Thursday, 20 September 2018

Saksi Fitria dan Sutra Bersaksi Ucapan Bela Diri Tapi tak Bisa Tunjukan Barang Bukti Buat Hakim Kesal


Saksi Fitria saat memghadiri sidang terdakwa Erlina di PN Batam, Rabu (19/8).

Dinamika Kepri, Batam - Sidang lanjutan tindak pidana perbankan dan penggelapan dalam jabatan dengan kerugian bunga Rp 4 juta yang didakwakan terdahap Erlina, mantan Direktur Utama BPR Agra Dhana, kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Batam, Rabu (19/9/2018).

Setelah sebelumnya di sidang yang diketuai hakim Mangapul Manalu didampingi hakim anggota Taufik dan Rozza, telah memeriksa saksi Beny (Direktur) dan Sari Kurniawati (Manager Operasional) BPR, di sidang Kali ini,  Jaksa Penuntut Umum (JPU) Samsul Sitinjak dan Rosmarlina menghadirkan dua orang wanita saksi Fitria Puji Rahayu (teller) dan Sutra Eka Pratiwi (mantan accounting) BPR Agra Dhana.

Baca jugaSaksi Beni BPR Agra Dhana Diduga Ingin Permalukan Jaksa dalam Persidangan

Dalam persidangan ini, saksi Fitria yang sudah bekerja di BPR Agra Dhana sebagai taller sejak 2014-2017 itu menerangkan pernah mengeluarkan uang sebanyak Rp 20 juta dan Rp145 juta atas perintah terdakwa Erlina melalui Manajer Operasional, Sari Kurniawati.

Itu kata saksi Fitria, namun keterangannya tak didukung dengan adanya barang bukti.

Saksi juga juga mengatakan bahwa setiap pengeluaran uang ada bukti penarikan yang ditandatangani oleh terdakwa. Tetapi mirisnya, bukti dari semua ucapannya itu tak bisa ditunjukkan di muka persidangan.

Saksi Sutra (berkerudung) saat bersaksi di PN Batam.
Terhadap keterangan saksi, penasehat hukum (PH) terdakwa, Manuel P Tampubolon kembali mempertanyakan mengenai barang bukti perintah pengeluaran uang oleh terdakwa.

"Saat itu ada, tetapi saya tidak pegang." jawab saksi Fitria.

Kemudian Manuel mempertanyakan keterangan saksi dalam BAP yang bisa memberikan penjelasan secara rinci dan detail kepada penyidik, sementara dalam persidangan hanya mengentahui mengenai uang Rp20 juta dan Rp145 juta.

Baja juga: Apakah Sidang Terdakwa Erlina Masih akan Berlanjut?

"Waktu saat dipanggil Polisi, saya ditanyai dengan mencocokan sejumlah data-data. Yah saya jelaskan saja, tetapi yang saya lakukan dan tahu hanya uang Rp20 juta dan Rp145 juta," jawab saksi.

Mendengar keterangan saksi ini. Ketua majelis Mangapul Manalu juga tidak tinggal diam dan kembali mempertanyakan mengenai RAB dan KSL. Namun saksi tak bisa menjelaskan apa itu RAB dan KSL.

"Dari tadi anda bilang RAB dan KSL, apa itu? Keterangan anda ini banyak variasinya. Selalu bilang, saya hanya bawahan. Itu hanya cara anda menyelamantkan diri saja," kata hakim Mangapul kesal.

Sementara itu, saksi kedua Sutra menerangkan, selaku mantan accounting saat itu, katanya dia mencatat adanya transaksi uang keluar Rp 24 juta yang kemudian dijurnal sebagai pembukaan rekening bank atas nama Sari dan Bambang.

Lalu ada penarikan uang Rp 220 juta, yang dijurnal sebagai ke Bank Panin sebanyak Rp200 juta dan Rp20 juta untuk pembukaan rekening bank atas 4 karyawan.

"Yang nyuruh Sari. Katanya atas perintah terdakwa Erlina," ujar dia.

Masih kata saksi Sutra, ada beberapa transaksi pengembalian uang, yakni Rp76 juta, Rp 24 juta, Rp100 juta dan Rp200 juta. Uang itu disetor oleh karyawan BPR secara tunai dan disebut atas perintah terdakwa.

Menurut saksi, pengembalian uang itu dicatat dalam jurnal penarikan dari Bank Panin ke kas. Tetapi, menurutnya tidak ada uang keluar dari rekening Bank Panin, karena memang uang tersebut disetor tunai.

"Yang nyurus saya membuat pembukuan seperti itu Sari, tetapi katanya atas perintah terdakwa," katanya.

Lagi-lagi, barang bukti mengenai perintah tersebut tidak bisa ditunjukkan saksi maupun jaksa penuntut umum.

Terhadap keterangan saksi ini, Manuel meminta penegasan, pertanggungjawaban kinerja saksi langsung sama Direktur Uatama atau sama siapa?

"Saya bertanggungjawab kepada atasan saya, Sari," tegas saksi

Diduga merasa ada yang aneh dan bin ajib dalam perkara ini, sebelum menutup sidang, majelis hakim yang lalu memerintahkan JPU agar dapat menghadirkan saksi-saksi lainnya, seperti Bambang Herianto, sebagai pelapor dalam perkara ini.

Setelah mendengar keterangan kedua saksi ini, majelis hakim kembali menunda sidang sampai Selasa pekan depan.

Pantau media dalam sidang perkara kerugian bunga Rp 4 juta BPR Agra Dhana ini, ada yang ganjil seperti pisang dipaksa matang pakai karbet, karena selain saksi Beni pada sidang sebelumnya berusaha mempermalukan JPU dengan mengatakan alat bukti yang dibuat JPU bukan hasil audit internal dan juga bukan hasil dari OJK hingga mendakwa terdakwa dengan kerugian BPR Agra Dhana Rp 117 juta sementara di laporan Polisi (LP) Rp 4 juta.

Parahnya lagi, dari semua keterangan saksi Sari Kurniawati, Fitria dan Sutra juga tidak dapat dibuktikan dalam persidangan.(Ag)