Thursday, 6 September 2018

Saksi Beni BPR Agra Dhana Diduga Ingin Permalukan Jaksa dalam Persidangan


Saksi Beni.
Dinamika Kepri, Batam - Parah, di sidang terdakwa Erlina, saksi Beni Direktur Bank BPR Agra Dhana, Batam saat bersaksi dalam sidang pembuktian perkara dugaan penggelapan dalam jabatan di Bank BPR Agra Dhana, saksi Beni diduga seperti ingin mempermalukan jaksa dengan menyebutkan bahwa bukti bukanlah hasil auditnya melainkan hasil tracing olehnya.

"Itu bukan hasil audit. Saya tidak pernah melalukan audit internal, karena yang berwenang melakukan audit internal BPR Agra Dhana adalah Yeni. Itu hanya hasil tracing (penelusuran) saya lalu mencatatnya dalam matriks," cetus Beni Direktur BPR Agra Dhana saat bersaksi di Pengadilan Negeri (PN) Batam, Rabu (5/9).

Ketika PH terdakwa Manuel P Tampubolon menanyakan, di mana alat bukti Matriks yang dimaksudkan oleh saksi itu, saksi Beni menjawab tidak ada.

Biasanya dalam sidang, jaksa dengan saksi pelapor atau korban di dalam setiap perkara pidana, akan saling singkron, karena JPU adalah pihak hukum yang membantu pelapor atau korban mewakili negara untuk menuntut terdakwa, namun dalam sidang pemeriksaan saksi ini tampaknya tidak, saksi Beni selaku pelapor dalam perkara ini malah sebaliknya, seperti ingin mempermalukan jaksa Rosmarlina dalam persidangan, sebab ia mengatakan bahwa alat bukti tracing yang dijadikan alat bukti, bukanlah hasil auditnya.

Akibat tracing yang dilakukan oleh saksi, Erlina kini menjadi terdakwa, bahkan karena tracing itu pula, eksepsi yang diajukan oleh PH terdakwa, ditolak hakim, padahal hasil-hasil tracingnya itu tidak layak dijadikan alat bukti. Demikian kata PH terdakwa usai sidang.

Tak hanya diduga selain ingin mempermalukan jaksa dalam sidang, hasil tracing-tracing Beni dari pembukuan keaungan BPR Agra Dhana, juga telah membuat terdakwa menderita, jauh dari keluarga dan anak-anaknya.

Parahnya lagi, kendati Erlina sudah membayarkan melebihi selisih Rp 509 juta dari jumlah yang dituduhkan, Erlina tetap saja dilaporkan ke polisi.

"Saya sudah menyetorkan Rp 929 juta tetapi tetap saja kurang. Saya menyetorkan lebih, karena saya selalu diancam akan dilaporkan ke polisi," kata terdakwa dalam sidang.

Miris memang, hasil tracing saksi yang menemukan kejanggalan ada pemindahan uang dari rekening Agra Dhana di Bank Panin ke rekening Erlina sebesar Rp 420 juta di tahun 2015 itu diduga telah dimamfaatkan oknum pihak BPR Agra Dhana untuk memeras terdakwa.

Karena tidak mampu lagi memberikan, Erlina pun akhirnya dilaporkan ke polisi dengan tuduhan penggelapan uang dengan kerugian Rp 4 juta.

Yang dituduhkan sebelumnya rugi bunga Rp 4 juta, namun dalam dakwaan jaksa berubah menjadi Rp 117 juta.

"Kenapa bisa menjadi 117 juta, itu karena setelah dilakukannya tracing selanjutnya," kata Beni.

Soal adanya penyetoran yang dilakukan Erlina Rp 929 juta dengan cara bertahap, saksi Beni membenarkannya.

Dalam sidang saksi juga banyak mengatakan lupa dan tidak tahu, sehingga PH terdakwa Erlina lalu mengingatkan saksi Beni tentang tanggal penyetoran itu.

" Di tahun 2015 Erlina telah menyetorkan uang dengan rincian pada tanggal 28 Juli 2015 Rp 40.300.000, tanggal 29 Juli 2015 Rp 405.448.783, tanggal 13 Agustus 2015 Rp 226.313.030 dan tanggal 1 Oktober 2015 Rp 257.792.066. Itu dilakukan dengan cara bertahap dengan jumlah totalnya Rp 929 juta, apakah itu benar," tanya PH terdakwa ke saksi Beni.

" Itu benar ada, tapi saya lupa kapan waktunya," jawab Beni.

Dari hasil tracing saksi, Erlina yang sebelumnya telah dirumahkan oleh pihak BPR Agra Dhana, Erlina dipaksa membayar Rp 420 juta itu.

Dari temuan itu, Erlina dituduh telah menggelapkan uang perusahaan BPR itu Rp 420 juta, namun tidak tahu dari mana dasarnya, Erlina bisa dipaksa hingga menyetorkan uang hingga Rp 929 juta ke BPR Agra Dhana.

Kendati Erlina sudah menyetorkan uang sebanyak itu, Pihak BPR Agra Dhana tetap melaporkannya ke polisi.(Ag)