Wednesday, 31 October 2018

Diduga Diperas Habis-habisan, Tak Sanggup Setor Rp 1,2 Miliar Erlina Dilaporkan


Sidang terdakwa Erlina di PN Batam, Selasa (30/10).

Dinamika Kepri, Batam - Terungkap sudah kenapa Erlina bisa sampai duduk di kursi pesakitan Pengadilan Negeri (PN) Batam.

Terdakwa Erlina dipolisikan diduga karena tidak dapat menyanggupi permintaan pihak BPR Agra Dhana senilai Rp 1,2 miliar.

Fakta itu terungkap setelah terdakwa Erlina diperiksa majelis hakim di persidangan di PN Batam, Selasa (30/10) siang.

Kepada majelis hakim yang diketuai oleh hakim Mangapul Manalu, terdakwa mengatakan, ia dilaporkan ke polisi karena mau lagi diperas oleh pihak BPR Agra Dhana.

Baca juga: Makin Mumet, Surat Permohonan Penahanan Terdakwa Erlina Diduga Dimanipulasi

"Katanya ada temuan kalau saya telah menggunakan uang BPR Agra Dhana untuk kepentingan pribadi dengan total Rp 420 juta. Lalu pihak BPR Agra Dhana meminta supaya saya menyetorkan uang sesuai temuan itu, karena kalau tidak, saya akan dilaporkan ke polisi. Walau saya merasa tidak melakukannya, saya menurutinya karena saat itu ibu saya sedang mengalami sakit parah," kata Erlina.

Sambungnya, namun tak sampai di situ, dengan ancaman akan dilaporkan ke polisi, pihak BPR meminta uang lagi, sehingga total uang yang sudah  setorkan terdakwa ke rekening BPR Agra Dhana menjadi Rp 929 juta.

Setelah berjalannya waktu, pihak BPR Agra Dhana ke Erlina kembali meminta Rp 1,2 miliar.

Diminta menyetorkan uang sebanyaknya itu, dan diduga telah diperas habis-habisan dengan di bawah tekanan, Erlina pun tidak menyanggupinya, dan pasrah jika pun akan dilaporkan ke polisi.

Mengetahui Erlina tak kunjung melakukan penyetoran Rp 1,2 miliar ke rekening BPR Agra Dhana, Bambang Herianto lalu melaporkan Erlina ke polisi dengan tuduhan penggelapan dalam jabatan dengan kerugian bunga uang Rp 4 juta.

Baca juga: Selain Salah Ketik, Hakim Mangapul Akui Kelebihan Masa Penahanan Terdakwa Erlina

Aneh bin ajaib, yang diminta Rp 1,2 miliar tetapi di laporan polisi kerugian Rp 4 juta.

Kendati di laporan polisi (LP) kerugian BPR Agra Dhana Rp 4 juta, namun didakwaan jaksa penuntut Rp 117 juta.

Dan anehnya lagi, pada sidang pemeriksaan terdakwa, jaksa penuntut malah membahas yang tidak ada ditemuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang mana hasil temuan itu dituangkan dalam risalah hasil rapat dengan OJK sebelumnya.

Terkait uang yang telah disetorkannya itu, terdakwa juga mengatakan, ia pernah meminta bukti temuan itu, namun pihak BPR Agra Dhana, tidak mau memperlihatkannya.

Terdakwa juga mengatakan pernah menanyakan soal yang uang disetornya itu jurnalkan sebagai apa, namun lagi-lagi pihak BPR Agra Dhana tidak mau memberikan datanya.

Bahkan dengan tegas, kepada majelis hakim terdakwa mengatakan, ia tidak bersalah seperti yang dituduhkan.

"Saya tidak bersalah, karena selama bekerja, saya melakukannya sesuai SOP," kata mantan Direktur BPR Agra Dhana itu.

Baca jugaErlina Korban Dugaan Pemerasan Direksi PT. BPR Agra Dhana Melapor ke OJK

Tak hanya itu, tampa ada izin tertulis dari pimpinan Bank Indonesia (BI), rekening terdakwa maupun rekening nasabah Bank BPR Agra Dhana lainnya dibentangkan di persidangan.

Pantuan media ini, perkara Erlina terkesan aneh, yang dituduhkan pidana penggelapan dalam jabatan namun digandakan dengan pidana perbankan.

Parahnya lagi, Bambang Herianto yang melaporkan Erlina ke polisi tidak pernah hadir untuk bersaksi di persidangan.

Bahkan hakim juga telah memerintah jaksa penuntut untuk menjemput paksa pelapor, namun tak berhasil ditemukan.

Selain itu, register perkara terdakwa Erlina dari Pid.B berubah menjadi Pid.Sus.

Baca juga: Saksi Jerry Diamond Komisaris BPR Agra Dhana Bantah Surat Dakwaan JPU dan Akui tidak ada Izin dari BI

Perubahan itu diduga disengaja dilakukan hakim agar permohonan perpanjangan penahanan terdakwa dari Pengadilan tinggi Pekanbaru, bisa dikabulkan, karena jika Pid.B yang dimohonkan, kecil kemungkinan akan dikabulkan.

Soal register Pid.B berubah menjadi Pid.Sus, itu telah diklarifikasi hakim Mangapul Manalu, katanya itu salah ketik.

Sama halnya dengan surat perpanjangan penahanan terdakwa Erlina yang dikeluarkan Pengadilan tinggi Pekanbaru, di mana di dalam surat itu dicamtumkan terdakwa berjenis kelamin laki-laki dan berkembangsaan perempuan, kata hakim Mangapul, itu juga salah ketik.

Selain itu, masa penahanan yang dilakukan hakim terhadap terdakwa Erlina, juga telah melebihi durasi hingga 91 hari. Harusnya terdakwa bebas demi hukum, namun sampai saat ini, Erlina masih ditahan di Rutan Baloi, Batam.(Ag)