Friday, 30 November 2018

Nahkoda Terbukti Bersalah Lakukan Penyeludupan, Tapi Kapal tidak Dirampas Malah Dikembalikan Kepemiliknya


Kedua terpidana.
Dinamika Kepri, Batam - Kendati Teddy Gotama dan Agustiar Bin Rahman dinyatakan terbukti bersalah melanggar undang-undang RI nomor 17 Tahun 2006 tentang perubahan atas undang-undang nomor 10 tahun 1995 tentang Kepabeanan jo pasal 55 ayat 1 KUHP dengan menjatuhi hukuman keduanya masing-masing 1 tahun penjara denda Rp 50 juta subsider 3 bulan kurungan oleh majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Batam, namun barang bukti berupa kapal KM Batam Indah – IV GT 148 yang digunakan untuk melakukan penyeludupan, tidak dirampas untuk negara.

"Satu unit sarana pengangkut kapal KM. Batam Indah VI, Tonase Kotor (GT) 148, penggerak Layar dibantu Mesin Mitsubishi 8DC.9 No. 384199-180 PK, ukuran 22,85 x 8,37 x 3,40 (m), dikembalikan kepada pemiliknya, Damiri Bin Thalib," Baca Hakim Dr.Syahlan dalam amar putusan di ruang sidang utama PN Batam, Rabu (28/11).

Sedangkan barang bukti berupa satwa dan tumbuhan, 909 ekor kura – kura yang tersisa dalam keadaan hidup sebanyak lebih kurang 37 ekor, 12 picis tanaman hias yang hidup sebanyak 11 picis, dikembalikan kepada jaksa untuk dihibahkan ke penangkaran.

Selain itu, 6 ekor burung perkutut yang tersisa dalam keadaan hidup sebanyak 1 ekor, 12 ekor burung Love Bird yang tersisa dalam keadaan hidup sebanyak 3 ekor dan 24 ekor iguana yang tersisa dalam keadaan hidup sebanyak 15 ekor, diminta majelis hakim agar dilepas liarkan ke habitatnya.

Mengenai barang bukti 1 ekor anak buaya, 872 ekor kura – kura, 14 ekor burung, 9 ekor iguana mati dan 1 picis tanaman hias yang sudah mati, diperintahkan hakim untuk dimusnahkan.

Sebelumnya kapal tersebut diamankan petugad Bea Cukai Batam pada Rabu malam tanggal 11 Juli 2018  sekitar pukul 22:00 Wib saat sandar di Pelabuhan resmi Batu ampar, Batam, Kepri.

Kedua terpidana dihukum karena terbukti bersalah karena mengangkut barang impor yang tidak tercantum dalam manifes sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7A ayat (2) dengan melakukan tindak penyelundupan.

Barang bukti tersebut dibawa dari Pasir Gudang, Malaysia. Terpidana Agustiar sendiri perannya adalah sebagai nahkoda kapal, sedangkan Teddy adalah suruhan dari orang yang bernama Yanto untuk membantu turut serta memaksukan barang tersebut ke Batam.

Terkait barang bukti kapal, harusnya dirampas untuk negara karena telah terbukti bersalah digunakan sebagai sarana untuk melakukan tindak kejahatan (penyeludupan=), namun itu tidak dilakukan.

Selain itu, vonis yang dijatuhkan oleh majelis hakim terhadap keduanya, lebih ringan subsider 1 bulan dari tuntutan jaksa penuntut Mega Tri Astuti yang sebelumnya menuntut 1 tahun penjara denda Rp 50 juta subsider 4 bulan kurungan penjara.(Ag)