Tuesday, 13 November 2018

Elmayuni Nababan Disidangkan, Pacar: Setelah Balik dari Malaysia, Dua Kali Kami Berhubungan Badan


Suasana sidang pemeriksaan saksi di sidang terdakwa Elmayuni Nababan, di PN Batam, Senin (12/11).

Dinamika Kepri, Batam - Terdakwa Elmayuni Nababan dugaan pembakar bayinya sendiri di tumpukan sampah depan rumah kosannya, di Perum Muka Kuning Permai II Jalan Bungaran Timur No.419, Buliang, Batu Aji, menjalani sidang pertamanya, di Pengadilan Negeri (PN) Batam, Senin (12/11) sore.

Di sidang pertama ini,  Jaksa Penuntut Umum (JPU), Nurhasaniati, SH membacakan dakwaan terhadap terdakwa.

Dalam dakwaan, terdakwa diancam pidana pasal 80 ayat  (3) , (4) Jo pasal 76 undang-undang RI No. 35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU No.23 tahun 2002 tentang perlindungan anak.

Setelah dakwaan dibacakan JPU, majelis hakim yang diketuai hakim Candra didampingi hakim anggota Redite Ika dan Hera Polosia, melanjutkan sidang ke agenda pemeriksaan saksi.

Ada pun saksi yang dihadirkan JPU yakni berjumlah 5 orang, 4 di antaranya teman se-kost terdakwa yakni Sampe Taruli Putra Pasaribu, Rosida Sihotang, Dewi Panjaitan dan Fransisco Gultom dan 1 orang pacar terdakwa, Herman Junias Harianja.

Menurut keterangan saksi Sampe Taruli (anak kos =red), jasad bayi itu ditemukannya ketika dia sedang membakar sampah di depan kos-kosanya, di Perum Muka Kuning waktu itu, Rabu tanggal 25 Juli  2018 sekitar pukul 8.00 Wib pagi.

Terdakwa Elmayuni Nababan (kiri), saat sidang didampingi Penasehat Hukumnya, Elisuwita.
 "Saya yang pertama kali menemukan jasad bayi itu. Saat itu saya melihat sampah menumpuk depan kos yang sudah mengeluarkan bau tidak sedap. Kemudian saya berinisiatif membakar tumpukan sampah itu," kata Sampe.

Lanjut saksi Sampe, kata dia, saat api menyala, dengan menggunakan kayu, ia lalu menumpukkan yang berserakan dan membersihkan sampah di sekitarnya.

Tak lama mengorek sampah dengan kayunya, ia lalu melihat sehelai kain warna orange sembari penasaran.

" Kulihat ada kain warna orange, merasa penasaran, lalu membuka balutan kain itu dengan menggunakan kayu, ternyata ada jasad bayi dan tali pusarnya pun masih ada. Lalu api saya padamkan, setelah itu saya memanggil teman-teman dan melaporkan temuan ke RT setempat," terang Sampe.

Dilanjutkan saksi Rossida dan Dewi,   katanya, setelah mereka melihat ada jasad bayi, karena tali pusar dan ari-arinya juga dilihatnya, mereka pun bergegas melaporkannya ke RT setempat.

 "Kami lihat itu jasad bayi, karena ada tali pusarnya dan ari-arinya juga, melihat itu kami pun langsung melaporkanya ke RT setempat," ujar saksi Rosida.

Lanjut Rosida, jasad bayi itu diketahuinya adalah bayinya terdakwa, karena ketika mereka diperiksa polisi dan dilakukan tes USG, kepada polisi Rossida mengakui, cewek yang tinggal di rumah kosan itu, cuma ada 3 wanita yakni dia, saksi Dewi dan terdakwa.

"Usai penemuan jasad bayi itu, Kami bertiga dibawa polisi ke RS Graha Hermine untuk tes USG. Lalu besoknya, hasil USG itu langsung keluar, dari hasilnya, kami berdua disuruh pulang, sedangkan terdakwa tetap tinggal untuk menjalani pemeriksaan polisi," terang Rosida.

Keempat saksi yang satu kos dengan terdakwa menjelaskan, bahwa tidak ada kecurigaan atau tingkah laku dari terdakwa.

"Kami tidak merasa curiga, soalnya terdakwa baru seminggu tinggal bersama kami. Terdakwa kos dilantai atas, kami di lantai bawah," ucap saksi Fransiskus.

Saksi Herman Junias Harianja sang pacar terdakwa mengatakan, bahwa ia sama sekali tak mengetahui jika terdakwa telah berbadan dua.

Menurutnya, ia sudah menjalin kasih selama 1 tahun 6 bulan dengan terdawa, namun setahun belakangan ini mereka berpisah, karena saksi pulang kampung untuk bekerja. Setelah itu, ia tidak mengetahui lagi apa saja aktifitas yang dilakukan oleh terdakwa.

"Sepengetahuan saya terdakwa pergi ke Malaysia, dan sekali sebulan pulang ke Batam," ujar Herman Junias Harianja.

Kata saksi Herman lagi, bahwa ia juga pernah menjemput terdakwa saat baru tiba dari Malaysia.

Ia menjemput terdakwa di pelabuhan Batam Center. Alasanya terdakwa padanya waktu itu, terdakwa baru pulang bermain dari Malaysia.

Kepadanya, terdakwa juga pernah meminta untuk mencarikan tempat kos-kosan baru. Dan saksi juga ikut memindahkan barang-barang terdakwa dari kamar kos yang lama.

 "Ketika saya jemput terdakwa, kami langsung ke kosan baru, di perumahan Muka Kuning, saya juga ikut memindahkan barang-barangnya," kata Harianja.

Harianja juga menyebutkan, bahwa dilihatnya ada perubahan fisik terdakwa,  pucat dan perut yang membuncit. Namun ketika ditanyanya soal perubahan fisik itu, terdakwa menjawabnya karena masuk angin.

Tak hanya itu, saksi juga mengakui bahwa selama bersama dengan terdakwa, sudah dua kali berhubungan badan.

 "Selama terdakwa balik dari Malaysia, kami sudah dua kali melakukan hubungan badan," kata Harianja bersaksi.

"Lalu setelah itu, pada malam tanggal 19/7/2018, saya pernah datang ke kosnya, saya lihat waktu itu terdakwa sedang sibuk membersikan ceceran darah di lantai. Kata terdakwa darah itu darinya karena lagi sedang datang bulan," lanjut Harianja menerangkan.

Kemudian hari Selasa (24/7), lanjut saksi mengisahkan, ia mencium bau busuk dari kamar sebelah terdakwa. Soal bau itu terdakwa berdalih dengan mengatakan, kamar tersebut bau karena selalu tertutup dan kurang ventilasi.

Dilihatnya, fisik terdakwa tidak seperti sebelumnya, perut tidak lagi membuncit dan baginya tidak ada kecurigaan sama sekali.

"Saya ketemu terdakwa besoknya di kantor polisi. Barulah terdakwa bilang kalau ia berbohong dan kemudian meminta maaf kepasa saya. Bahkan terdakwa juga tidak mau menyebutkan siapa yang membuatnya hamil," tutup Harianja.

Terdakwa Elmayuni Nababan didampingi Elisuwita penasehat hukumnya saat sidang, membenarkan semua keterangan para saksi.(Ril)