Wednesday, 12 December 2018

Panitera Terima Memori Banding Erlina, PH: Mudah-mudahan bisa secepatnya dikirimkan PT Pekanbaru


Manuel P Tampubolon bersama Hendrik saat di PN Batam, Selasa (11/12/2018).

Dinamika Kepri, Batam - Manuel P Tampubolon, Panasehat Hukum (PH) Erlina mantan Direktur BPR Agra Dhana, didampingi suami Erlina, Selasa (11/12), menyambangi ruang kerja Panitera Pidana di lantai II di Pengadilan Negeri (PN) Batam.

"Kedatangan kami ini untuk menyerahkan memori banding ke panitera, kalau soal pengajuan upaya bandingnya, itu sudah dilakukan pada tanggal 30 November 2018 lalu," ucap Manuel P Tampubolon sembari menaiki anak tangga menuju ruangan kerja Panitera PN Batam.

Baca juga: Diduga Diperas Habis-habisan, Tak Sanggup Setor Rp 1,2 Miliar Erlina Dilaporkan

Menurutnya, penyerahan memori banding kepada Panitera Pidana PN Batam itu yakni sebagai tindak lanjut terkait perkara Erlina yang belum inkrah di PN Batam, di mana sebelumnya putusan vonis 2 tahun penjara yang dijatuhkan oleh majelis hakim terhadap terdakwa Erlina, ditolak Erlina dan menyatakan banding.

Pantauan awak media, kedatangan PH Erlina langsung disambut oleh Nurlaili Panitera Muda PN Batam.  Setelah usai penyerahan MB dilakukan dan diberikan bubuhan leges bertanda tangan Bambang Budi Setiawan oleh Nurlaili, selanjutnya panitera muda pidana PN Batam itu, juga memberikan copyan berkas memori banding dari jaksa penuntut.

Tak hanya itu, diduga Nurlaili tidak nyaman dengan suasana karena saat itu begitu banyak wartawan yang menyaksikan prosesi penyerahan memori banding tersebut kepadanya.

Baca juga: Sadis, Dilaporan Polisi Ruginya Rp 4 Juta, Dakwaan Jaksa Rp 117 Juta

Usai penyerahan memori banding, Manuel P Tampubolon mengatakan, ia berharap memori banding yang sudah diserahkannya ke panitera itu bisa segera dikirimkan ke Pengadilan Tinggi (PT) Pekanbaru.

"Memori banding sudah kami serahkan melalui panitera. Mudah-mudahan secepatnya bisa dikirim ke PT Pekanbaru," kata Manuel.


Selain itu, kepada wartawan  Manuel P Tampubolon juga menerangkan lebih rinci terkait perkara yang belum inkrah di PN Batam tersebut.

"Kenapa terdakwa mengajukan banding, jelas karena putusan vonis 2 tahun yang dijatuhkan majelis hakim, tidak tepat, apalagi itu menggunakan dakwaan alternatif kedua. Artinya jika dakwaan alternatif pertama tidak terbukti, otomatis Erlina harus bebas demi hukum. Tetapi ini tidak, justru hakim malah menggunakan dakwaan alternatif kedua, membuat seolah-olah pasal yang didakwakan pasal subsidier," katanya dengan ekspresi penasaran.

"Tak hanya itu, terhadap putusan hakim, jaksa harus melakukan upaya banding karena vonis 2 tahun itu di bawah setengah dari tuntutannya yang sebelumnya menuntut terdakwa 7 tahun penjara denda Rp 10 miliar subsidier 6 kurungan penjara. Tapi itu tidak dilakukan, kalau kita bicara hukum, jaksa harus melakukan banding, bukan pikir-pikir," katanya lagi.

Baca juga: Bebas Sesaat Penuh Harapan, Ketua PN Batam tak Setuju Minta Erlina Ditahan Kembali

Pada tanggal 27 November 2018 yang lalu, majelis hakim yang diketuai  hakim Mangapul Manalu didampingi anggota Jasael dan Rozza, memvonis terdakwa Erlina 2 tahun penjara.

Walau pasal dakwaan alternatif pertama tentang perbankan yang dijeratkan jaksa penuntut terhadap terdakwa dinyatakan hakim tidak terbukti, namun majelis hakim berkata lain dan tetap menghukum terdakwa Erlina dengan menggunakan dakwaan kedua, menyatakan terdakwa terbukti bersalah melanggar pasal 374 KUHPidana Jo 64 ayat (1) KUHPidana, sementara sang pelapor Bambang Herianto, kabur entah kemana dan tidak pernah hadir bersaksi dipersidangan.  

Mirisnya lagi, sebelumnya Erlina dilaporkan ke polisi dengan kerugian bunga uang di BPR Agra Dhana Rp 4 juta, namun di dakwaan jaksa berubah menjadi Rp 117 juta.

Baca juga: Selain Salah Ketik, Hakim Mangapul Akui Kelebihan Masa Penahanan Terdakwa Erlina

Di dalam fakta persidangan perkara No. 612/Pid.B/2018/PN Btm itu, terungkap begitu banyak keanehan yang tidak bisa diterima akal sehat.

Perkara ini bergulir awalnya dari pihak BPR Agra Dhana yang sebelumnya telah menuduh terdakwa bahwa selama menjabat menjadi Direktur di BPR tersebut, telah menggelapkan uang perusahaaan Rp 420 juta.

Akhirnya dengan cara bertahap, Erlina lalu menyetorkan sejumlah uang ke BPR itu. Namun masih tetap saja kurang, bahkan Erlina sudah menyetorkan melebihi dari jumlah dituduhkan, yakni menyetorkan uangnya hingga Rp 929 juta.

Bahkan jumlah yang sudah disetorkan itu masih kurang sebanyak Rp 1,2 miliar lagi. Mungkin merasa telah diperas habis-habisan dan tak sanggup memenuhi permintaan pihak BPR itu, Erlina pun menghentikan penyetoran. Dan tak lama setelah itu, Erlina pun dilaporkan Bambang Herianto ke polisi dengan tuduhan kerugian bunga uang Rp 4 juta.(Ag)