Friday, 16 November 2018

Status Erlina jadi Tahanan Baru, PH Terdakwa Apresiasi Kinerja Mulyani Kalapas Perempuan Batam


Erlina saat dilepaskan dari Rutan Perempuan, Baloi, Batam, Rabu (14/11) malam.

Dinamika Kepri, Batam - Status penahanan terdakwa Erlina di Lapas perempuan klas II B, Baloi, Batam, Kepri, saat ini ternyata sudah berubah menjadi tahanan baru, Jumat (16/11).

Hal itu terungkap setelah pihak keluarga terdakwa membesuk terdakwa Erlina pada hari Jumat siang, tanggal 16 November 2018.

Kepada pihak keluarga terdakwa, pegawai Lapas mengatakan, saat ini terdakwa tidak bisa dibesuk lagi seperti biasa, karena statusnya sedang masa karantina.

Baca juga: Bebas Sesaat Penuh Harapan, Ketua PN Batam tak Setuju Minta Erlina Ditahan Kembali

"Untuk saat ini, terdakwa tidak bisa dibesuk karena statusnya telah menjadi tahanan baru. Itu dilakukan karena pada tanggal 14 November 2018 terdakwa sudah dibebaskan demi hukum. Namun karena dimasukan lagi pada tanggal 15 November 2018, makanya Erlina jadikan tahanan baru. Jadi untuk saat ini, Erlina masih tahap karantina dan tidak bisa dibesuk, kalau mau besuk, datang saja hari Kamis minggu depan," kata Hendry (suami Erlina=red) kepada media menirukan ucapan pegawai Lapas Perempuan, Baloi, Batam.

Surat pengantar penetapan perpanjangan penahanan terdakwa Erlina dari Pengadilan Tinggi Pekanbaru.
Menanggapi soal status penahanan Erlina yang sudah berubah menjadi tahanan baru, Penasehat Hukum (PH) terdakwa, Manuel P Tampubolon justru mengapresiasi tindakan yang dilakukan oleh Mulyani, Kalapas Perempuan, Baloi, Batam.

"Saya justru mengapresiasi tindakan ibu Mulyani yang menjadikan Erlina menjadi tahanan baru," ujarnya.

Menurutnya, terkait status penahanan Erlina menjadi tahanan baru, Kalapas telah melakukan tugasnya sesuai dengan surat pelepasan tahanan Erlina bebas demi hukum.

Baca juga: Sadis, Dilaporan Polisi Ruginya Rp 4 Juta, Dakwaan Jaksa Rp 117 Juta, Terdakwa Erlina Dituntut 7 Tahun Penjara Denda Rp 10 Miliar

"Yang menjadi pertanyaan saya saat ini ialah kenapa di dalam satu hari, PT Pekanbaru bisa sampai dua kali mengeluarkan surat penetapan perpanjangan penahanan terhadap Erlina," pungkasnya penasaran.

"Anehnya lagi, surat penetapan yang pertama salah, dan yang menandatangani surat tersebut adalah Panitera PT Pekanbaru, Hj. Meri Ulfa, SH.,MH, sementara surat perbaikan penetapan kedua yang kami terima pukul 23:50 WIB adalah surat pengantar yang ditandatangani oleh Panitera Muda Perdata, PT Pekanbaru, I.A.N Ratnayani SH.,MH yang mana di dalam suratnya dinyatakan, bahwa penetapan pertanggal 12 Oktober 2018 dan pertanggal 13 November 2018 akan diperbaiki, ditarik kembali dan tidak berlaku lagi, itukan aneh?," sambung Manuel penasaran.

Selain itu, Manuel juga mempertanyakan kewenangan Plt. Panitera Muda Perdata, PT Pekanbaru, I.A.N Ratnayani SH.,MH yang menyatakan surat penetapan Kepala PT Pekanbaru ditarik dan tidak berlaku lagi.

Baca juga: Hakim Perintahkan Jaksa Jemput Paksa Mantan Manager Marketing BPR Agra Dhana

Mengenai yang menandatangani surat penetapan perpanjangan penahan Erlina itu seorang Panitera Muda Perdata, kata Manuel itu tidak nyambung, karena perkara Erlina adalah perkara pidana, bukan perdata.

Pantuan media ini, selama terdakwa Erlina perkara dugaan penggelapan dalam jabatan di BPR Agra Dhana disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Batam, kelihatan tampak begitu banyak kejanggalan.

Kejangagalan itu terjadi sejak dari dakwaaan, perpanjangan masa penahanan, hingga ke tutuntan, dan paling parahnya, pelapor yang memenjarakan Erlina, Bambang Herianto tidak pernah hadir bersaksi di persidangan.

Baca juga: Diduga Diperas Habis-habisan, Tak Sanggup Setor Rp 1,2 Miliar Erlina Dilaporkan

Parahnya lagi, yang dilaporkan, kerugian BPR Agra Dhana adalah kerugian bunga uang Rp 4 juta, namun didakwaan jaksa penuntut Rp 117 juta.

Perkaranya adalah dugaan penggelapan dalam jabatan, namun jaksa terkesan memaksakannya menjadi perkara perbankan. Dan untuk memperpanjang masa penahanan Erlina dari PT Pekanbaru, diduga register perkara terdakwa sengaja dirubah dari Pid.B menjadi Pid.Sus agar peranjangannya disetujui, walau akhirnya soal itu, disebut hakim Mangapul Manalu saat sidang, salah ketik.

Diduga dalam proses perkara Erlina ada salah ketik berjemaah, karena dari penetapan perpanjangan penahanan pertanggal 12 Oktober 2018 dari PT Pekanbaru berkebangsaan perempuan disebut salah ketik, register pekara dari Pid.B jadi Pid.Sus salah ketik dan data detail penahanan Erlina di Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP) PN Batam di situs milik kebanggaan Mahkamah Agung tersebut, juga disebut salah ketik.(Ag)