Friday, 14 December 2018

Tak Sanggup Bayar Perdamaian Rp 50 Juta, Fandi Hulu Dituntut 4 Tahun Penjara


Fandi Hulu.

Dinamika Kepri, Batam - Fandi Hulu sidang perkara kecelakaan lalu lintas di Patam Lestari pada tanggal 30 Mei  2018 lalu, dituntut jaksa 4 tahun penjara di Pengadilan Negeri (PN) Batam, Rabu (12/12) siang.

Jaksa penuntut, Nurhasaniati dibacakan jaksa pengganti Friesti Putri Gina dalam tuntutannya menyatakan, terdakwa Fandi Hulu terbukti bersalah melakukan tindak pidana "mengendarai kendaraan bermotor yang karena kelalaiannya mengakibatkan kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan orang lain luka berat dan luka ringan" sebagaimana diatur dalam Pasal 310 ayat (3), (2) UULAJ No.22 tahun 2009.

Kepada majelis hakim yang diketuai hakim Chandra, Jaksa menuntut agar terdakwa dijatuhi pidana penjara selama 4 tahun dikurangi selama terdakwa ditahan, dengan perintah agar terdakwa tetap ditahan dan menyatakan barang bukti berupa 1 unit sepeda motor Yamaha Beat BP 3171 JF, dikembalikan kepada terdakwa, begitu juga 1 unit motor Yamaha Jupiter MX BP 4621 QD, agar dikembalikan kepada saksi korban, Wira Armani Fauzi.

Usai mendengar tuntutan jaksa penuntut, kepada majelis hakim terdakwa Fandi Hulu yang tidak didampingi penasehat hukum itu, mengatakan akan melakukan pembelaan dengan cara tertulis.

Setelah pernyataan terdakwa, hakim Candra lalu menunda sidang hingga tanggal 19 Desember 2018 mendatang dengan agenda pembelaan dari terdakwa.

Menurut pihak keluarga terdakwa, Fandi Hulu didudukan di kursi pesakitan karena tidak sanggup memberikan uang perdamaian kepada pihak keluarga korban.

Awalnya keluarga korban meminta uang perdamaian Rp 50 juta, namun pihak terdakwa tidak mampu dan hanya mampu memberikan Rp 30 juta ditambah 1 unit motor.

Baca juga: Kecelakaan Motor di Patam Lestari, 3 Orang Korban 2 Luka Parah

Diduga merasa tidak pantas apalagi mengingat biaya perobatan korban telah menghabis Rp 500 juta, keluarga korban akhirnya menolak dan melanjutkannya ke proses hukum.

Sebagaimana pengakuan Wira Armani Fauzi saat saksi bersaksi dipersidangan, kepada hakim ia mengatakan, katanya akibat kecelakaan malam itu, mata sebelah kirinya jadi buta.

" Kondisi saya saat ini sudah sehat, tapi mata saya sebelah kiri tidak bisa melihat lagi. Soal biaya perobatan, kata ibu, bapak menghabiskan sekitar Rp 500 juta," kata Wira Armani Fauzi saat sidang agenda pemeriksaan saksi.

Ketika ditanya hakim, apakah saksi korban telah memiliki SIM untuk berkendara, jawab saksi, tidak ada.

" Tidak ada yang mulia," ucap saksi masih berstatus pelajar itu.

Terhadap terdakwa, saat bersaksi di agenda pemeriksaan, Fandi mengaku kalau Ia sudah punya SIM.

Pada tanggal 30 Mei 2018 malam di persimpangan perumahan Sireaon, Patam Lestari, Sekupang, terjadi tabrakan adu kambing 2  motor dari arah berlawanan.

Akibat kecelakaan itu, 3 orang bergelimpangan di tengah jalan, kondisi korban Wira saat itu, telihat lebih parah luka dibagian wajah.

Tak lama dari kejadian itu, seorang warga yang melintas lalu membawa ketiganya ke RSOB Sekupang.

Atas kejadian itu, terdakwa disalahkan karena kecelakaan itu terjadi akibat terdakwa menyalip mobil yang ada di depannya.(Ag)