Saturday, 6 October 2018

Diduga Kebal Hukum, Oknum Pengusaha Scrap di Batam Nekat Angkut Muatan Berat tanpa Pengawalan Polisi


Dinamika Kepri, Batam - Akibat adanya mobil truck pengangkut muatan berat berjalan tanpa pengawalan polisi, membuat pengguna jalan jadi bertanya-tanya sehingga menimbulkan kemacetan.

Di negara kita tercinta ini tampaknya kini aturan hanyalah sebatas tinggal aturan saja.

Padahal, menurut pasal 162 ayat (2) UU LLAJ, kendaraan bermotor umum yang mengangkut alat berat dengan dimensi melebihi dimensi sebagaimana yang ditetapkan dalam pasal 19 UU LLAJ, harus mendapat pengawalan dari Kepolisian negara republik indonesia dengan dasar hukum undang-undang No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan angkutan jalan dan Keputusan Menteri Perhubungan No. 69 Tahun 1993 tentang penyelenggaraan angkutan barang di jalan sebagaimana diubah dengan Keputusan Menteri Perhubungan No. KM.30 Tahun 2002.

Demikian aturannya, namun kesannya aturan yang dibuat itu hanya tercatat di atas kertas bukan untuk dilaksanakan, mungkin demikian kata yang pantas ditujukan kepada salah satu seorang pengusaha besi tua (scrap) yang ada di Batam, yang mana pada hari Jumat (5/10) siang telah melakukan pengangkutan scrap melebihi ukuran casis mobil dari Tanjung Uncang menuju Batu Ampar tanpa ada pengawalan dari pihak kepolisian.


Akibat itu, pengguna jalan raya yang lain jadi kecewa dan sempat membuat kemacetan. Selain itu muatan yang dibawa truck tersebut juga berpotensi mengancam keselamatan pengendara lainnya.

"Itu barang scraf mau dibawa ke Gudang. barang itu dibawa dari TKA Tanjung Uncang," kata seorang pria yang mengawal (bukan polisi=red) muatan itu dari sejak keberangkatan hingga ke tujuan di salah satu gudang scraf di Batu Ampar ke awak media ini.

Ketika ditanya lagi, kenapa pihaknya tidak mengunakan pengawalan pihak dari kepolisian saat perjalanan, pria berkendara Toyota Fortuner warna putih BP 217 GO itu menjawabnya ada.

"Ada pengawalnya kok," jawab singkat dengan sikap tampak gugup.

Selain itu, ia juga membenarkan, scraf itu akan dibawa ke gudang milik inisial AK yang ada di Batu Ampar.


Terkait hal itu, ketika awak media ini mengkonfirmasinya ke AK, AK menjawab, itu bukan miliknya.

"Bukan punya saya," jawab AK singkat melalui ponsel selularnya, Jumat (5/10) siang.

Tak hanya itu, supir truck yang mengangkut scrap itu saat berhenti di persimpangan lampu merah Penuin, Nagoya, ketika ditanya awak media ini di mana polisi yang mengawal perjalanannya, jawabnya ada.

"Ada, yang kawal di belakang," katanya.

Katanya ada, namun pantuan awak media ini diperjalanan dari mulai Tiban Kampung hingga tiba di tiba tujuannya Batu Ampar, sama sekali tidak terlihat ada polisi yang mengawal.

Ironis memang, kendati sudah tahu barang muatan yang diangkut melebehi ukuran casis mobil truck, namun masih saja berani membawanya. Beruntung tidak ada timbul korban dari kenekatan itu.

Pantuan awak media ini, scrap yang diangkut tersebut berbentuk segi empat besi plat diduga dari lantai kapal.

Harusnya, setiap kendaraan yang melakukan pengangkutan muatan berat melintas di jalan raya, wajib memakai pengawalan dari pihak kepolisian untuk memberikan tanda atau suar bagi pengendara lainnya supaya lebih berhati-hati saat berkendara, namun itu tidak dilakukan oleh pengusaha scrap tersebut.

Ada dugaan oknum pengusaha scrap itu telah kebal dengan hukum.(Ag)