Findia bisa lulus di Kedokteran, karena menurut terdakwa Catur Dewi, ada orang yang menghalangi Findia untuk memperoleh gelar dokternya.
  13. Tanggal 12 Juli 2018 Rp 7,5 juta untuk pengobatan korban Findia dan korban Eni Supriati.
  14. Tanggal 15 Juli 2018 Rp 7,5 juta untuk membeli minyak yang dioleskan ke alis korban Findia agar tidak bisa melihat makhluk halus.
  15. Tanggal 19 Juni 2018 Rp 10 juta untuk biaya agar saksi Sajiyo tidak bisa disantet orang.
Lalu pada tanggal 23 Juli 2018, setelah para terdakwa pulang ke Batam, tampa ada pemilik rumah, mereka setiap harinya datang ke rumah korban untuk melakukan ritual pembersihan Kodam, sementara korban Eni dan Sajiyo tanggal 25 Juli 2018 baru pulang ke Batam.

Kemudian pada tanggal 27 Juli 2018, terdakwa Catur Dewi kembali meminta uang Rp 75 juta untuk membalas dendam secara spiritual kepada berinisial F yang telah mengirim makhluk halus ke rumah korban, dan bukan hanya itu, masih banyak lagi permintaan uang setelah itu. Tak hanya uang yang diminta kedua terdakwa, perhiasan gelang dan kalung para korban juga ikut diambilnya.

Selain itu, saksi korban juga diajak para terdakwa untuk join bisnis perumahan (property). Dan setelah merasa ditipu keduanya kahirnya dilaporkan korban ke polisi.

" Setelah merasa ditipu, kami pun melaporkannya ke polisi," kata Sajiyo yang juga Dosen di UNIBA itu kepada hakim.

Menurut pengakuan saksi korban Findia Mutiara, sampai saat ini ia masih kerap mengalami kesirupan. Kata dia ke hakim dirinya bisa melihat makluk halus.

"Sampai saat ini saya masih sering keserupan, mata batin saya terbuka bisa melihat makluk halus, setiap saya melihat makluk halus, ada yang mirip dia yang mulia," kata Findia ke hakim sembari menunjukan jari telunjuknya ke arah terdakwa Catur Dewi.

Terkait keterangan para saksi korban, terdakwa Catur Dewi membenarkanya, namun menolak kesaksian Findia yang menyebutnya telah merekam saksi saat mandi. Sedangkan terdakwa Arnoldus Yanssen menolak, ia mengatakan dirinya hanyalah seorang supir.

Akibat perbuatan para terdakwa itu, Saksi korban Eni Supriati dan saksi Sajiyo mengaku telah mengalami kerugian lebih kurang sebesar Rp.1.343.666.567.

Kata saksi Eni, akibat ulah penipuan dari kedua terdakwa itu, kini ekonomi keluarganya telah bangkrut terpuruk, dan kedua anaknya itu kini terancam putus kuliah.

Tak hanya itu, hakim juga menyayangkan saksi Sajiyo yang merupakan seorang Dosen bergelar Doktor, namun mempercayai hal-hal Gaib seperti itu.

Setelah mendengar keterangan para saksi korban dan mendengarkan tanggapan dari kedua terdakwa atas keterangn saksi, majelis hakim lalu menunda sidang hingga ke pekan depan. 

Untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya, kedua terdakwa sebelumnya didakwa JPU dengan ancaman pidana dalam pasal 378 jo pasal 55 ayat 1 KUHP. (Ag)