Thursday, 27 September 2018

Sidang Kapal Terbakar di PT. ASL, Terdakwa Dewi: Biaya Perobatan Korban dari Kami Semua


Saksi Aldi bersaksi di PN Batam, Kamis (27/9).

Dinamika Kepri, Batam - Setelah beberapa kali ditunda, sidang lanjutan terhadap dua terdakwa Direktur Utama (Dirut) dan Komisaris PT. Dynamik Overseas ( PT. DO) Ronald Robert dan Dewi Yulandari perkara terkait terbakarnya tanki kapal Tanker MT. Succes Energy XXXII di lokasi PT. ASL Tanjung Uncang, Batam pada tahun 2016 yang lalu dengan satu orang korban cacat seumur hidup bernama David Cristopher, hari ini digelar kembali di Pengadilan Negeri (PN) Batam, Kamis (27/9).

Pada sidang agenda pemeriksaan saksi yang diketuai hakim Dr.Syahlan ini, Jaksa Rumondang Manurung menghadirkan dua orang saksi, Aldi dari Disnaker Kota Batam dan Tankeng WNA   Singapura selaku Manager Safety PT.ASL Shipyeard Tanjung Ucang, Batam.

Saksi Tankeng.
Saat bersaksi dipersidangan, saksi Tankeng mengatakan, bahwa sepengetahuannya, katanya jika ada kecelakaan kerja di kawasan PT.ASL, perusahan PT.ASL selalu memberikan bantuan kepada pihak korban.

"Jika ada kecelakaan kerja di area PT ASL, setahu saya perusahaan selalu memberikan bantuan kepada korban," kata Tankeng.

Mengenai adanya kecelakaan kerja yang menimpa korban David Cristopher waktu itu, Tankeng mengetahuinya dari internal perusahaan.

"Saya tahunya dari internal perusahaan," katanya lagi.

Terkait perkerja safety di PT.ASL, kata Aldi tidak semua pekerja safety di perusahaan memiliki sertikat yang aktif. Kata dia, dari 7 orang asesor hanya 1 orang yang memiliki sertifikat yang masih aktif.

Mengenai pernyataan Tankeng yang mengatakan PT.ASL selalu memberikan bantuan bagi sharing  jika ada kecelakaan kerja di area PT.ASL, disangkal oleh terdakwa Dewi Yulandari.

"Itu tidak ada, karena biaya perobatan korban selama ini semuanya dari kami," tegas Dewi Yulandari dalam persidangan.

Dalam sidang ini, sama seperti sidang pada sebelumnya, kedua terdakwa ini didampingi oleh dua penasehat hukumnya dari Kantor Law Firm Hukum Edy Hartono & Warodat, Bintoro Arif Waskito dan Warodat.

Setelah mendengarkan kesaksian dari ke dua saksi, majelis lalu menunda sidang hingg ke pekan depan di hari yang sama dengan agenda pemeriksan saksi berikutnya.

Dalam perkara ini, ke dua terdakwa juga tidak ditahan.

Oleh jaksa penuntut umum (JPU), ke dua terdakwa dijerat ancaman pidana pasal 360 ayat (1) Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP dengan ancaman hukuman maksimal 4 tahun penjara denda Rp 400 juta atau pasal 186 ayat (1) jo Pasal 35 ayat (3) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. (Ag)